14 Oktober 2019

[Food] REVIEW : Yorichi, Makan Minum Sepuasanya Cuma Rp 100.000 di Depok


Resto All You Can It hadir lagii... Hohoho

Buat kamu para pemburu resto AYCE murah macam keluarga saya, dan kebetulan berdomisili di area Depok dan sekitaranya. Ada lagi nih rekomendasi tempat makan dan minum sepusasnya murah meriah.

Yorichi BBQ & Shabu-shabu yang sukses di Bogor sekarang ada di Depok Guys.

Dengan harga Rp 100.000-an aja, kita bisa makan daging sekenyangnya, dan minum sekembungnya.

Restoran ini terdiri dari 2 lantai, lantai bawah biasanya untuk pengunjung yang memilih menu a la carte. Sementara buat yang gragas gragas dan punya hobby makan banyak alias all you can it, ada di lantai atas.

Tempatnya lumayan cozy, walaupun ga luas-luas amat. Cenderung ornamen gelap dengan grafis di tembok nuansa hitam, dan meja-meja yang berdekatan tanpa sekat, dengan alat penghisap asap yang di pasang di tiap meja.

Yang agak aneh, ini kan restoran Korea tapi wallpaper-nya bergambar ala Jepang. Ehehe ya udah lah ya ga masalah juga.


Ada dua pilihan tempat duduk, mau duduk di kursi atau lesehan. Karena saya bawa anak kecil, saya pilih lesehan karena biar gampang mobile-nya.

Seperti di Jan-Je Sapi Depok yang pernah saya review di sini, pelayanan Yorichi juga pakai system pay first, alias bayar duluan. Jadi begitu masuk ke restoran, kalian bakal ditanya sudah reservasi atau belum, mau pilih menu paket yang mana, kemudian bayar deh.

Para pelayan akan nunjukin kursi kita duduk di mana, dan dijelaskan peraturan-peraturan makan di sini. Termasuk ada apa aja menunya, dan kena charge berapa kalau menu-menu itu gak habis.


Untuk menu, di sini agak lebih bervariasi dibandingkan di Jan-je Sapi. Ada daging ayam dan daging sapi, dengan pilihan marinated manis asin, manis, asin gurih, agak spicy, dan daging sapi plain

Untuk menu matangnya, ada toppokki, oden, beef teriyaki sama japchae atau bihun korea.



Pilihan dipping-nya ada bumbu sambal, saus, kecap asin dan minyak wijen.

Secara rasa, cukup enak kok, walau tidak terlalu special. Tapi ada daging yang justru malah agak alot, saya lupa tanyakan ini daging apa. Minumannya hanya ada dua jenis, macha green tea dan ice / hot tea.



Untuk shabu-shabu, kuah shuki-nya ada dua, kaldu dan tomyam. Kaldunya enak, tomyamnya pedes, gurih, seger.



Cuma ada hal yang jadi kritik nih, pada saat makan, restonya kehabisan persediaan daging. Untuk orang yang lambungnya panjang banget, ga kenyang-kenyang seperti suami saya. Ngerasa rugi banget, karena waktunya kepake buat nunggu daging doang. Jadi kebuang deh beberapa menit, ya sekitar 15 menit ada kali, sampe akhirnya dagingnya restock.

Overall worth it dengan harga 100rb perorang sampe puas, dengan waktu yang diberikan selama 90 menit.

Buat kalian yang mau makan di sini, bisa datang ke Jl. Ir H. Juanda No. 18, Beji, Depok, pas di tanjakan jalan Juanda, yang mengarah ke lampu merah Margonda.

Restoran ini buka dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam.

Cuss meluncur!

11 Oktober 2019

[Book] REVIEW : Norwegian Wood, Haruki Murakami. Tentang Kebebasan, Kesepian, dan Kematian


Judul : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Mei 2013 – Cetakan 4
Tebal : 426 halaman
“Jika kamu membaca buku yang sama dengan yang dibaca oleh orang kebanyakan, maka cara berpikirmu hanya akan sama seperti mereka.”
Blurb

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut daam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

Review

Membaca Norwegian Wood, harus bersamaan dengan mendengarkan "Norwegian Wood" The Beatles. Lebih terasa dalam dan kesendiriannya.

Berkisah tentang Toru Watanabe yang menceritakan kembali kisah masa hidupnya ketika masa kuliah di tahun 60an akhir. Pria penyendiri yang hanya punya dua sahabat dalam hidupnya, Kizuki dan Naoko, sahabat sejak kecil sekaligus kekasih Kizuki.

Suatu hari, tanpa sebab dan tanda apa-apa, Kizuki bunuh diri. Di usianya yang ke-17. Membuat Watanabe dan Naoko terpukul. Bahkan Naoko sempat membenci Watanabe karena saat-saat terakhir dalam hidupnya, Kizuki justru memilih menghabiskan waktu bersama Watanabe.

Setelah kematian Kizuki, Watanabe melanjutkan kuliah ke Tokyo dan mencoba melupakan semua kenangannya. Watanabe masih jadi seorang penyendiri, tidak peduli lingkungan sekeliling, waktunya hanya dihabiskan untuk membaca buku di kamar.

Hingga akhirnya suatu waktu Watanabe bertemu lagi dengan Naoko, yang sudah lebih baik perasaannya, lebih dewasa, lebih anggun. Merekapun jadi akrab lagi, sering jalan, ngobrol, dan semakin lama Watanabe mulai menyukai Naoko. Sepertinya Naoko juga.

Singkat cerita, hubungan mereka semakin dekat, tak terpisahkan. Sampai pada suatu malam Naoko dan Watanabe tidur berdua. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Karena setelah itu, traumatik Naoko kembali hadir, hingga ia hilang arah dan mengasingkan diri ke Ami Hospital, rumah sakit jiwa di atas pegunungan yang jauh dari peradaban dunia. Untuk menenangkan diri, di sana ia dirawat oleh dokter sekaligus temannya, Reiko.

Watanabe yang stress dengan keadaan Naoko namun sangat mencintai wanita itu akhirnya melampiskan diri dengan terus belajar di kelas tanpa absen, kerja paruh waktu, makin banyak membaca buku. Hingga ia akhirnya berkenalan dengan Nagasawa, seorang mahasiswa tajir melintir yang hidupnya bebas, dan banyak berhubungan dengan beberapa perempuan.

Watanabe pun akhirnya ikut merasakan dunia bebas seperti Nagasawa. Sering keluar dari asrama untuk pergi ke club, minum, tidur dengan banyak perempuan, walau besoknya ia menyesal.

Suatu hari, Naoko menulis surat dan meminta Watanabe datang ke Ami Hospital. Watanabe sangat bahagia, dan mengunjungi wanita yang sangat dicintainya itu. Di sana ia pun berkenalan dan akrab dengan teman sekamar Naoko, Reiko-san.

Di tengah kerumitan hubungannya dengan Naoko, Watanabe bertemu dengan Midori. Teman kuliahnya yang tomboy, mandiri, keras kepala, dan bicaranya ceplas-ceplos. Berbeda dengan Naoko yang lembut, anggun, cantik dan pendiam.

Namun justru sifat berbeda Midori yang membuat Watanabe tertarik, merekapun akrab, dan semakin dekat. Watanabe juga menceritakan Midori pada Naoko. Namun tidak bisa menceritakan Naoko pada Midori.

Midori yang lama-lama mencintai Watanabe, tak keberatan menunggu lelaki itu yang masih sangat mencintai Naoko.

Watanabe dilema, ia terjebak dalam peraaan sangat mencintai Naoko, namun juga tidak ingin kehilangan Midori. Hingga suatu hari, karena kabar Naoko tak kunjung datang, hingga tak sadar Watanabe menyakiti Midori dengan tak memedulikannya.

Midori tahu kalau Watanabe mencintai Naoko, tapi ketika bersamanya, ia ingin Watanabe sedikit memperhatikannya. Nyatanya Watanabe sangat acuh. Midori marah hingga beberapa bulan pada Watanabe.

Watanabe pun menyadari hidupnya sepi tanpa Midori, dan kesepian semakin jelas terasa ketika tak ada kabar berarti dari Naoko. Perasaannya semakin tidak jelas. Dan kabar itupun datang...

Naoko yang ia harapkan sembuh, yang ia sudah pesiapkan rumah masa depannya, yang ia tunggu kepulangannya dari rumah sakit jiwa, gantung diri di hutan Ami Hospital.

Watanabe sangat terpukul, depresi, hingga ia memutuskna untuk meninggalkan Tokyo dan melanglang buana tanpa arah.

Ia sadar, selama ini Naoko tidak pernah benar-benar mencintainya.

Kisah tragis yang ditulis Haruki Murakami begitu menyiksa, menghentak-hentakan perasaan. Membuat siapapun yang membacanya ikut merasa kacau, seperti isi kepala Watanabe.

Konflik yang berpindah-pindah, cerita kelam, tentang cinta, kematian, depresi, kelainan seksual, semua perkara yang berhubungan dengan psikologi pada umumnya.

Sampai lembar terakhir, alur cerita dan kelanjutan hidup Watanabe diserahkan kepada pembaca. Bebas mau menafsirkan jenis takdir yang seperti apa yang ia pilih.

Masterpiece. Salah satu buku favorite saya.

Buat kamu yang kurang suka cerita 'dewasa', hati-hati dalam buku ini ada banyak adegan 'panas' tertulis secara gamblang. Meski tidak begitu vulgar. Tapi kalo yang belum menikah, ga usah bayangin yang enggak-enggak deh hehe

Btw, Norwegian Wood juga sudah di-filmkan tahun 2010 lalu
Cari aja kalo mau nonton!

29 September 2019

[Food] REVIEW : Restoran 499, Chinese Food Legendaris di Bandung

Fotonya agak gelap ya, maklum diambil malam hari hehe
Punya usus panjang yang bisa makan banyak tapi gak kenyang-kenyang gak? Coba makan di Restoran 499 yuk!

Yuhuu review kuliner kali ini, saya hadirkan sebuah restoran chinese food yang merupakan salah satu tempat makan legendaris di Kota Bandung. Konon restoran ini sudah ada sejak 1968 lho





Buat yang beragama muslim, tenanggg, di sini menunya 100% halal kok. Dan yang pasti uenaakkknya polll.

Beneran deh enak banget makanan-makanan di sini. Tapi emang kayaknya ga cocok buat dinner atau nge-date sama pasangan. Karena selain tempatnya juga gak santai, agak panas, dan kurang cozy untuk berlama-lama apalagi buat nyatain cinta, menu di sini juga buanyak banget porsinya.

Jadi, pas kalo kamu datang ke sini bawa keluarga besar. Dan yang pasti bawa anggota keluarga yang makannya banyak, biar gak mubazir kebuang gitu makanannya.

Saya baru pertama kali ke sini, bareng keluarga, rame-rame. Kami pesan menu sup asparagus, angsio sayap ayam, mie goreng, bistik sapi, ayam rebus saos jahe, nasi putih, dengan minuman es susu dan jus sirsak dan teh tawar (gratis) sebagai tambahan.

Menu pertama, bistik sapinya juara, bumbunya pas banget, gurihnya daging sapi dengan balutan Tepung crunchy, enak banget pas digigit di mulut, kalo kentang goreng dan lalapan sih, ya so so lah.


Sup asparagusnya juga enak, tapi nothing special, khas sup asparagus restoran-restoran pada umumnya deh.




Yang unik rasa angsio sayap ayamnya yang cenderung manis, dan empuk banget sampe gak ada yang bisa digigit saking lumernya.

Makanan di sini semua bahan dasarnya emang lebih ke rasa gurih manis gitu deh. Bahkan ayam rebus saos jahenya aja masih ada cita rasa manisnya, dengan hangat jahe yang kental. Combo ayam ini sama-sama empuk, pake banget. Kalo kamu kurang suka ayam lembut dan manis, menu ini pasti kurang cocok.

Eits, tapi kamu harus kudu wajib cobain mie gorengnya, INI ENAK BANGET sumpah. Bahkan ini jadi menu terfavorite dan habis duluan.


Setelah baca beberapa review yang lain, ternyata mie goreng 499 emang salah satu menu juara di sini. Beneran enak banget, gurihnya, manisnya, bumbunya, kekenyalan mienya, semua pas. Porsinya banyak banget, bisa buat dimakan 5-6 orang.

Tapi, katanya sih topingnya udah berkurang dibandingkan yang dulu, padahal menurut saya ini aja udah banyak banget. Ada bakso, sosis, ayam dan sayuran hijau.

Saya belum coba menu yang lain selain yang di atas saya sebutin. Tapi numero uno tetap mie goreng, gak ada yang ngalahin deh.

Rate harga makanan di sini, berdasarkan yang kami order aja ya

Sup Asparagus Rp 76.190
Angsio sayap ayam Rp 60.000
Ayam rebus saos jahe Rp 65.238
Bistik sapi Rp 68.095
Mie goreng Rp 58.095
Jus sirsak Rp 20.952
Es susu Rp 12.381

Tapi percaya deh, makan sama keluarga di sini gak bakal nyesel kok, enak-enak, dan porsinya banyak.

Buat kamu yang mau dateng ke Restoran 499 bisa datang ke Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 687, Bandung atau go-food juga bisa kok.

Selamat makaannn....!

21 September 2019

[Book] REVIEW : SAMAN, Ayu Utami - Cinta, Dosa & Perjuangan


Judul: Saman
Penulis: Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN : 978-979-91-0570-7
Tebal : 206 halaman
Cetakan : ke-31, Mei 2013
Kebebasan yang kita dapat hari ini bukan dari sananya. Kemerdekaan yang hari ini kita nikmati, atau barangkali malah mulai kita benci, dulu diperjuangkan oleh orang-orang yang rela dianiaya. Seperti Saman. - Halaman 203, dalam catatan pengarang
Sinopsis

Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si "ja'im". Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya pada lelaki beristri. Tapi, diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang pastor yang akhirnya memilih untuk meninggalkan panggilan imamatnya demi menjadi aktivis di antara kaum miskin. ia pun menjadi buron dalam masa rezim militer OrdeBaru sehingga harus melarikan diri ke luar negeri.
Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?

Membaca Saman, bersiap untuk membolak balik perasaan, antara manisnya romansa, seramnya cerita mistis, vulgarnya hubungan seksual, kekejaman order lama, dan dilema hati manusia menentukan kehidupan dan cinta.

Ayu Utami membuat pembaca jungkir balik dengan isi cerita yang sangat berubah-ubah, runut, dan tidak bisa berhenti sampai bertemu dengan titik penutup.

Mari kita mulai review singkatnya

Tokoh utama novel ini terlalu banyak, empat di antaranya adalah Yasmin Moningka, Laila, Shakun Tala, dan Cok. Mereka punya pembimbing rohani yang sama, Athanasius Wisanggeni.

Empat sekawan dengan karakter yang berbeda-beda, dan nasib hidup yang sangat berbeda. Diceritakan dalam sudut pandang masing-masing, dengan latar belakang kisah masing-masing. Kisah yang semuanya sangat menarik.

Saman, adalah sebuah nama yang akhirnya dipilih Athanasius Wisanggeni atau Wis. Setelah ia jadi buronan kekejaman rezim orba di tahun 80an sampai tahun 90an yang terkenal dengan pemerintahannya otoriter pada zaman itu.

Otoritas pemerintahan yang menjadikan Wis tak berdaya, setelah melakukan 'pemberontakan' pada pemerintah untuk bertindak sewenang-wenang dan menentang peraturan penguasa yang menekan petani di daerah Lubukrantau.

Kepeduliannya pada gadis gila bernama Upi, membuat Wis melakukan banyak hal untuk melindungi gadis itu, desanya, dan lahan perkebunan mereka di desa Lubukrantau.

Penguasa yang tidak suka dengan tingkah Wis dan perlawanan desa Lubukrantau, menjadikan Wis dan semua warga desa tawanan. Menyiksa Wis setiap hari, meneror warga dengan pemerkosaan pada para wanita, dan yang berujung membakar desa. Termasuk membakar Upi.

Wis lari, dan terus berlari, ia berusaha kembali ke gereja tempat asal ia tinggal dan menjadi pastor di Perabumulih. Bahkan gereja pun tidak sanggup menyelamatkannya.

Bagaimana dengan Laila yang sejak kecil mencintai Wis, kemudian setelah dewasa cintanya beralih pada Sihar, pria beristri, dan berharap pertemuan selanjutnya akan menjadikan mereka melakukan hal lebih erotis?

Bagaimana dengan masa lalu Shakuntala yang menjadikan ia begitu benci pada ayahnya. Kemudian ia memilih pergi dan menetap di New York sebagai penari?

Bagaimana Cok yang memilih menjadi binal dan bersedia menyerahkan keperawananya sejak SMP?

Bagaimana dengan Yasmin, perempuan paling cerdas, pengacara sukses, dengan orangtua berduit yang menjadikan hidupnya sangat mudah. Pernikahan yang terlihat sempurna. Perempuan dengan nasib 'terbaik' di banding ke-tiga sahabatnya yang lain. Perempuan yang menyimpan banyak rahasia?
Yang sembunyi dari suaminya, dari ke-tiga sahabat dekatnya, bahwa ia dan Wis saling mencintai, dan berjanji saling bertemu untuk memuaskan hasrat mereka berdua.

Akhirnya kepada empat sahabat inilah, Wis melarikan diri. Dengan bantuan ke-empat sahabat ini, Wis melakukan penyamaran, lari ke New York.
Athanasius Wisanggeni, seorang calon pastor, yang beralih menjadi seorang Aktivis Hak Asasi Manusia, dengan mengubah namanya menjadi Saman.

***
Novel Saman telah diterjemahkan dalam bahasa asing, diantaranya : Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Prancis, Czech, Italia, dan Korea

Saman adalah pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998
Novel ini juga mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri karena dianggap telah mendobrak hal yang tabu sekaligus memperluas cakrawala sastra.

20 September 2019

[Book] REVIEW : Perempuan di Titik Nol, Nawal el - Saadawi. Kisah Pelacur yang Menolak Grasi dari Hukuman Mati.


JudulPerempuan di Titik Nol (Women at Point Zero)
PenulisNawal el-Saadawi

Pengantar : Mochtar Lubis
Penerjemah Amir Sutaarga
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : Ke-10 Juni, 2010
Tebal: xiv + 156 halaman

“Saya tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka denga harga tertentu, dan bahwa tubuh paling murah dibayar adalah tubuh sang isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak.”
Bersiap untuk membaca novel ini sampai habis, bersiap untuk merasakan pedih. Kepedihan sebagai sesama 'perempuan' yang selalu dianggap manusia kelas dua oleh budaya patriarki masyarakat Mesir.

Nawal El-Saadawi berhasil membuat karya semi-memoar tentang Firdaus, narapidana wanita yang (dengan susah payah) akhirnya berhasil ditemuinya dalam salah satu risetnya mengenai penyakit syaraf (neurosis) di sebuah sel penjara.

Sinopsis

Novel Perempuan di Titik Nol bercerita tentang Firdaus, seorang pelacur sukses yang kini menunggu hukuman mati di Penjara Qanatir karena telah membunuh seorang laki-laki. Ia menolak semua pengunjung dan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Ia biasanya tidak menyentuh makanan sama sekali dan tidak tidur sampai pagi hari. Ia bahkan menolak menandatangani permohonan keringanan hukum dari hukuman mati menjadi hukuman kurungan.

Firdaus menolak pemberian grasi tersebut, dan mengatakan bahwa hukuman mati adalah bentuk kebebasan yang ia paling inginkan.

Sehari sebelum ia dihukum mati, akhirnya ia mau menemui SaadawiFirdaus menceritakan kisahnya pada El Nawawi El-Saadawi

Selamat membaca review menyayat

Kisah Seorang Pelacur

Firdaus kecil tinggal di lingkungan keluarga yang serba kekurangan, bahkan seringnya mereka menahan lapar di tengah malam karena kehabisan makanan. Ibu Firdaus adalah seorang perempuan lemah yang harus tetap melayani sang suaminya, lelaki yang sama sekali tak memberikan afeksi dan perhatian kepada anak-anaknya
“Jika salah satu anak perempuannya mati, Ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti yang ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul Ibu, kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur. Ayah tak akan pergi tidur tanpa makan malam terlebih dulu, apapun yang terjadi. Kadang-kadang apabila tak ada makanan di rumah, kami semua akan pergi tidur dengan perut kosong. Tetapi dia akan selalu memperoleh makanan.”
Di awal, Nawal telah menyuguhkan banyak adegan yang membuat pembaca bergidik ngeri.

Setelah orangtuanya meninggal, Firdaus tinggal di rumah pamannya.

Sang paman yang selalu lebih disayanginya daripada ayah dan ibunya. Walaupun sang paman kerap menggerayanginya, Firdaus diberikan kesempatan untuk bersekolah, bahkan hingga SMA.
Meski ia harus dikirim ke sekolah asrama, karena pamannya menikah, dan istrinya tidak suka pada Firdaus.

Tamat SMA, Firdaus kembali ke rumah paman dan bibinya. Firdaus ingin melanjutkan kuliah. Namun jawaban pamannya membuat ia sakit hati.

“Apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”
Lalu saya pun menjawab, “Saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti Paman.”
Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum pria saja.

Bingung akan 'dikemanakan' si remaja Firdaus, karena bibinya tidak mau mebiayai hidup apalagi kuliahnya. Akhirnya Paman bibinya menjual Firdaus untuk dijadikan istri oleh kakek tua berumur 60 tahun.
Syekh Mahmoud, suami Firdaus bukan hanya tua tapi dia juga punya luka di wajahnya, yang bahkan ketika memaksa Firdaus bercinta, luka di wajahnya yang seperti bisul bernanah mengeluarkan bau busuk seperti bangkai anjing. Sangat menjijikan.

Bukan hanya luka di wajah, Syekh Mahmoud juga punya luka di hati. Ia kerap memukul dan menendang Firdaus karena dianggap boros dan menghamburkan uangnya.

Firdaus akhirnya melarikan diri. Dalam pelariannya melarikan diri, ia bertemu beberapa lelaki yang awalnya membantu kemudian memperkosanya setiap hari, dan bahkan memukulnya. Firdaus terus berlari dan berjuang meloloskan diri. Perjuangan perempuan yang kebingungan mengenai takdir dari kaumnya.

Hingga akhirnya ia bertemu dengan Sharifa. Perempuan cantik, pelacur kelas atas, yang kemudian membantunya menjadi lebih cantik. Perempuan yang membawakan satu, dua, tiga laki-laki (yang lebih bersih) untuk meniduri Firdaus, setiap hari. Tanpa tahu dia menghasilkan uang banyak dari 'pekerjaan' itu.

Firdaus tidak sadar, bahwa dirinya telah dimanfaatkan Sharifa untuk menghasilkan uang. Salah seorang lelaki yang mendatangi kamarnya itulah yang kemudian menyadarkannya.

Lelaki itu bilang bahwa Shafira sudah menghasilkan uang banyak dari 'menjual' Firdaus. Sekali lagi, Firdaus kabur dari tempatnya tinggal.

Di jalan pelariannya, Firdaus kembali diajak dan diancam bercinta oleh seorang polisi. Kemudian dicampakan. Hingga ia bertemu seorang lelaki bermobil mewah, menawarkan tumpangan.
Lelaki itu membawa Firdaus ke rumahnya yang besar, memandikannya, dan menidurinya.
Pagi harinya, saat Firdaus akan pergi, lelaki itu memberinya sepuluh pon. Uang pertama yang ia hasilkan dari ‘pekerjaan’-nya.

Berkat sepuluh pon pertamanya, keberanian dan kepercayaan diri Firdaus tumbuh. Ia mulai berani menolak dan memilih lelaki yang diinginkannya, dan memasang harga yang mahal atas tubuhnya. Dengan harga yang sangat mahal.

Ia kemudian menjadi pelacur yang sukses, yang memiliki sebuah apartemen, seorang koki, seorang ‘manajer’, rekening bank yang terus bertambah, waktu senggang untuk bersantai atau jalan-jalan, serta kawan-kawan yang ia pilih sendiri sesuai keinginannya.

Namun kata-kata "hina" dan "tidak terhormat" selalu menghantui Firdaus. Iya, ia ingin menjadi wanita terhormat. Pekerjaan yang terhormat.

Dengan ijazah sekolah menengah serta kesungguhannya, Firdaus mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan industri besar. Di perusahaan tempat ia bekerja, terjadi kesenjangan yang lebar antara karyawan berpangkat tinggi dan karyawan rendahan. Banyak karyawati yang merelakan tubuh mereka pada para atasan agar lekas naik pangkat atau agar tidak dikeluarkan. Miris

Namun Firdaus tidak menghargai dirinya semurah itu, terlebih karena pengalamannya yang biasa dibayar dengan harga sangat mahal. Tidak seorang pun di perusahaan itu yang bisa menyentuhnya.

Suatu hari, Firdaus bertemu seorang pria bernama Ibrahim. Ia mencintainya. Mereka saling mencintai. Firdaus sudah akan mengubah sungguh-sungguh jalan kehidupannya, menjadi wanita terhormat, dengan pekerjaan terhormat. Dicintai dan mencintai.

Tapi, tiba-tiba perasaanya mendadak hancur ketika Ibrahim bertunangan dengan putri presiden direktur demi jabatan. Ini penderitaan paling sakit yang pernah ia rasakan.

Selama menjadi pelacur, perasaannya tak pernah ambil bagian, namun dalam cinta, perasaanlah yang jadi pemain utama.
Firdaus memutuskan keluar dari perusahaan itu. Ia kembali menjadi pelacur. Pelacur yang sukses. Lebih sukses dari sebelumnya.

Puncak cerita ini, Firdaus bertemu seorang lelaki yang memaksa untuk jadi germo yang akan melindunginya. Firdaus menolak karena yakin ia bisa melindungi diri sendiri. Firdaus mencoba melawan Marzouk. Namun Marzouk dengan pisau.

Ketika Marzouk akan mengambil pisau dari kantungnya, Firdaus cepat mendahuluinya, dan menikamkan pisau itu dalam-dalam ke leher Marzouk, mencabutnya, menusukkan ke dada Marzouk, mencabutnya lagi, lalu menusukkan lagi ke perut Marzouk, lalu menusukkannya ke hampir seluruh bagian tubuh Marzouk.

Dengan perasaan lega, Firdaus meninggalkan tempatnya.

Di tengah perjalanannya, Firdaus bertemu dengan pangeran Arab yang membayarnya sangat mahal. Setelah tidur, Firdaus dengan kebenciannya marah ketika pangeran Arab itu menyerahkan uang. Maka uang itu ia cabik-cabik menjadi serpihan-serpihan kecil.

Mereka terlibat perdebatan dan berujung pertengkaran. Pangeran Arab itu menganggap Firdaus gila, ia berteriak sampai datang polisi. Firdaus diborgol dan dibawa ke penjara.

Firdaus menolak untuk mengirim surat permohonan keringanan hukum karena menurutnya ia bukan pejahat, para lelakilah yang penjahat.

Novel ini adalah kisah nyata dari sepenggal cerita hidup perempuan yang dipaksa takdir melacurkan harga dirinya. Hingga hidup kemudian menjadikannya sebagai seorang pembunuh. Untuk membuktikan bahwa perempuan tidak selalu harus dinistakan, dibuat bertekuk lutut, diperbudak.
Firdaus senang, ia dipenjara bukan karena kesalahannya membunuh. Tapi karena para lelaki itu takut padanya.
Membiarkan Firdaus hidup sama dengan membiarkan mereka perlahan mati. Membiarkan hukum 'menomor-duakan perempuan' perlahan hilang.

Firdaus senang, dengan tenang ia menerima hukuman matinya. Hukuman yang paling ia nantikan.