8 Desember 2010

PERI KECIL YANG SIAP MENGEPAKKAN SAYAP

Ketika aku tengah belajar mengepakan kedua sayap rapuhku, aku berharap kau tetap tersenyum di bawah sana ke arahku meskipun tertutup kabut. Aku percaya, engkau akan selalu setia menemaniku, malaikat pelindungku.
***

“Kamu suka?” Ucapnya.
“Hmm...” Aku hanya mengangguk tanpa bisa menatap langsung kedua matanya yang menyejukan hatiku.

Ini kali pertama aku keluar dari istanaku, menembus batas kehidupanku yang tertutup, aku yang tak pernah bisa mencintai, aku yang masih takut menginjakkan kaki keluar dari duniaku yang serba terlindungi, aku yang tak pernah membayangkan sesuatu yang semua orang sebut itu indah. Pendeknya aku belum pernah merasakan bagaimana jatuh cinta.

Orang tua bilang, jangan coba-coba jatuh cinta, sekali kamu masuk, maka akan sulit untuk keluar. Kamu akan merasakan pedih perihnya dicampakkan, sakit hati, disakiti, dikhianati, belum lagi dibumbui rasa curiga, cemburu, salah paham, harus mengerti apa yang pasanganmu suka dan tidak suka, namun belum tentu semua yang kamu suka dan tidak suka akan dimengerti oleh pasanganmu. Tetap disini, jangan pernah keluar. Di luar sana begitu kejam, mereka (para pria) itu jahat. Ambisius, mau menang sendiri, egois, selalu akan melarang sesuatu yang mereka tidak suka padahal kamu menginginkannya, berkelakuan sekehendak hati, kamu siap?

Aku tertunduk...
Benarkah?
Tepat. Persis seperti dia, Rapunzel. Tokoh utama film animasi yang saat ini aku tonton. Wanita yang bertahun-tahun dikurung di dalam menara tinggi tanpa tersentuh apapun. Tak diperbolehkan sedikit saja menghirup udara luar, udara kebebasan. Seperti aku.

Aku tersenyum, dideretan ke 3 kursi pengunjung 21. Mataku tak berkedip, ketika melihat Rapunzel, yang akhirnya keluar menginjakkan kaki ke bumi, merasakan halusnya rumput liar, harum bunga, dan dinginnya air pegunungan, kemudian lari menerobos gelapnya hutan, berusaha keluar dari berbagai ancaman dan orang-orang jahat yang mengintainya, dengan sebuah keberanian dan seorang pria disampingnya.

Akupun melirik seorang pria disampingku. Pria dewasa dengan segurat garis kedewasaannya, jelas tergambar keistimewaannya, tegap, pintar, berwibawa, tegar, dan pemberani. Aku menyukainya. Entah sebagai apa, nyaman ketika berada disampingnya, tak terlukiskan, ingin sekali aku mendekapnya, sama seperti Rapunzel mendekap Flyn Rider (tokoh pria dalam film itu). Tapi aku tak seberani dia.

Hingga film ini berakhir, aku tetap mengaguminya, mengagumi Rapunzel, dan mengagumi pria yang ada disampingku. Jelas, yang kulakukan hanya mengaguminya, dia berdiri begitu gagahnya, sedangkan aku, hanya bisa menatapnya lemah dengan penuh kekaguman, aku tak bisa berbuat banyak. Hanya mengikuti kemana langkahnya pergi tanpa bisa mengimbanginya apalagi mendahului. Berbeda sekali, dengan pasangan-pasangan lain yang ketika jalan berdua dengan kekasihnya, mereka bergandengan tangan dan sang pria mengikuti kemana wanitanya melangkah. Tidak. Aku tidak seperti mereka. Karena aku tidak pacaran, aku tidak mencintainya, justru aku takut mencintainya. Aku hanya terus mengikuti langkah kakinya.
***

Aku, peri kecil dengan sayap yang begitu rapuh, kaki dan tangan yang belum bisa berpegangan kuat kes alah satu dahan, tawaku masih lepas tanpa beban, tangisku keluar tanpa kebencian, hatiku belum ternoda oleh merahnya cinta, hitamnya luka, dan birunya kesedihan, tak tersentuh, belum terjamah, aku benar-benar peri kecil yang belum mengerti apa-apa, belum mampu menatap dunia luas apalagi sendirian. Tapi tiba-tiba kuat karena kehadirannya sejenak dalam kehidupanku.
Malaikat pelindungku.

Tiba-tiba hadir memasuki kehidupanku. Seorang pria dewasa dengan sayap kekarnya, menyambut tanganku agar aku bisa bangkit berdiri, mengepakkan sayap rapuhku meninggalkan istana dan terbang bebas mengelilingi dunia. Menatap langsung indahnya cahaya matahari sekaligus belajar menghindari dari kilat dan hujannya. Aku diajarkan bagaimana merasakan harumnya mawar, serta dilatih bagaimana agar aku tidak menangis ketika terkena durinya. Dia, mengajarkanku semuanya. Aku mulai bisa tersenyum.

Perlahan dengan sedikit rasa takut, aku mulai mengepakkan sayap rapuhku. Mencoba keluar dari istanaku. Memaksa hati untuk tidak membayangkan sesuatu yang jahat dan buruk seperti yang mereka (orang tuaku) katakan.

Ternyata,,,
Indah. Tidak semua yang mereka bilang itu benar. Pria itu tidak semua jahat, tidak semua egois, tidak selalu mementingkan diri sendiri, tidak juga melukai hatiku. Bahkan tetap memanjakkanku, seperti orang tua dan keluarga yang selama ini mengikatku dengan perhatian dan kasih sayang mereka. Sehingga sedewasa ini, aku tumbuh menjadi peri tetap dengan sayap yang rapuh. Tak bisa terbang sendiri.
Aku mulai menyadari aku membutuhkan seorang malaikat dengan sayap kekarnya merengkuhku, mengajakku terbang, membimbingku, dan mencintaiku.

Cintakah? Entahlah...
Yang jelas aku ingin menjadi malaikat juga, seperti dia (lebih tepatnya, aku ingin berada disampingnya), dengan sayap yang kekar seperti mereka.
Aku, peri kecil yang sedang belajar terbang.

Belum terlalu lama aku mengenalnya, pria dewasa itu. Tapi dia sudah begitu banyak mengajarkan sesuatu hal yang belum pernah aku dapat dari siapapun pria di dunia ini. Aku tidak hanya diajarkan bagaimana cara melangkah yang benar di alam terbuka, aku tidak diajarkan bagaimana cara menghadapi musuh di luar sana layaknya Flyn mengajarkan pada Rapunzel, tapi aku diajarkan bagaimana caranya mencintai dan dicintai. Sedikit belajar bagaimana mengatakan “aku cinta kamu” secara langsung.

Sayap rapuhku mulai terbentang, siap untuk terbang. Siap menatap indahnya sinar matahari. Ingin mulai menggenggam tangan malaikat pelindungku dengan erat, aku ingin terbang kemanapun ia bawa aku pergi.

Tiba-tiba,,,
Sayap rapuh yang mulai berkembangpun kembali lemah, bahkan mulai menutup. Ketika aku tahu bahwa salah satu sayap malaikat pelindungku telah patah. Rupanya aku bukan satu-satunya peri kecil yang pernah ia ajak terbang, tapi pernah ada peri kecil yang lain. Sayangnya, peri kecil itu mematahkan sayap malaikat pelindungku di tengah perjalanan mereka.

Sakit hatikah aku? Tidak...! kecewa? Juga tidak...! lantas apa...?
Aku hanya bingung. Mungkinkah ku lanjutkan terbang bersama malaikat pelindungku dengan sayap yang sudah tak bisa lagi sempurna..? atau aku mencari malaikat lain, yang berarti aku harus mulai lagi dari awal membentangan sayap.

Dia ternyata hanya mampu mengajarkanku tanpa mampu membawaku melayang di udara. Hati kecilku mengatakan aku tidak bisa terbang dengan pelindung yang hanya memiliki satu sayap. Tapi hati kecilku yang lain mengatakan, aku kuat walau harus belajar terbang sendiri dan suatu saat aku yang akan mengajaknya terbang dengan kedua sayapku yang utuh dan tak lagi rapuh.

Kini biarkan aku mengepakkan sayapku sendiri, dengan engkau tetap ada memandangku dan membantuku bangun sewaktu-waktu aku terjatuh ketika tak sanggup menahan goncangan angin di udara, kau tetap menghapus air mataku ketika duri cantiknya mawar melukai tanganku.

Malaikat pelindungku,, aku mengagumimu. Sangat...!
*Aku peri kecil yang (kini) sudah siap terbang