25 Juli 2012

ada 'kamu' sejak itu


29 Mei 2010

Entah itu awal atau kali ke berapa saya bertemu dengan seseorang yang pada cerita ini akan terus saya sebut ‘kamu’. Tokoh yang barangkali beberapa tahun terakhir berperan penting dalam setiap tulisan saya. Hanya itu satu-satunya tanggal yang saya ingat hingga saat ini. Semua tau, ingatan saya payah. Sama payahnya dengan tak pernah bisa melepaskan bayangan kamu. Sejak pertemuan itu saya mulai jadi terlalu banyak minta, meminta ia mengenal namaku, meminta ia menyapaku, meminta ia sesekali mengirimkan sebuah pesan singkat untukku. Apapun isinya, jika dari kamu maka saya akan menyimpannya. Bahkan, akhir-akhir ini permintaan saya juga cukup banyak dan aneh-aneh. Minta ia memikirkanku, meminta ia balas merindukanku dan meminta ia untuk mengucapkan “Bersediakah kau menjadi istriku?"

Permintaan-permintaan bodoh memang, tapi begitulah cinta membuat pikiran-pikiran agak menjadi bodoh. Atau entah memang saya yang tak pandai menyiasati rindu. Berawal dari rasa kagum dan terus menerus menjadi suka itu menyenangkan bagi saya. Berusaha keras meyakinkan diri bahwa perasaan ini bukan cinta, namun hati tidak dapat dibohongi semakin hari semakin tidak bisa melupakannya. Saya tidak sama sekali menyesal menjatuhkan suka pada kamu, pada siapapun. Hanya kesal mengapa kau tak jua memahami kerinduanku. Atau jangan-jangan sebenarnya paham namun kau dengan sengaja mengabaikan?

Ha, apapun lah. Terkadang saya sempat berpikir bahwa ketika kita teramat sangat menyukai seseorang, kita bahkan tidak peduli apakah dia sadar atau tidak bahwa kita memiliki perasaan suka.
Tugas saya hanya menjalankan peran ‘mencintai kamu’, bagianmu, saya tidak perlu harus tahu.
Tapi belakangan saya baru bisa berpikir dengan benar, bahwa setiap kita menentukan untuk jatuh harusnya sudah berpikir resiko bagaimana harus bangun, dengan atau tanpa seseorang yang membuat kita terjatuh, bukan?

Setidaknya, ketika saya harus benar-benar bangun sendiri sebab cinta yang kita inginkan tak bisa termiliki. Saya tidak merasa sedih, karena segala sesuatu sudah diperhitungkan dengan hitung-hitungan takdir Tuhan.

21 Juli 2012

Karya Tere Liye


Saat ini saya memang sedang kecanduan buku-buku karya Tere Liye, setiap hari bahkan saya membaca berulang buku yang itu-itu juga. berikut ini beberapa buku karangannya





Hafalan Sholat Dellisa (Republika, November 2005)
Mimpi-mimpi si patah hati (Addprint, 2005)
Moga Bunda disayang Allah (Republika, November 2006)
The gogons series : James & Incridible Incidents (Gramedia Pustaka Utama, 2006)
Cintaku antara Jakarta dan Kuala Lumpur (AddPrint 2006)
Sang penandai (Serambi, 2007)
Bidadari-bidadari Surga (Republika, Juni 2008)
Sunset  bersama Rosie (Grafindo, 2008)
Rembulan tenggelam di wajahmu (Republika, Februari 2009)
Burlian (Republika, November 2009)
Eliana (Republika, Januari 2010)
Pukat (Republika, Maret 2010)
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin (Gramedia Pustaka Utama, Juni 2010)
Kau, aku dan sepucuk angpau merah (Januari, 2012)
Ayahku (bukan) Pembohong (Gramedia Pusataka Indonesia, Februari 2012)
Berjuta Rasanya (Mahaka, Gramedia Pustaka Utama Mei 2012)
Negeri para bedebah

SOSOK : Siapakah Tere Liye?


Siapa? Entahlah, yang saya tahu dia adalah penulis novel dengan gaya tutur sederhana, indah, dan sarat makna, selalu seperti itu. Gaya imajinasi yang tidak biasa selalu berhasil ia ramu menjadi sebuah cerita fiksi yang cantik. Menjelaskan berbagai macam perkara sulit dengan penjabaran ringan, memecahkan masalah dengan pemikiran yang sederhana serta sisipan kata-kata mengagumkan selalu membuat pembacanya berdecak kagum sambil sesekali bergumam “Hmm ya benar juga yaa”.

Fiksi itu tidak selalu selamanya harus yang happy ending, harus berakhir dengan indah. Itu yang kadang disampaikan Tere Liye. Seperti contoh dalam bukunya yang berjudul “Daun yang yang jatuh tak pernah membenci angin”, bagaimana seorang gadis bernama Tania yang bertahun-tahun memendam cinta akhirnya merelakan satu-satunya cinta masa kecilnya menjadi sebuah pengorbanan dan bentuk penghormatan yang teramat indah. Tidak, di dunia nyatapun cinta tidak selamanya harus memiliki. Permainan takdir yang kerap ada di dunia nyata berhasil Tere Liye rangkum menjadi susunan fiksi yang sangat menarik.

Belum lagi tentang aneka cinta remaja di dunia nyata,  juga ia buat menjadi cerita yang sangat mengagumkan. Penjabaran cinta yang tidak terlalu dramatis, patah hati, jatuh cinta, ia sajikan dalam sebuah cerita yang tidak biasa. Imajinasi liar tentang kehidupan dunia khayal yang ia satukan menjadi kumpulan cerpen dalam buku “Berjuta Rasanya”, silahkan anda baca sendiri dan temukan sensasi dunia yang jelas itu tidaklah nyata menjadi tatanan bahasa yang apik dan banyak makna yang terkandung.

Ah, itu hanya sekelumit respondent singkat tentang keseluruhan isi buku yang ia ciptakan. Masih banyak buku-buku lain yang tak kalah hebat, yang kesemuanya mengedepankan masalah moral, pengetahuan, agama, namun tetap menggunakan bahasa yang mudah dicerna, tidak menggurui, pemilihan diksi yang tepat. Beberapa novelnya menggunakan alur maju mundur, justru ia perkuat dengan perpindahan tiap scene dengan loncatan indah. (Kumpulan buku karangan Tere Liye saya buat dipostingan berikutnya)

Siapakah Tere Liye?
Sebelumnya saya jelaskan terlebih dahulu, Tere Liye adalah penulis hebat yang sepertinya sengaja benar tidak ingin diketahui kehidupan pribadinya di mata umum. Tidak seperti halnya penulis lain, yang dengan mudah bisa dikenal pembacanya. Terlebih lagi ia ternyata sudah menciptakan belasan buku yang hampir kesemuanya adalah best seller. Sedikit aneh, ketika bahkan ada pembaca setianya yang sama sekali tidak mengenal siapa pengarangnya. Bahkan tidak sedikit yang menyangka bahwa ia adalah seorang perempuan (termasuk saya pada mulanya).

Bahkan saya pernah mengirim email pada beliau, bahwa saya adalah salah satu dari jutaan pengagum karya-karya karangannya yang hampir mati tercekik rasa penasaran ingin tahu siapa sebenarnya Tere Liye. Apa jawaban email yang saya dapat?

Berikut ini saya lampirkan isi jawaban surat saya:



Semakin ia menutupi jati dirinya, semakin saya penasaran untuk terus mencari informasi tentang dia. Barangkali menurut dia tidak penting kehidupan aslinya untuk diketahui, tapi bagi saya yang sudah lama mengagumi karya-karyanya  -bahkan tulisannya saya jadikan kiblat gaya tulisan saya-, tentu saja sangat penting untuk mengetahui setidaknya dari mana ia berasal.

Maka, berasal dari rasa keingin tahuan saya yang begitu besar, saya berhasil mengumpulkan serpihan-serpihan info berbagai sumber yang saya lupa dari mana saja saya dapatkan, maka tidak saya sebutkan. Jadi, maaf andai data ini ternyata salah, karena informasi tidak didapat langsung dari sumber aslinya (keterangan Tere Liye langsung)

Tere Liye adalah sebuah nama pena yang berasal dari bahasa India yang berarti “untukmu, untuk_Mu” (untuk bagian ini bahkan saya harus searching untuk mencari definisi nama), untuk penjelasan makna nama tersebut, barangkali bisa dijabarkan masing-masing pemikiran (termasuk pemikiran ia sendiri). Dan, pemikiran saya tentang nama itu barangkali ia ingin benar berinteraksi untuk kita sesama manusia dan untuk Tuhannya. Sesederhana itu_

Kesederhanaan ia dalam menghadapi masalah hidup selalu berhasil ia susun menjadi buku yang menyentuh hati pembacanya. Namun, ia membantah bahwa ia tidak berniat untuk membuat novel yang mengharukan.
Seperti kutipan jawaban Tere Liye dalam frequently asked question pada novel Hafalan Sholat Delisa edisi revisi, ia menyatakan bahwa “Saya tak berniat menulis novel yang yang mengharukan. Saya hanya ingin membuat novel yang sederhana”
Darwis, itu nama asli Tere Liye, singkat tapi tidak tentang daya imajinasi dan pemahamannya tentang hidup. (keyakinan namanya sesingkat itu karena saya pernah transfer uang untuk membeli bukunya secara online, dan hanya nama itu yang tertera). Saya juga pernah berinteraksi (proses pembelian buku online) melalui sms dengan istrinya yang bernama Riski Amelia yang jika dilihat dari beberapa novel adalah merupakan editor suaminya sendiri. Serta memiliki satu anak laki-laki yang bernama Abdullah Pasai, bisa dilihat di fan page FB Darwis Tere Liye di sini

Pria kelahiran, 21 Mei 1979 ini adalah anak keenam dari tujuh bersaudara, yang kesemuanya lahir dan besar di pedalaman Sumatera. Riwayat pendidikan yang pernah ditulis seseorang untuk mengupas biografi bang Darwis menyatakan bahwa ia bersekolah di:
-          SDN 2 Kikim Timur Sumatera Selatan
-          SMPN 2 Kikim Timur Sumatera Selatan
-          SMUN 9 Bandar Lampung
-          Fakultas Ekonomi UI

Informasi selebihnya belum saya dapat, atau barangkali tidak terlalu penting untuk diketahui. Sebab seperti apa yang pernah ia nyatakan pada saya, bahwa “Belum tentu juga yang menulis novel itu tersebut sebaik fiksi yang ia tulis. Boleh jadi malah berbeda sekali. Jadi kadang tidak mengenal penulisnya akan lebih baik”
Ah, apapun pernyataannya saya tetap menjadi pengagum berat semua karya-karyanya.

Hayooo, siapa yang berniat mengikuti jejak bang Darwis? Menjadi penulis hebat tapi tidak dikenal penggemar? Kalo saya, kayaknya sih mikir-mikir dulu. Karena bahkan, dulu sekali saya pernah berniat menulis itu karena ingin terkenal, bukan ingin menulis apa yang ingin saya tulis -seperti ungkapan bang Darwis-

13 Juli 2012

Air mata jatuh (hanya) untuk hal yang pantas



Sebelumnya, izinkan saya menggunakan tinta merah. Untuk melambangkan bahwa postingan ini dibuat dalam keadaan marah. Saya ingat ada pepatah yang kurang lebih bunyinya semacam ini “Jangan membuat janji, membalas sms, dan menjawab telpon ketika kita dalam keadaan marah” Itu sebab saya memilih ada baiknya saya menulis saja, dalam keadaan (masih) amarah.

Perkara apa?
Banyak hal yang bisa membuat saya marah, tidak hanya masalah penting. Bahkan hanya sekadar dibeliin coklat yang warnanya salah saja saya memang gampang marah, emosian. Tapi ada sebab yang lebih dari sekadar marah mengapa sampai saya posting di blog. Bukankah biasanya kita hanya diperkenankan menceritakan hal-hal baik saja untuk tidak memperlihatkan sesuatu yang buruk.

Di beberapa postingan saya sebelumnya, banyak bahasan mengenai betapa saya menghargai kesetiaan saya, menyukai seseorang yang bahkan ‘mengabaikan’. Saya pernah berkata bahwa “Jangan salahkan saya sekali lagi, karena hati saya sudah lebih dulu menghujat diri sendiri. lebih dari cacian yang mungkin kau lontarkan”

Jelas, dalam setiap tulisan saya mewartakan bahwa saya benar bahagia memiliki kesetiaan mencintai seseorang. Beberapa sahabat saya sepakat akan itu, sepakat dengan “kengototan” saya. Meski beberapa dari mereka mengatakan saya bodoh, tidak masuk akal, ngapain nunggu orang gak jelas, bla bla bla…

Tapi demikian, cerita itu mengantarkan saya pada pemahaman bahwa ternyata saya tidak bisa menolak kehendak hati, sedemikian rupa bantahan dari mana-manapun saya tetap bersikukuh dengan pendapat saya. Apa saya salah?

Tidak ada yang salah dengan pendapat masing-masing orang, bahkan saya selalu mengukuhkan perkataan bahwa kita tidak bisa memukul rata semua isi kepala setiap manusia, bukan? Beda orang, beda pemikiran, beda pemahaman.

Tapi sepertinya tidak dengan salah satu teman (yang belum lama saya kenal). Saya menceritakan mengenai kisah yang sama, cerita tentang kesetiaan saya. Dan apa yang saya dapat? Kata-kata yang aneh, yang sebegitu nyakitin saya. Barangkali iya, kita memang beda pendapat tapi saya merasa sesak, dia seorang teman yang saya percayai untuk di-curhat-i, sengaja atau tidak dia mengirimkan kata-kata
“Kau ceritakan padaku tentang ketulusanmu dalam cinta yang kau agung-agungkan. Manggut-manggut sambil tersenyum kecil aku mendengar ketololanmu itu”
Dia jelas mengatakan saya benar-benar TOLOL. Seketika hati saya merasa sangat sakit. Beribu sesal saya rasakan betapa ‘bodohnya’ menceritakan hal semacam ini pada sembarang orang, pada orang yang tak terlalu saya kenal. Semua murni kesalahan saya. Tapi sekali lagi kebodohan saya adalah saya menganggap ini kesakitan, saya merasa dia benar-benar melukai saya, padahal apa hak saya untuk sakit hati? Apa hak saya untuk marah?

Bahkan saking saya marah, tidak sengaja terlempar kata-kata “Gue tau perbedaan pendapat tiap kepala, gue juga gak bisa pukul rata semua pendapat orang. Tapi setidaknya gue bisa hargain orang dengan gak bilang ini ketololan. Yakali gue yang tolol parah cerita sama kamu”
Beribu sesal saya melempar kata-kata semacam itu, dia yang bukan siapa-siapa saya, tidak tahu apa-apa tentang saya. Saya menangis sekencang-kencangnya. Terlebih saat sahabat saya bilang:
“Masa kamu sedih dibilang tolol? Dia siapa? Masuk dalam daftar orang yang menghargai kamu? Apa pantas kamu bersedih karena dia? Udah ay, masih banyak orang yang peduli dan sayang sama kamu”

Saya tertampar keras-keras, iya benar. Sekali lagi saya salah dalam beberapa hal: menceritakan sesuatu masalah pada orang yang tak terlalu saya kenal dan tak mengenal saya, emosi yang tak bisa saya kendalikan, air mata dan amarah yang saya jatuhkan untuk orang-orang yang bahkan tidak menghargai saya. Jelas itu kesalahan yang saya lakukan berkali-kali, menyadari hal itu saya benar-benar terlempar pada sudut penyesalan.

Banyak pelajaran yang saya dapat dari hal demikian, hingga akhirnya saya berkata “Jangan marah Tuhan, sembuhkan sesak saya dan maafkan orang-orang yang (tak sengaja) berkata kasar pada saya. Sungguh saya malu masih tidak bisa menahan amarah”

tidak lama saya buat twit yang isinya kurang lebih sebagai berikut:
Seharusnya air mata diajarkan untuk tidak jatuh karena hal-hal yang 'tidak terlalu penting' untuk ditangisi.
Seharusnya hati dibujuk untuk tidak sembarang merasa sakit hanya ucapan orang-orang yang bahkan tidak bisa mengargai.

Terima kasih untuk sahabat yang sudah selalu mengingatkan, dan maafkan andai ada beberapa teman yang saat ini merasa saya abaikan. Berusaha belajar menjadi baik, kadang saya harus selalu menjauhi orang-orang yang saya anggap ‘tidak baik’ untuk saya.

10 Juli 2012

Today, is my day


Tidak hendak menulis banyak-banyak, saya hanya ingin bersyukur banyak-banyak. Atas hari ini, atas nikmat Allah yang tak pernah bisa terbantahkan

Ini, tahun ke-23 saya.
Tidak ada doa khusus yang pernah saya minta di hari ulang tahun saya, tidak ada kegiatan special yang saya lakukan untuk merayakan tanggal dan bulan lahir saya. Sedari dulu, memaknai hari ulang tahun adalah hanya dengan mengucap syukur banyak-banyak. Mengecup jauh orang tua saya lebih lama, berdoa pada Allah agak lebih panjang. Hanya sekadar berterima kasih karena masih diberi nafas gratisan hingga usia hari ini. Meski ‘rasa terima kasih’ tersebut bisa saya syukuri setiap hari.

Kemarin, beberapa hari sebelum hari ulang tahun saya. Sempat beberapa sahabat terdekat melakukan perjalanan ‘bahagia’ dan diakhiri makan-makan di sebuah resto mall kota Bogor. Melakukan ritual doa-doa semestinya, sekadarnya.

Tepat sebelum tanggal 10 ada beberapa teman (kuliah) dari UI, IPB dan BSI mengunjungi tempat pertapaan saya. Beberapa kecupan ulang tahun, beberapa kado, dan traktiran yang membuat saya hampir muntah kekenyangan diakhiri dengan malam yang kami habiskan jalan-jalan di taman kota. Masih tidak ada yang terlalu special.

9 juli, saya berencana jalan ke kota Bandung. Merayakan ulang tahun di rumah saudara saya, kak Dewi. Tapi, takdir berkehendak lain. Sebab hari itu saya harus berangkat sendiri tanpa jemputan, dan semua bis yang menuju ke arah Bandung selalu penuh. Akhirnya saya melakukan perjalanan pulang ke Tasikmalaya.

Malam yang masih sangat biasa saja, tidak ada perayaan besar, tidak ada yang special. Hanya ketika malam tanggal 10, beberapa ucapan baik sms, bbm, mention twitter, inbox facebook (yang semuanya tak bisa saya balas satu persatu) berdatangan. Saya tersenyum bahagia, berada dalam perhatian teman dan sahabat terdekat saya. Meski masih ada sesuatu yang dirasa hambar dan kurang, entah

Hari tanggal 10, saya hanya melakukan perjalanan ke beberapa tempat yang setidaknya bisa saya kunjungi, pun dengan kakak saya semata wayang. Tidak terlalu special, karena (sekali lagi) saya tidak terlalu menspecialkan ‘hari saya’.

Tempat pertama yang saya kunjungi, masih ke toko buku dan taman baca. Saya pikir tidak ada tempat yang lebih baik selain itu. Membeli beberapa buku, makan-makan dan nonton di 21. Karena kebetulan ulang tahun kami agak berdekatan maka hari itu saya berkeliling toko mencari kado serta kartu ucapan kelak untuk sahabat tercinta saya falafu

Malam tanggal 10 saya, masih terlalu biasa. Dihabiskan (kembali) dengan makan-makan, menambah pundi-pundi doa pada Tuhan, dan lagi-lagi makan.

Hingga malam ini hampir habis, saya masih tidak merasakan kebahagiaan yang lebih. Meski padahal banyak doa, banyak ucapan, banyak-banyak hadiah yang dijanjikan kedua orang tua saya di ulang tahun ke dua puluh tiga.

Ini hari saya, hari yang tak terlalu berarti apa-apa, hanya symbol peringatan tanggal dan bulan lahir yang selalu berulang setiap tahun. Terima kasih Allah, terima kasih semesta, terima kasih buat keluarga, sahabat dan teman saya banyak-banyak tak terhingga.

Nb: kehampaan saya, barangkali tidak adanya sekadar ucapan ‘selamat ulang tahun’ dari kamu. Seseorang yang tak terlalu mengenal saya  -harapan yang entah-

4 Juli 2012

Tidak ada cinta yang 'tidak' adil



Siapa merasa kalau ‘berdua’ itu pilihan terbaik?
Atau, memilih sendiri itu lebih nyaman?
Tiada satupun yang salah, tak ada juga paling benar.
Yang pasti memilih untuk hidup bahagia itu jauh lebih menyenangkan.


Tidak ada makhluk di dunia ini hidup tidak butuh cinta. Tiada satupun yang mampu melakukan apa-apa sendiri dalam hidupnya. Pun saya, juga kamu

Saya tentu pernah jatuh cinta, namun kadang ‘sendiri’ itu masih menjadi pilihan terbaik saya pada waktu ini. Tidak ada alasan pasti, atau saya enggan menyebutkan sebab-sebab saya memilih tak ber-kekasih.

Saya (masih) jatuh cinta, pada seseorang yang (masih) mengabaikan perasaan saya. Banyak sebab yang membuat saya enggan memilih berhenti mencintai, seperti saya enggan menyebut sederetan alasan mengapa saya tidak bisa melupakan.

Jika ada yang bertanya “Apa saya tidak sakit hati?” saya tegas menjawab “TIDAK!”,
dan ketika ada yang berucap:
“Ini tidak adil, kamu berhak bahagia. Bahagia itu gak bisa sebelah tangan, begitu juga dengan cinta. Kamu harus merasakan utuh, harus kamu kejar pria yang kamu cintai. Semesta harus selalu sepakat dengan hatimu, jadi kamu harus yakin ia juga punya perasaan yang sama”

Adakah cinta yang “tidak adil”? pertanyaannya siapa yang berhak mempertanyakan hal itu? Tidak ada cinta yang tidak adil, bahkan ketika saya menyukai seseorang dan ia tak balas mencintai, saya tak pernah sama sekali menganggap cinta tidak berlaku adil pada saya, apalagi menyalahkan semesta yang tak berpihak pada takdir saya. Tidak sama sekali.

Saya mencintai seseorang, seseorang itu tidak mencintai saya. Apa ada yang berhak ‘mengharuskan’ seseorang yang saya cintai balas menjatuhkan cinta kepada saya? Tidak.

Sama hal ketika ada seseorang yang tulus menginginkan saya, dan saya tidak menghendaki berbalas cinta. Tidak ada juga yang bisa menuntut bahwa saya tidak adil bukan?
Saya hanya berusaha mencintai dengan benar, untuk mendapat cinta yang paling baik.
Ini hanya masalah permainan hati dan saya tidak akan pernah berujar sesal pernah mencintai seseorang yang tak mencintai saya. Kelak akan ada masa di mana ‘cinta (akhirnya) berpihak pada hati saya’. Jatuh di waktu dan tempat yang tepat.

Cinta, mencintai, dan dicintai



Sejak posting tulisan beberapa saat lalu yang berjudul Titik jenuh penantian,
sejak temanku mengatakan ‘jangan cuma bisa nulis doang’, sejak itu memang tidak ada yang lebih baik melebihi sebuah pembuktian. Pembuktian bahwa memang aku benar-benar sudah melewati fase jenuh dalam mengharapkan sebuah (katakanlah) ketidak pastian.

Sejak saat itu, aku merasa benar-benar kosong. Tidak berarti sama sekali tidak memikirkan apa-apa, banyak yang harus aku pikirkan malah. Kembali focus pada pekerjaan, sibuk mengejar les-les yang beberapa bulan tertinggal. Ohya, aku memang sudah lama jatuh cinta pada Paris itu sebab aku mengikuti salah satu program pembelajaran bahasa Perancis. Tapi karena akhir-akhir ini aku disibukan dengan pekerjaan dan tak cukup waktu luang yang bisa ku bagi, jadi beberapa waktu ku tinggalkan.

Aku merasa lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari apa yang aku pernah pikirkan sebelum-sebelumnya. Apa yang pernah aku pikirkan sebenarnya? Ternyata, tidak (lagi) menjatuh cintai seseorang itu pada akhirnya memang sudah menjadi bahan pikiran selama ini.

Sejak dulu-dulu mencintainya adalah sebuah hal menyenangkan. Merindukan seseorang yang bahkan entah rindunya untuk siapa, aku begitu menikmatinya. Aku tau ini bodoh, bahkan sejak dulupun tau betapa bodohnya aku. Tapi, perasaanku sama sekali bukan perasaan yang bodoh. Ini sebuah ketulusan, ketulusan mengagumi seseorang yang bahkan tak pernah tidak diabaikan

Sekarang semua sudah berubah, berubah ke keadaan yang seharusnya. Tidak lagi mencintainya mungkin adalah sebuah keharusan. Tidak lagi memikirkannya adalah sebuah kebiasaan yang perlahan menghilang dan memang awalnya tak pernah ada namun aku paksakan. Aku pikir itu akan menyakitkan, ternyata tidak sama sekali. Karena aku tidak sedang patah hati.

Aku sendiri yang mencintainya, dan aku sendiri yang memutuskan untuk berhenti. Apa itu bisa disebut patah hati? Entahlah apa namanya ,yang jelas perasaanku sekarang jauh lebih lega jauh lebih tenang. Bertahun-tahun mengumpulkan rindu hingga membusuk dikebisuan adalah bukan sesuatu yang menyenangkan memang. Setelah tumpukan sampah dikeluarkan ternyata otakku baru bisa berjalan dan berpikir normal, bahwa ini yang seharunya aku lakukan.

Jatuh mencintainya bukan sesuatu yang patut aku sebut kesalahan, tidak balas dicintai tidak lantas aku berhak menyatakan bahwa dia pria yang amat ku benci, tidak sama sekali. Bahkan aku menikmati kesakitan bagaimana rasanya ketulusanku terabaikan. Tapi semacam itulah yang dinamakan cinta, mencintai, dan dicintai. Bijak saja dalam menyikapi perasaan yang ku jatuhkan meski akhirnya aku harus tertatih dan bangun sendiri. Tidak ada yang salah dengan perasaanku, juga dengan perlakuan dia, sudah memang begitu saja.

Pernah menyukainya, sesuatu yang tidak dengan mudah bisa begitu saja dilupakan. Tidak ada yang bisa kusesalkan, bahkan aku selalu banyak berpikir dan meyakinkan diri sendiri bahwa segala ketulusan yang pernah aku berikan kelak pasti akan dibalas dengan ketulusan indah milik Tuhan, bukan?

Aku banyak-banyak mengucap terima kasih bahkan untuk siapapun pria yang pernah ada sesaat mengisi hatiku, setidaknya meski hanya aku yang pernah menyukai. Tak mengapalah, bukankah berterima kasih itu selalu benar dalam banyak hal, termasuk ketika kita berterima kasih pada orang yang pernah tidak sengaja mengabaikan perasaan kita. Dengan begitu kita akan sangat bisa memetik pelajaran berharga, dengan tidak melakukan hal yang sama pada orang yang menyukai kita misalnya.
Setelah tulisan ini diakhiri, saya pastikan saya baik-baik saja dan sudah bisa tersenyum banyak-banyak