22 Oktober 2012

Alone



Sedih amat judulnya, Ay heuheu

Pernah ada dalam keadaan tidak sedang mencintai siapa-siapa? Lantas nama siapa yang kau sisipkan dalam setiap ingatanmu sehari-hari? Bukankah melewati hari dengan tanpa mencintai itu menjenuhkan? Yaa barangkali

Aku yang sekarang adalah aku yang sedang berusaha menjadi seseorang yang amat baik, pada siapa saja. Pada yang sempat mencintaiku, dan pada yang pernah aku cintai. Aku kembali mengingat nama-nama yang dulu sekali ada dalam masa lalu, dan mereken sederet nama yang tengah sangat baik sekarang.

Aku pernah dihadapkan dengan keadaan bertemu seseorang yang teramat baik, dan aku tak pernah bisa menyakiti meski aku tak mencintainya. Kondisi itu sulit, ketika ia bahkan mampu melakukan apa saja untukku dan aku tak pernah bisa memberi apa-apa untuknya.

Ternyata banyak hal yang aku lewatkan. Aku ingat pernah menjadi sangat jahat pada pria yang berlebihan menginginkanku. Padahal saat itu usiaku masih belasan. Entah sampai sekarang bagaimana pendapatnya tentangku, sebab ketika tak sengaja kami berpapasan dia masih memberikan senyum terbaiknya dan aku berusaha membalas dengan senyum terbaikku.

Percaya saja, banyak kisah yang dulu kita ingin simpan rapat-rapat karena malu akan menjadi sebuah kenangan lucu ketika tak sengaja saat ini berusaha kita ingat-ingat lagi.

Ya, aku bukanlah seseorang yang bisa mengingat apa-apa dengan mudah. Tapi sebuah kisah yang dulu pernah aku alami dan ketika itu berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang berarti, maka saat ini aku masih menyimpannya dengan baik. Bahkan sesingkat apapun kisahnya, aku bisa mengingat warna baju apa yang ‘seseorang’ kenakan ketika pertama kali tak sengaja berpapasan. Seseorang yang pernah aku cinta ketika itu. Bahkan, mengagumkan, aku bisa hafal wangi parfumnya setelah bertahun-tahun kenangan itu hilang

Mencintai itu bukan perkara main-main buatku. Bukan hal yang mudah aku lakukan. Ketika aku merasakannya, aku akan memperlakukan dengan baik, aku akan mencintai dengan benar, detail segala tentangnya. Sebab, mencintai adalah memahami. Paham situasi, paham kondisi siapa yang dicintai, bagaimana  keadaannya. Kita tidak bisa menolak pada siapa kita jatuh cinta, tapi kita bisa menyikapi dengan baik jika cinta kebetulan jatuh pada orang yang tidak tepat.

Saat ini, aku tidak sedang mencintai siapa-siapa. Tidak juga sempat berpikir siapa yang kelak akan aku cintai (lagi). Aku hanya sedang mengingat nama-nama yang pernah aku cintai dengan baik. Sebagai tanda, bahwa aku tidak semudah itu melupakan kenangan.

Siapa bilang tidak mencintai siapa-siapa itu tidak menyenangkan. Aku tidak mencintai siapa-siapa dan hidupku baik-baik saja sekarang

"Masa lalu"



“Seberapa baik kamu bisa mengingat masa lalu?”

“Aku tidak pernah mengingat-ingat masa lalu, menurutku masa lalu adalah hal yang tak perlu lagi diingat-ingat di masa sekarang. Bukankah yang harus dipedulikan adalah bagaimana menjadi diri kita saat ini, tak peduli apa dan bagaimana masa lalu kita dulu?”

“Aku tidak mengatakan kau harus ‘mengingat-ingat’ kenangan yang telah berlalu. Hanya bertanya seberapa baik ingatanmu akan masa lalu. Hey, masa lalu itu bukan untuk dilupakan, hanya saja memang tidak pantas untuk diingat-ingat. Sebab seberapa keraspun kamu mengingatnya mereka tidak akan pernah kembali dan sebesar apapun usahamu untuk membuangnya, mereka pernah ada dan terjadi dalam hidupmu, bukan?”

“Artinya kamu tidak bisa membuang bayangan masa lalu?”

“Mengapa harus dibuang, tidak dibuangpun mereka berlalu seiring berjalannya waktu. Dan mereka ada. Bagaimana kamu belajar bahwa apa yang kau lakukan hari ini adalah benar, bagaimana kamu bisa yakin apa yang kamu kerjakan hari ini tidak akan melakukan kesalahan. Tentu sebab kamu melihat masa lalu. Tentu sebab sedikit banyak kamu belajar dari bagaimana dulu kamu pernah merasa gagal. Dan, tanpa kamu sadari masa lalu sudah banyak memberimu pelajaran.”

“Bagaimana dengan masa lalu yang menyakitkan, apa itu juga harus jangan dilupakan"

“Hey, aku sudah bilang. Aku tidak menyuruhmu untuk tidak melupakan masa lalu, tapi juga tidak harus diingat-ingat. Tidak dilupakanpun mereka sudah jauh berlalu dan tanpa sadar kamu pernah merekam sebagian dari kejadiannya.”

***
Sepenggal percakapan yang saya dan diri saya sendiri lakukan. Ada sebagian pikiran yang menganggap masa lalu adalah masa yang ‘pantang’ untuk diingat dan pantas dilupakan. Dan sebagian pikiran lain menyatakan bahwa masa lalu adalah sebagian dari memori kejadian diri kita yang tidak sepantasnya diabaikan namun tidak lantas juga diingat-ingat sepanjang sisa hidup kita yang lain. Tidak begitu. Sebab sepahit, semanis apapun masa lalu, mereka hanyalah potret buram kejadian yang tak akan pernah kembali kita ulang.

Seseorang yang memiliki kisah hidup yang pahit di masa lalunya, tentu akan berusaha mengubur dalam-dalam kehidupannya di masa silam. Tapi, tentu saja semakin berusaha dilupakan kenangan itu akan semakin melekat dalam ingatan. Dengan usaha apa kamu berusaha lupa? Sekeras apa? Tentu saja mereka sudah berlalu dan akan tetap begitu tanpa kamu berbuat apapun. Menjadi diri yang saat ini tentu karena adanya masa lalu. Setegar apapun dirimu yang sekarang, sebab ada sebuah pengalaman di masa yang dulu pernah mengajarimu segala macam perubahan kehidupan.

Jatuh cinta, dan patah hati.

Saya sependapat dengan ucapan “seperti maut, jatuh cinta adalah peristiwa tak tertuga” tulisan ini milik mas Akbar

Kita bahkan tidak pernah bisa berpikir sebelumnya pada siapa cinta akan jatuh, bagaimana kuat rasa bahagianya apalagi memikirkan seberapa besar rasa sakit kehilangannya.

Mencintai orang yang pernah meninggalkan rasa sakit itu tidak perlu usaha keras untuk dilupakan atau memaksa dibuang. Sebab, mereka sudah berlalu. Setidaknya kita bisa memetik pelajaran tidak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah ‘si pembuat rasa sakit’ itu lakukan.

Masa lalu yang tak sanggup diulang itu sama seperti masa akan datang yang siapapun tak mampu membayangkan.

Pernah membaca kalimat semacam ini:
 “Jarum jam itu selalu mengingatkanku. Bahkan demi cinta, waktu tak pernah sudi kembali sedetik saja” ini milik mas Iyan

Dan ini benar. Tetap saja berjalan, sebab benar hidupmu adalah yang pada detik ini kamu rasakan, sedetik berikutnya bahkan kita tak sanggup menerka apa yang memang tak bisa kita duga-duga.

Tetaplah hidup dengan baik, dan mencintai dengan benar. Meski tidak dibuang, masa lalu tidak akan kembali berulang.

Cintai aku sebisamu, sederhana saja



Ketika hatimu patah, terbanglah. Karena setiap hati yang patah sesungguhnya menjelma jadi sayap peri. Pasang ia di punggungmu, lalu belajarlah mengepak (dan terbang tinggi) ~ salammatahari


Tulisan itu milik sundea, salah satu blogger aktif yang akhir-akhir ini aktif (juga) saya baca tulisan-tulisannya. Saya jatuh suka, sejak pandangan pertama.

Perkara patah hati, siapa saja pernah mengalaminya barangkali. Dari yang patah hati ‘berdarah-darah’ hingga yang biasa saja. tidak terkecuali saya. Jadi, kali ini mau menceritakan bagaimana ‘patah hati’ versi saya? Sebut saja begitu ya…

Jatuh cinta bukan sesuatu yang kerap saya lakukan berulang-ulang, dengan beberapa orang. Saya jarang jatuh cinta, sekali jatuh, akhirnya jadi susah lupa.

Di sini, saya akan menulis sebuah kisah saya yang barangkali sebenarnya berupa aib, tapi saya bahkan tidak terlalu percaya diri untuk menutupi keburukan saya selama ini. Meski hanya sekadar sebuah tulisan saya tidak bisa selalu menjadi seseorang yang terlihat paling baik, pun dalam kisah cinta. Tidak dituliskan, akan menjadi semakin beban dan merasa menjadi perempuan paling bersalah di dunia.

Ada kesalahan fatal yang pernah saya lakukan dalam hal mencintai, dulu sekali. Ketika seragamku masih putih abu-abu. Pernah menjatuhkan cinta pada seseorang yang telah termiliki, dan bodohnya, seseorang itu ikut menumbuh besarkan perasaan saya. Berasal dari rasa keingintahuan yang besar akan semua hal tentang dia, lantas berbuah kagum dan akhirnya tumbuh menjadi cinta. Terkadang, cinta memang tak tahu tempat dan waktu di mana ia harus jatuh. Dan, saya adalah salah satu pemilik cinta semacam itu. Entah dia, ada apa dengannya. Jelas-jelas sudah memiliki seseorang dalam separuh hidupnya, balas mencintai saya. Dan saya, entah di mana akal pikirannya, tidak bisa sama sekali balik arah dan menyangkal perasaannya. Damn!

Yang mengejutkan, bahkan hubungan semacam itu saya dan dia sama-sama simpan cukup lama. Sekitar lima sampai enam tahun, ini gila. Iya, saya yang gila. Bersamanya, saya tidak cukup memiliki kekuatan untuk berpikir ‘betapa menjijikannya saya’. Bersama dia, saya sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menggunakan akal sehat bahwa ‘ada yang saya sakiti di belakang sana’. Kebahagiaan menutupi seluruh pikiran dan naluri kewanitaan saya. Kebahagiaan yang sangat sangat sangat salah. Saya sadar, tapi tidak punya cukup keberanian untuk keluar.

Hingga akhirnya saya ditampar keras dengan keadaan bahwa ternyata hubungan  ini menyakitkan, sangat menyakitkan. Saya menyerah dan memohon pada seseorang yang paling saya cintai untuk meninggalkan saya. Awalnya, sangat sulit. Sulit bagi dia, dan lebih sulit bagi saya. Menghabiskan waktu yang cukup lama untuk saling memperdebatkan siapa yang lebih dulu meninggalkan siapa. Berjuta alasan dikeluarkan, nyatanya cinta yang ‘berlebihan’ sanggup meruntuhkan segala macam pertahanan. Saya teramat lelah, putus asa, bagaimana cara agar bisa mengakhiri semuanya. Sampai entah dia memiliki kekuatan dari mana untuk berkata-kata yang menyakitkan, dan saya sangat membencinya ketika itu juga. setelah lama waktu berselang, saya sadar itu adalah salah satu cara untuk saling melupa dengan cara yang sangat dipaksakan. Sebab kita saling mencintai dengan terlalu, maka harus berpisah dengan cara semacam itu. Rasanya sakit, dulu. Tapi, lebih banyak terima kasih, sekarang.

Ini fakta yang tidak pantas saya bicarakan, tapi terkadang kenangan pahit dan sebuah kesalahan besarpun pantas untuk diceritakan sebagai sebuah pembelajaran.

Saya pernah mencintai beberapa orang, dan berakhir dengan cara yang berbeda-beda, dari yang dengan menyisakan perasaan baik hingga yang sangat menyakitkan. Sejak itu, saya hampir tidak lagi merasa jatuh cinta. Jatuh yang sebenar-benarnya jatuh. Sebab, mencintai berlebih itu ternyata daya ingatnya akan seseorang tersebut cukup lama.

Dampaknya, saya pernah melakukan pengulangan terhadap orang yang mencintai saya dengan berlebihan. Saya sering berpura-pura menjadi ‘kasar’ dan membuat dia membenci saya, agar bersegera sadar bahwa saya tidak sebaik yang dia terima dalam pikirannya. Saya tidak sebaik itu untuk dicintai dengan terlalu. Hanya untuk diakui, bahwa saya membutuhkan penerimaan dengan baik. Saya sudah banyak memiliki cinta yang saya besar-besarkan sendiri, dan kesemua rasanya, pahit. Itu sebab, saya tak pernah sedikitpun ingin seseorang lain yang mencintai saya dengan berlebihan. Cukup dengan kemampuannya, maka akan sangat saya hargai perasaannya.

Sebut saja saya trauma dicintai dan mencintai seseorang dengan terlalu berlebihan, sebab itu rasanya sangat menyakitkan.

Untuk seseorang yang pernah saya sakiti, percaya saja, kelak kamu akan berterima kasih bahwa tidak mencintai saya dengan terlalu adalah yang terbaik untukmu.

Cintai saya dengan sederhana saja.

15 Oktober 2012

Céline Dion - Parler à mon père



Ini tentang Celine Dion, yaa sebut saja penyanyi idola saya. Setelah lima tahun beristirahat, kini ibu 3 anak ini kembali merilis album terbaru berbahasa Perancis yang berjudul 'Sans Attendre'. Untuk melahirkan lagu dengan lyric dan melodi yang sempurna, Celine melibatkan beberapa artis papan atas seperti Jacques Veneruso, Lus Plamondon, David Esposito, Maxime Le Forestier, dan Stanislas.


Single pertama yang berjudul "Parler a mon Pere" sukses ia bawakan dan sudah berhasil menduduki peringkat pertama dalam chart beberapa negara di Eropa. Seperti apa lagunya, silahkan play dalam video di atas. Seperti apa lyricnya, berikut petikannya"

Je voudrais partir avec toi

je voudrais rever avec toi
Tojours chercher l'inaccessible
Tojours esperer l'impossible
Je voudrais decrocher la lune
Et pourquoi pas sauver la terre
Mais avant tout

Je voudrais parler a mon pere
Parler a mon pere

Artinya, (kira-kira) ia menyatakan bahwa "aku ingin berlari dan bermimpi, selalu berusaha mencapai apapun keinginanku. Tak pernah berhenti berharap (bahkan) pada sebuah kemustahilan yang bisa diraih. Aku ingin meraih bulan dan menggenggam dunia. Tapi lebih dari itu, dari semua yang ku inginkan adalah aku ingin berbincang denganmu, ayah. Aku ingin bercerita denganmu"

Yup, sebab lagu tersebut khusus ia dedikasikan untuk almarhum Ayahnya yang meninggal pada tahun 2003 lalu.

Rencananya album ini akan mulai beredar November 2012 mendatang. Tidak hanya album berbahasa Perancis, bersamaan dengan itu Celine juga akan mengeluarkan album berbahasa Inggris yang berjudul Water and Flame.

Bagi para penggemar setianya (seperti saya) kabar semacam ini tentu saja sangat menggembirakan. Betapa tidak, kita sudah menunggu hampir lima tahun setelah ia tidak mengeluarkan lagu-lagu baru. Dan bahkan beberapa show-nya pun terganggu beberapa tahun, karena gangguan pita suara dan kelahiran dua putera kembarnya Eddy dan Nelson 2010 kemarin.

Celine is back...!

9 Oktober 2012

Kita Temenan Aja



“Jam berapa?” kataku
“ku jemput jam empat, jangan telat. Atau aku akan sangat marah”
“Haha, baiklah baiklaahh”

Sesaat setelah telpon ditutup, berlari kecil riang menaiki anak tangga, bahkan tak sengaja lututku yang memang sedikit jauh dari mata kaki kejedot pinggiran tembok

“Aduuh, hihi bodoh” aku berlari kecil sambil sedikit tertatih lantas masuk kamar dan mengunci pintu rapat-rapat, klik.

Lemari kayu kuning emas berdiri di samping jendela kamar diapit tembok dan meja rias kecoklatan. Ku buka tergesa dan mengambil beberapa pakaian, mematut-matut dengan bibir tak henti menyungging senyum paling cantik.

Baju berenda kupu-kupu, rok merah jambu, celana jeans abu-abu, kemeja putih berkerah biru. Ah, aku pakai yang ini saja, bukankah kau suka warna jingga, dan aku juga punya sepatu sandal merah bata, tampaknya pas.

Ini baru setengah tujuh, tapi kebahagiaan benar-benar menghilangkan kesadaranku separuh. Tidak ingin makan apa-apa, begini salah, begitu juga. Masih ada beberapa jam waktu yang bahkan bisa kugunakan untuk bolak-balik Bandung – Jakarta. Tapi rasanya kebahagiaan ini harus dirayakan seharian sebelum saat itu tiba

Bagaimana tidak, kau seseorang yang selama ini aku suka tiba-tiba mengatakan ingin mengajakku jalan-jalan dan “ada sesuatu yang ingin ku katakan” itu isi telponmu barusan yang paling membuatku penasaran, yang membuatku seharian blingsatan mirip cacing kepanasan.

Apa yang ingin dia katakan? Aku beberapa kali bertanya di cermin dengan memasang wajah paling bahagia di dunia. Aku mulai menyiapkan kata-kata untuk memberi jawaban atas pertanyaanmu yang mulai ku duga-duga. Mengingat itu pipiku malu merona, padahal tidak ada siapa-siapa

Tepat pukul empat, aku sudah berdiri di depan pintu rumah dengan segala kebahagiaan membuncah. Ku lirik jam dipergelangan tangan kiri sambil menolah ke ujung jalan beberapa kali.

Setengah jam setelahnya, awan mulai mendung menggantung

Aku resah dan mulai menggerutu
Setengah jam berikutnya rintik hujan mulai berjatuhan membasahi pekarangan. Ku ambil ponsel dan menatap layar kosong tanpa pesan. Ingin rasanya menelponmu saat itu, tapi “ah, barangkali kamu terjebak macet di jalan”

Pukul lima lebih dua puluh, setelah akhirnya aku benar-benar merasa putus asa dan hendak masuk rumah. Tiba-tiba sedan hitam terparkir di luar halaman, seketika kegelisahku hilang
Tak peduli hujan mulai besar, aku berlari-lari membuka pintu pagar lantas masuk ke dalam mobilmu dan duduk bersandar.

Bahkan aku tak sempat menanyakan “kenapa telat?” sebab melihatmu seketika aku lupa segala, dengan kaos hitam dan jeans biru, duuh sangat tampan.

Kau tak banyak bicara, aku juga. Hanya sibuk menerka-nerka apa isi di dalam dada. Bahkan, kita sudah bersama-sama sejak duduk di bangku TK, ini konyol, atau memang ini cinta

Kita berputar-putar di sekitar taman kota yang mulai ramai, kebetulan ini sabtu malam. Membeli beberapa camilan, bercanda seperti biasa, dan tiba-tiba kau menggamit tanganku “Kita ke pantai yuuk” katamu, aku mengangguk ragu.

Pukul Sembilan, setengah jam setelah kita duduk di tanah berpasir dan tak mengatakan apa-apa. Kelap-kelip lampu perahu di tengah laut, di ujung sana. “Indah yaa” kau membuka pembicaraan, aku meng’iya’kan.

“Barangkali ini saatnya, kita sudah sangat lama saling mengenal bukan. Tapi kau sendiri tahu, aku laki-laki paling payah untuk masalah wanita, terutama masalah perasaan. Itu sebab aku beranikan diri bicara terlebih dulu padamu, sahabat terdekatku”

Pembicaraan terhenti, raut wajahmu datar, raut wajahku bertanya-tanya dengan dada bergetar

“Winny, gadis berkaca mata yang pernah kita jumpai beberapa kali saat pameran photography di sanggar galeri. Kau ingat bukan?”

Aku mengangguk

“Aku mencintainya, sejak dulu, sejak pertemuan itu. Sudah sangat lama sekali kan? tapi aku tak punya nyali untuk katakan. Kamu mau membantuku? Ah, kau pasti mau membantuku”

Aku mengangguk dan berusaha memberikan senyum terbaikku detik itu. “Pasti, aku pasti membantumu” Aku meyakinkan

“Ah, leganya. Sudah ku duga, kau pasti akan membantuku dalam masalah ini, sebab kau satu-satunya sahabatku yang paling mengerti.”

Kau menepuk pundakku berkali-kali, tersenyum bahagia

“Aku adalah satu-satunya sahabatmu yang paling mengerti” Aku memalingkan muka, ada yang menetes dari ujung mataku sebelah kiri.

5 Oktober 2012

Chatting-an Absurd O_+



Berapa banyak tulisan saya yang menceritakan Paris, Prancis. Sebab begitu cintanya pada Negara tersebut. Kali ini yang ingin saya ceritakan adalah karena pada suatu hari terlibat obrolan ngelantur tentang akan dimulainya petualangan hidup dengan usia yang nanggung, dengan beberapa teman

Sebab, memang kita sering melakukan percakapan yang kadang kurang penting dan lebih ke-berkhayal- maka terjadilah obrolan kurang lebih isinya sebagai berikut:

Diawali dari falafu

Bbm ini berawal dari cerita haha-hihi nge-gosipin penulis, gosipin timeline twitter, planning jalan-jalan, backpacker-ing, sampai akhirnya ngegosipin nasib kita berdua, akan jadi apa setelah sama-sama merasa jenuh dan ingin sesuatu yang menarik.

Fa       : Ya, kita jadi TKW aja yok ke Korea, atau ke Eropa sekalian, atau minimal Australia
Aya     : haha, ayuuk. Eh, aku ada sih beberapa teman orang Prancis.
Fa       : Nah, tanyain aja bisa bantuin kita gak kerja di sana. Rasanya kok aku pengen pergi dan memulai semua yang baru di tempat yang baru tapi yang jauh sekalian.
Aya     : sama, aku memang dari dulu pengen ke sana. Belajar, kerja di sana. Tapi temenku yang di Prancis aja malah kerja di sini fa, di Indonesia. Lah, kita malah mau ke sana.
Fa     : seriusan, kalo sendiri belum tentu dijinin, tapi kalo ada teman pasti boleh. Kamu beneran mau kan? aku juga punya sodara tinggal di Jerman sama Swiss. Tapi mahal sih yaa pasti. 11 jutaan gitu ke Inggris kalo gak salah
Aya     : sebelas juta *straight face* terus kita di sana ngapain, belum tau?
Fa     : ya itu dia, makanya harus jelas ada yang mau bantu kasih kerjaan.  Banyak yang diurus sih pasti, untuk tinggal, ijin tinggal.
Aya     : iyaa fa, kalo gak jelas bisa abis uang banyak, di sana gembel -______-

Ini obrolan absurd kedua, juga dengan salah satu teman saya yang lain. Berawal dari sms tentang jodoh
Tika    : kak Ay, kapan pulang kampung?
Aya     : belum tahu, insya Allah idul adha yaa J
Tika    : hmm, betah banget sich kak di Jakarta, ntar apalagi kalo udah menikah dan dapet jodoh juga di sana.
Aya     : amiin, yaa gimana nanti aja. Aku malah maunya pergi ke luar negeri sekalian sich.
Tika   : eh, kemana kak. Aku juga mau, pengen cari beasiswa ke luar. Eropa sekalian, aku pengen ke Prancis
Aya    : lah, aku juga. dari dulu memang rencanain ke sana. Tapi bingung, banyak yang mesti diurus, butuh uang banyak. Kudu kumpulin gaji berapa bulan dulu untuk bisa ke sana. Orang tuaku sih pasti ijinin aja, Tik.
Tika   : yuk ah kaaak, ayoook. Aku mau banget ke sana, study, kerja, dapet jodoh, punya anak, baru pulang ke Indonesia lagi.
Aya    : hahaa, terus uangnya dari mana neng?
Tika   : iyasih (._.”)
Aya    : hahahaaaa

Duh, yang ngekhayal pada bisa banget yaa. Jarang mikir akan seperti apa hidup di sana. Sebenarnya hidup di Negara sendiri itu yaa tetap lebih menyenangkan, namun ingin menemukan pengalaman-pengalaman hidup yang baru itu memang kadang menggoda. Terutama ketika berbincang dengan teman yang satu tujuan.

Bismillah aja kali yaa, mudah-mudahan sesekali bisa ke sana nanti. Amiin 

Cinta yang keliru


Banyak draft tulisan terabaikan, banyak kertas kosong yang tak sempat dituliskan
Cinta, kadang membuatku enggan melakukan apa-apa
Banyak kesia-siaan yang telah dilewatkan tanpa merasa bersalah
Cinta macam begitu yang barangkali disebut “Cinta yang keliru”

3 Oktober 2012

J’ecris parce que J’aime ca


“Seberapa burukpun tulisan kamu, jangan berhenti menulis”
Kata-kata itu saya lupa pernah membaca, atau pernah mendengar di mana. Tapi efeknya luar biasa sampai sekarang. Semakin banyak menulis, semakin kita paham di mana letak kesalahan tulisan kita. Semakin banyak membaca, makin mengerti ada banyak kepala yang bisa menuangkan ide luar biasa dan tulisan indah melalui jari jemari mereka.

“Sigh, tulisan gue gak ada apa-apanya”

Biasanya berawal dari gumaman semacam itu yang membuat kita seketika down, dan ogah nulis lagi. Ini yang bahaya, syndrome ‘menyerah sebelum berusaha’.

Bagi penulis pemula macam saya, gejala-gejala semacam itu sudah pasti ada dan sangat biasa. Malu memposting tulisan yang ternyata (menurut kita) ‘buruk rupa’. Enggan memulai bagaimana mengawali tulisan seperti tulisan si ini, si anu. Ya ya yaaa… itu lumrah, wajar saja. Tapi jika kita sempat berpikir mungkinkah penulis terkenal macam Stephen R. Covey, Enid Blyton, J.K Rowling, Stepahine Mayer, Nisholas Sparks atau kita lihat karya penulis legendaris Pramoedya, setara Gol A Gong, Andrea Hirata dan nama-nama besar lain mereka langsung bisa menulis se-menakjubkan itu? Tentu saja tidak.

Tapi tetap saja menulis itu tidak mudah, bingung menentuka tema, stuck di tengah-tengah cerita, terlalu banyak ide sehingga kabur dan tak bisa disatukan semua, bagaimana membuat awal dan ending cerita, memberi judul, bahkan menulis kalimat awal saja sering jadi penghambat dalam proses menulis. Tidak hanya itu, masih ada lagi alasan yang lebih bisa menjadi senjata pamungkas, ‘sibuk’. Tidak punya waktu untuk menulis adalah alasan paling ampuh yang dibuat untuk menghibur diri sendiri demi melihat sudah beberapa bulan blognya karatan.

Beberapa teman sering mengeluh “Susah mendapatkan ide, padahal saya ingin sekali menjadi penulis terkenal”. Ada lagi yang bilang “Gue susah bikin kalimat awal di cerpen gue, ay” atau “Gue gak bisa bikin dialog yang keren, yang oke, yang enak dibaca. Makanya malas lagi menulis”

Hmm, alasannya beragam dan hampir sama. Sama dengan saya, maksudnya. Tapi, jika mengeluh itu tidak disertai dengan menulis, lah, percuma kali. Sudah mengeluh, tidak bisa begini, tidak bisa begitu, tapi buka laptop cuma online dan ber-haha-hihi di jejaring sosial mah sama aja kali.

sering-sering blog walking itu seruuuu...!!!
Manfaatkan media online dengan membuka blog-blog teman yang aktif menulis misalkan, zaman secanggih ini jika membeli buku tidak mampu, atau malas. Kita bisa mendownload e-book novel-novel yang memang sudah disediakan penulisnya untuk bisa diunduh. Gampang kan?

Selain banyak membaca buku yang menjadi satu-satunya kunci menjadi penulis. Membaca beberapa karakter tulisan di timeline twitter-pun, lumayan. Banyak kosakata, diksi yang bisa kita curi setiap hari. Lantas tidak sampai di situ, kita coba mulai menulisnya sedikit-sedikit, biar jelek yang penting nulis. Kalau malu diposting, jadikan saja koleksi pribadi yang setiap hari kita koreksi, kan bisa.

Saya punya banyak draft cerpen hingga puluhan yang sampai saat sekarang belum berhasil diselesaikan. Cari ide lagi, alasannya. Tidak apa, memang begitu cara satu-satunya menjadi penulis pemula.

Sharing dan berkumpul dengan komunitas menulis yang ‘sealiran’ dengan kita itu akan sangat berpengaruh dan memiliki banyak manfaat, tentu saja waktu luang. Berbincang dan bertukar tulisan, sama-sama mengkritik dan belajar dari pendapat teman. Terbiasa melakukan hal-hal semacam itu, akan sangat menyenangkan.

Yuk, giat menulis lagi, jangan berhenti!

Akan ada banyak saya buat tulisan semacam ini, nanti jika ada waktu luang lagi. Sebab bentrok dengan jadwal syuting dan kurang tidur adalah alasan klise saya yang paling bisa diandalkan, haha selamat siang.

28 September 2012

Jakarta, pukul empat sore



Pukul empat sore, sudah memasuki musim penghujan di penghujung bulan September. Di balik kaca restoran mini yang sengaja dipesan dengan seorang kenalan lama, beberapa anak kecil berbaju longgar menenteng payung di kiri kanan untuk sekadar mendapat seribu dua ribu rupiah dari pejalan kaki yang membutuhkan jasa payung tumpangan.

“Kamu terlihat lebih dewasa ay”
“Oya?” ucapku berbinar, seperti anak kecil yang mendapat pujian ‘kamu cantik’ dari orang tuanya.
Bahu kekarnya mengangkat dan tersenyum, dengan senyum khas yang memperlihatkan kedua dekik di pipi kiri kanan yang (dulu) pernah sangat aku suka dan susah dilupakan #eeaa
“Ya, jauh lebih cantik dan tidak kekanak-kanakan lagi. Tapi sepertinya masih manja yaa?” matanya yang bulat menatapku lekat
Aku tersenyum, malu.
“Sudah berapa lama gak ketemu, ay?”, “Hampir lima tahunan yaa?” dia menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkannya.
“Hampir, kok tumben ke Jakarta mas? Gak ngabarin sebelumnya juga, untung saya lagi gak sibuk, hee”
“Beda yaa sekarang, sudah ‘sibuk’. Dulu waktu kenal sih masih suka-sukanya maen Barbie kan yaa, masih suka Celine Dion?”
“Haha, ya kali saya juga makhluk hidup mas. Bisa tumbuh juga, masa kecil terus haha, hmm masih inget aja kalau saya suka Celine Dion?” ku mainkan jari di bibir gelas berisi coklat hangat kesukaanku yang masih mengepul asap. (Sengaja masalah Barbie tidak ku jawab, sebab sampai sekarang juga masih suka, malu sudah terlanjur dipuji dewasa hihihi)
“Aku sering baca-baca tulisanmu ay, tulisanmu cantik”
“Oya? Terima kasih. Sekalian kali kalau muji. Masa tulisannya doang yang disebut cantik, haha”
“Terus, aku harus muji orangnya cantik juga gitu?”
Aku memperlihatkan senyum yang paling lucu untuk menarik perhatiannya
“Kamu selalu terlihat cantik, di  mataku, ay. Itu sebab aku selalu gak mau ketemu kamu, kan. Takut jatuh cinta lagi”
Aku tersedak
“Gimana kabar, Adith, mas?” alihku
“Sudah punya pacar kali, haha”
“Haha masa sih, sekecil itu?”
Enggak kecil kali, ay. SD kelas tiga”
“hmm”
“Ohya, gimana kabar laki-laki yang sering kamu ceritakan?”
Aku tersenyum masam, “Yaa gitu deh
“Kenapa? Bodoh aja kalo dia gak mau sama kamu”
“Mungkin malah saya yang bodoh. Selalu suka sama dia, meski gak tahu dia suka apa enggak sama saya” aku menunduk perlahan
“Gak usah sesedih itu juga kali ay, haha. Kamu bayangkan berapa laki-laki yang jauh lebih sedih kamu tolak cintanya”
*straight face*

“Mas, mau langsung pulang?”
“Iya, penerbangan jam 7 nanti”
“Hati-hati, kabar-kabari kalau ke sini lagi”
“Saya gak akan ketemu kamu lagi lah”
“Kenapa?” aku kaget polos
“Takut malah jadi suka”
“yeee, hahaha. Salam buat Adhit dan mbak jangan lupa”
“Baiklah, terus menulis yaa. Suatu saat kamu pasti akan menjadi penulis hebat dan cantik. Dan, ketika itu jangan lupa sama teman lama”
“Aamiiinn, ya ya yaaa… doakan saya mendapat suami yang pantas untuk saya, mas.”
“Pasti, aku pamit ay”
Saya diberi oleh-oleh khas kota seberang “Tanda mata dari kampung” katanya
*

Obrolan singkat dengan ‘kenalan lama’. Tidak terlalu banyak yang diceritakan, pertemuannya mendadak dan waktunya juga gak banyak. Laki-laki dewasa itu adalah salah satu laki-laki yang pernah saya jatuh cintai, duluuu sekali. Saat seragam sekolahku masih putih biru
Bagaimanapun juga, aku adalah seseorang yang tidak begitu saja mudah menghapus kenangan masa lalu. Meski dulu cintanya hanya sebatas ‘cinta masa kanak-kanak’.
Sebab yang saya bisa hanya menulis, beberapa cerita nyata sepertinya lebih bisa dikenang lewat tulisan. Cerita ini tidak terlalu penting mungkin, tapi kelak, beberapa kejadian hari ini akan mudah aku ingat di beberapa tahun kemudian.

Dan sebab, tentu saat ini tidak ada seorang pun yang aku jatuh cintai selain kamu #eeeaa #tetepaaay

27 September 2012

Biarkan cinta itu diam


Untukmu

Waktu baru saja menunjuk pukul lima, tapi rinduku sudah semalaman terjaga.
Sekawanan embun pagi yang setia menetesi hati yang paling sunyi, hatiku, yang tetap diam mencintaimu diam-diam.

Cinta diam seperti apa lagi yang tak bisa aku ragukan ketahanannya? Yang seperti ini, seperti caraku mencintaimu. Jangan salah, aku bisa saja lantang dan lancang menyatakannya saat kapanpun, cukup menepuk pundakmu dan bilang “hey, saya cinta kamu” hahaha semudah itukah? Bukan masalah mudah, tapi rasanya keangkuhan jauh lebih menyelimuti dari pada rasa malu

Bahkan angkuh dalam cinta itu sedikit perlu, bukankah cinta yang jatuh bahkan enggan mengaduh di tempat di mana ia bersimpuh.

Apa sebab aku teramat mencintaimu? Wajar saja, kamu punya kemampuan agama yang bagus, kamu cerdas. Hanya itu? Tentu saja tidak, ada banyak kelebihan yang kamu punya, tapi aku rasa tidak perlu harus tahu selain dari alasan utama itu, segala tentangmu aku pasti menyukainya. Sebab terkadang untuk mencintai seseorang kita tidak perlu banyak alasan mengapa cinta kepadanya harus dijatuhkan.

Diam seperti apa yang disukai embun? Barangkali seperti cintaku yang cinta pada caraku mencintaimu. Dingin, halus, tanpa banyak alasan ini dan itu.


Sedang matahari saja tahu, berapa kali aku pernah (tidak sengaja) bertemu denganmu, hanya satu, dua, tiga..., ya baru sekali ternyata, namun cinta yang jatuh terlalu kuat hantamannya, lucu yaa? Begitulah. Karena itu aku meyakini cinta diam-diamku bukan disebabkan oleh seringnya pertemuan, aku hanya mencintaimu begitu saja, tanpa banyak alasan. Bakan, andai ditanya ‘apa yang aku tahu tentangmu?’ aku hanya menggeleng malu bahwa tak banyak yang aku tahu darimu.

Barangkali cinta yang ku miliki sedikit konyol untuk beberapa orang, namun akan ada yang menyebut indah bagi sebagian lain. Tapi, apapun pendapatnya aku tidak terlalu banyak pedulikan. Caraku mencintaimu, bahkan tidak mengganggu siapa-siapa bukan?

Ada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa “cinta tidak harus memiliki”, dan aku tidak menyukai kalimat itu sama sekali. Jika tidak mampu aku miliki kenapa aku harus cinta? Yaa yaa beda pendapat sebab beda kepala. Bodoh jika aku lama-lama mencintaimu dan tidak ingin memiliki, tentu saja ingin, tapi aku lebih menurut pada takdir. Takut membantah apalagi ingkar, karena aku bisa apa?

Begini saja, aku mencintaimu baik-baik dan percaya akan ada cinta baik yang akan membawaku pergi. Bukan terlalu percaya diri, aku hanya tidak ingin berburuk sangka. Rasanya hidup terlalu rumit jika separuh hati digunakan untuk berpikir hal-hal sulit.

Aku mencintaimu seperti ini, sesekali isyarat rindu kan ku buat menjadi gumpalan kertas dan jauh-jauh ku lempar, berharap kau dapat menangkap isyaratku dengan benar. Kamu begitu saja, tetap dengan caramu. Sebab, meski bahkan andai kita saling cintapun belum tentu takdir sepakat menyatukan kita, sekali lagi, aku bisa apa?

Dari aku, yang mencintaimu

26 September 2012

Celine Dion



Wah, menulis ini saya bahagia. Yaa kadang, saya sering menemukan kebahagiaan tiba-tiba, tak terduga. Sederhana, teman saya tiba-tiba memberi DVD salah satu album lagu-lagu penyanyi favorite saya sepanjang masa Celine Dion

Yup, hampir lupa. Diantara beberapa postingan blog, belum pernah menceritakan penyanyi idola. Mengakui, bahwa memang saya tidak mudah mengagumi tokoh, public figure apalagi selebritis manapun. Rasanya mereka semua adalah mengagumkan dengan karya-karya mereka, tetapi Celine Dion adalah satu-satunya penyanyi favorite saya.

Berawal dari mengenalnya (yakali saya kenalan gitu, haha) duduk dibangku sekolah dasar melalui lagu “My heart will go on” yang kala itu menjadi sound track film fenomenal Titanic.  Setelah itu dan setelahnya kemudian, dengannya saya jatuh cinta. Seperti cinta saya ke hal-hal yang lain, saya menyukai untuk mengetahuinya detail. Meski pada akhirnya saya berpikir bahwa tidak harus tahu semua tentangnya pun saya tetap suka. Ya, begitulah kadang memang untuk mencintai seseorang saya selalu berpikir bahwa tidak harus selalu tahu semua hal tentang yang bersangkutan.

Celine Marie Claudette Dion atau Celine Dion lahir di Kanada, 30 Maret 1968. Wanita yang mengawali karier sebagai penyanyi berbahasa Perancis ini berkali-kali membuat saya selalu berdecak kagum setiap melihat aksi panggung karena suaranya yang keren. Memiliki koleksi lagu-lagunya mulai dari berbahasa Perancis (yang sebagian saya tidak tahu artinya), lagu-lagu terlaris dalam bahasa Inggris, bahkan kegiatan-kegiatan sehari-hari Celine dengan keluarganya, saya punya, keren yaa saya hee #biasakaleee

Rene, Eddy, Nelson
23 Oktober 2010 lalu, Celine melahirkan dua putra kembar yang sangat lucu setelah kelahiran putra pertamanya Rene Charles Angelil. Kedua bayi kembar itu diberi nama Eddy dan Nelson. Lengkap sudah kebahagian perempuan yang berusia lebih dari 40 tahun itu memiliki tiga putra yang gagah dan cakap dari pernikahannya dengan Rene Angelil, yang juga merupakan manager Celine.
Celine Dion's familly
Banyak berita yang bisa didapat tentang Celine Dion, namun sebab saya tidak sedang membahas biography penyanyi favorite saya tersebut, karena saya hanya ingin menuliskan bahwa betapa saya selalu menyukai semua tentang Celine Dion. Menyukai semua lagunya, menyukai cerita-cerita tentangnya, tidak mengharapkan apapun selain menyukai begitu saja.

Lagu favorite saya dari Celine Dion adalah goodbye’s the saddest word yang ia persembahkan untuk mamanya tercinta dan untuk sekalian mama pada umumnya. Dan juga lagu send me a lover. Meski pada halnya semua lagu dia saya suka.

Celine Dion, adalah satu-satunya penyanyi favorite saya, selainnya, tidak ada heee

Nb: saking mengidolakan dan hafal lagu-lagunya, salah satu teman sering memanggil saya "my Little Celine Dion" hihiii
 *memutar lagu “mama” ~ Celine Dion

Senja, kopi dan ingatan tentangmu



Senja hilang separuh, kopi gelas ketigaku masih penuh. Tegukan kedua, baru tersadar kopi kali ini sedikit kelebihan gula, ah, aku kurang suka.

Hujan di luar cukup deras untuk menerbangkan anganku yang sempat tertahan.

Adakah cinta yang lebih baik melebihi ini? Barangkali ada, entahlah. Sebab yang aku tahu, yang terbaik adalah caraku mencintaimu. Perlahan, diam, bahkan ketika hatiku menjerit, bibirku kelu tak mau tahu, yaa seacuh itu.

Tegukan ketiga, manis pekatnya sudah tak ku hirau lagi. Aku lebih mencemaskan hati yang semakin lama semakin terasa getir, menahan sabar menanti takdir, akan apa kelak yang ia dapat dalam penantian paling akhir.

Kesetiaan, siapa yang tahu. Siapa peduli dengan pertahanan sekuat ini, se-mengagum-kan ini.

Tegukan terakhir, hujan sedikit reda, senja benar-benar telah pergi. Aku bangkit berdiri, perlahan meninggalkan setumpuk gelas kosong yang menyisakan sepi.

Aku menyadari, bahwa hingga hari ini cinta yang ku punya belum jua menemukan pemiliknya.

September kedua



Langkahku tertahan, berhenti perlahan.  Menoleh ke belakang, tengok kiri kanan, lho tiada siapa-siapa. Tapi tadi terdengar betul, sayup suara memanggil namaku, meski belakangan sadar di sini tiada seorang pun aku kenal.

Angin senja yang akhirnya menyadarkanku bahwa di tanah pijakan ini terlalu dingin untuk berangan-angan. Atau memang kenangan itu sudah tak pantas lagi diingat, terlalu usang.

Perjalanan kali ini terasa lebih jauh, meski kesadaranku tentangmu sudah hilang separuh. Ini kabar baik, aku bisa melupakanmu dengan baik. Tidak secepat itu, ini adalah September kedua setelah aku putuskan melupakan luka-luka, istirahat sesaat.

Jalan kecil panjang berbatu, hanya rumput dan warna warni bebungaan sejauh mata memandang.

Ini hanya sebuah kota khayalan, kota tempat pikiranku mengasingkan diri. Di sini, cinta akan tidur sementara waktu, menenangkan dirinya sendiri.

Hingga tiba saat nanti, aku bangun dari tidur panjang dan bisa mencintaimu kembali.

18 September 2012

Mueeza


Ketika menulis ini, saya sedang harus merelakan salah satu anak kucing saya di rumah meninggal, hiks. Ini adalah kali ketiga saya kehilangan kucing-kucing kesayangan saya.

Dulu sekali, ketika duduk di SD kelas tiga pertama kali saya memiliki kucing lucu, saya beri nama “Sun” artinya matahari. Dengan bulu putih dan sedikit dipadu warna hitam di bagian badan, ekor dan telinga sebelah kiri. Sun, adalah anak ketiga dari kucing kakek saya. Ibunya gemuk, tapi anaknya kecil mungil, menggemaskan.

Saking sayangnya, saya ajak tidur sekasur. Meski kadang setiap pagi, saya baru tahu ternyata dia sudah kabur tidak betah saya selimuti. Seperti ibunya, yang sayang dan setia pada kakek saya. Sun, ikut setia ikut saya, belakangan saya pikir mungkin bukan karena setia tapi setengah saya paksa ikut kemana-mana.

Almarhum kakek saya adalah seorang yang rutin mendidik saya bagaimana merawat seekor kucing, naik kelas empat, saya diceritakan sebuah kisah bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan hewan kesayangannya.

Kakek saya cerita panjang, tapi saya lupa. Dan, bagian ini yang ia ceritakan berulang-ulang
“Rasul punya kucing yang diberi nama Mueeza, Beliau mencintai hewan lucu ini. Bahkan saking cintanya, ketika Mueeza tidur di atas jubahnya, Rasul memotong bagian lengan jubah hanya agar tidak ingin mengganggu tidur kucing kesayangannya. Ketika Nabi pulang, Mueeza bersujud di hadapan Muhammad SAW, dan beliau mengelus kucing kesayangannya tiga kali usapan”
Ini hanya sebagian kecil cerita Rasul dan kucingnya, ada banyak yang lain tapi ini potongan kisah yang saya suka. Betapa ternyata Nabi tercintapun mencintai hewan yang juga sangat saya cintai.

Si manis, nama kucing kesayangan kakek saya. Padahal wajahnya gak manis-manis amat juga sih. Dia hanya nurut perintah kakek saya, sedikit agak manja dan tahu ada orang yang tidak dikenal masuk ke rumahnya. Sedikit ada cerita, ketika saya menginjak kelas 1 SMP, kakek saya meninggal dunia. Dan, si manis jatuh sakit tak bisa pergi jauh dari tempat tidur alm kakek saya. Dua minggu setelahnya, si manis meninggal menyusul majikannya. Saya menyaksikan betapa si manis sangat mencintai kakek saya sebab paham tuannya memperlakukan dia dengan amat sangat baik.

Tapi cerita yang menyedihkan, justru jauh sebelum itu. Sun, kucing mungil kesayangan saya justru meninggal saat saya duduk di kelas empat. Ketika saya tinggalkan seminggu berkemah, dan ternyata dia tidak pernah pulang ke rumah ketika malam. Hingga saya pulang, sepertinya selama seminggu itu ia salah pergaulan. Dengan wajah yang tidak terurus dan lebih sering mengeong di atap rumah tetangga sebelah. Sepertinya sun sudah mengenal jatuh cinta, itu adalah saat paling menyebalkan. Sun, tidak berumur panjang. Kurang dari setahun bersama-sama dengan saya, dia meninggal karena kecelakaan.

Dan yang saat ini meninggal adalah, Cattie. Anak kucing berbulu kuning yang tinggal bersama ibu saya. Beliau bilang, Cattie sakit. Dan saya tidak sempat melihat untuk yang terakhir kalinya.

Di sini, itu sebab saya jauh lebih banyak galau sebab barangkali terlalu kesepian tidak punya hewan peliharaan. Saya takut bawa kucing masuk ke kost-an. Takut, tidak terawat dengan benar. Pergi kerja pagi pulang malam, bahkan lebih sering menginap di studio jika ada syuting malam #inicurhat. Lantas, bagaimana dengan nasib kucing saya kelak (._.”)

Tapi kecintaan saya pada kucing ini tak pernah bisa hilang, nanti jika sudah punya rumah hewan yang paling pertama kali saya bawa masuk adalah ‘Mueeza’.

17 September 2012

Kereta Api Pukul Tujuh Pagi


Tong teng tong teng…
“Perhatian… perhatian…”
Ah, acuhkan…  itu bukan keretaku
Aku membetulkan letak duduk, menaikan bahu lebih tinggi ke atas pembatas kursi.
Angin lembut menerpa ujung rambut hitamku, menyapu sekeliling, melelapkan mimpi

Langkahku ringan, tanpa alas kaki. Ku tarik sedikit gaun putih bersih dengan hiasan manik-manik berkelap kelip agar tidak menyentuh tanah berpasir. Riang, tanpa beban, tak henti senyum tersungging dari bibir yang dipoles pewarna merah muda tipis-tipis.
“Duhai, kamu cantik sekali” sapa beberapa pasang mata yang berpapasan denganku. Aku tersenyum malu-malu. Mahkota di kepalaku hampir jatuh, ku seimbangkan terburu-buru, lantas berlari kecil menujumu
Lamat-lamat dan perlahan semakin jelas, aku melihat kau berdiri di tepi danau, sangat gagah. Apa yang kurasa saat itu, tak terlukiskan, tak sanggup ku tuliskan.
Langit cerah, awan berarak riang, air danau jernih dihiasi bebungaan warna warni dan pohon-pohon rindang di sisi kiri kanan. Kau dayung perahu kecil ‘kita’ menuju hillir, perlahan-lahan, menjauh dari tepian, tenang.
“duhai, kau cantik sekali” katamu
Aku merunduk, tersipu. Beruntung, merah pipiku luput kau perhatikan karena segera kau beralih menunjuk sekawanan anak-anak burung di tepian, saling bercicit, berebut mencari makan.
“lucu” katamu
Aku mengangguk setuju, sambil sesekali melirik malu-malu “Ah, aku tak pernah habis-habis mencintaimu”
Ada banyak kata indah yang kau ucap saat itu, sayang memoriku tak sanggup mengingat satu-satu, atau memang kenyataannya apa yang keluar dari bibirmu semua selalu indah, menurutku.
Perlahan, kayuh dayungmu melambat. Tidak, bahkan berhenti, tepat di tengah danau
Tak ada suara apapun, bahkan angin seolah enggan berhembus menerbangkan kebahagiaan. Aku ingat, perlahan kau menggenggam jemari dan lembut merengkuh kepalaku.
“Ini gaun pengantin terindah” bisikmu, sekali lagi aku tersipu dan semuanya terasa menyenangkan
Aku bisa merasakan genggamanmu perlahan merenggang, dan akhirnya benar-benar kau lepaskan.
Aku menyadari, sepi, aku sendiri sekarang
“duh, dimanakah kau, sayang?”
Beberapa teriakan ingin ku keluarkan, namun entah kenapa suaraku tiba-tiba hilang
Hilang disapu suara berisik lokomotif kereta api, ini masih pukul 7 pagi.
Keretaku datang, perlahan aku bangkit berdiri… mencari-cari pegangan antara ruang sadar dan alam mimpi. Lantas berbaur masuk dengan para penumpang, berdesakan.

Kau tahu, aku hanyalah gadis buta yang jangankan melihat gagah kemeja pengantin yang kau kenakan, bahkan di mana keberadaanmu pun tak jua aku temukan.

Sedang kau, aku tahu betul. Kau hanya laki-laki bisu yang jangankan berbisik “Ini gaun pengantin terindah”, bahkan mengucap cintapun kau tidak pernah.

Kereta api pukul 7 pagi, mimpiku selalu berulang, di sini, setiap hari

*memutar instrument wedding bell, depapepe

Tulisan ini dibuat, tentangmu, dan khayalan-khayalanku. Tentang kebutaan cinta, dan kediamanmu yang membimbangkanku. Sedikit lebih lega setelah menuliskan, atau memang menulis itu melegakan dan satu-satunya obat penawar segala keresahan.
Terima kasih, kamu. Sudah membuatku tidak pernah bisa berhenti mencintai dan memberiku banyak mimpi