9 Desember 2014

Move On



Berbaik hatilah, hati, kita bisa bicarakan dengan baik perkara dicintai dan mencintai ini. Tidakkah kamu lelah? Tidakkah kamu menginginkan seseorang yang benar nyata cintanya, yang benar tulus kasih sayangnya? Tidakkah kamu menginginkan kehidupan bahagia? Bahagia dicintai seseorang dengan perasaan yang begitu besar, begitu banyak.

Kamu bisa memulai hari ini. Kamu bisa belajar bagaimana cara mencintai dari awal. Mencintai seseorang yang mencintai kamu tulus, dan belajar memberi ketulusan sebanyak yang dia punya. Sekali saja kamu bisa meninggalkan ego, maka kamu akan mendapatkan semuanya. Semua yang kamu mau. Kebahagiaan bukan?

Ini hanya tinggal perkara waktu, bagaimana saya memejamkan mata sedikit, lantas membuka hati saya kemudian.

Selamat datang, cinta, kali ini saya sendiri yang menyambut kedatanganmu, di pintu utama ~

15 November 2014

Move on


Gerimis berjatuhan satu-satu. Secangkir coklat hangat, dan alunan music lembut jazz favorite saya menemani malam minggu yang pendiam.

Malam kesekian setelah saya mengenal kamu.

Malam yang sudah entah kali keberapa saya memiliki banyak waktu yang sebagian besarnya penuh senyum. Perempuan jatuh cinta itu kadang tidak lagi bisa diajak bicara, tidak bisa diajak berdiskusi, tidak bisa diajak berdebat, tidak bisa diceritakan sesuatu tentang patah hati. Perempuan jatuh cinta itu semua kepalanya penuh kamu, semua malamnya indah, semuanya bagus. Perempuan jatuh cinta itu saya, kepada kamu.

Beberapa perempuan tidak suka lelaki puitis, romantis, yang bacaannya buku-buku puisi. Oya, saya berbicara tentang saya. Saya penyuka lelaki sederhana yang cerdas dengan keahliannya. Tidak terlalu Serius. Penting. Dan suka berkemaja.

Untuk kembali jatuh cinta saya perlu waktu setahun dari perasaan hangat yang hilang di masa lalu. Lantas kemudian belajar lagi untuk menulis pelangi di atas langit. Menanti gerimis yang membuat saya tiba-tiba merasa jauh lebih romantis. Pada sesuatu yang mengatas namakan cinta. Pada sesuatu yang menuju kamu.

Dihitung dari berapa banyak saya jatuh cinta, bahkan tidak sampai merentangkan kesepuluh jari. Sedikit sekali. Entah terlalu hati-hati, atau saya yang tidak pandai mengajak pikiran untuk berganti-ganti orang yang harus dijatuhcintai. Satu saja, melelahkan. Belum hilang perasaan yang satu, timbul lagi perasaan cinta yang lain. Itu cinta? Mungkin iya, tapi saya tidak demikian.

Kamu adalah lelaki kesekian. Yang saya jatuh cintai diam-diam. Perkara rumit ini tidak pernah menemukan titik ujung. Saya pemerhati yang baik, dan selalu memiliki pasokan cinta yang banyak untuk seseorang yang terkadang tidak pernah paham atau peduli keberadaan saya. Lelucon konyol yang kerap membuat orang-orang disekitar saya menjuluki saya “Si Bodoh”.

Sebab, tidak terhitung ada banyak perasaan tulus saya sia-siakan hanya untuk mencintai seseorang lain diam-diam. Yang entah seseorang itu sadar atau tidak, tahu saya atau tidak, dan saya yang begitu hanyut tergila-gila sampai benar-benar gila, lupa bahwa  beberapa tangan mengulurkan ketulusan lain, beberapa pasang mata menatap dengan kehangatan lain, beberapa hati menawarkan harapan yang jauh lebih bisa meyakinkan saya, meyakinkan kebahagiaan saya, kekal. Tapi saya terlanjur gila, sekaligus buta tuli. Menyedihkan.

Bagaimana, jelaskah saya salah? Jelaskah saya bodoh?
Tapi adakah cinta yang dijatuhkan sia-sia? Adakah Tuhan membuat saya salah menjatuhkan cinta? Untuk membela kewarasan saya, saya katakan tidak. Perasaan saya berasal dari sesuatu yang tulus, yang Tuhan anugerahkan. Apa kemudian lantas saya paksa untuk buang, saya tolak mentah-mentah, saya anggap Tuhan salah alamat, lantas kemudian saya menerima uluran tangan-tangan seseorang lain untuk melampiaskan? Itu lebih tidak adil. Saya tidak bisa disalahkan. Sama sekali tidak. Perasaan saya juga.

Saya pernah menulis ini :


Bayangkan ketika saya punya banyak perasaan cinta kepada seseorang A, seseorang A yang tidak memedulikan saya, seseorang A yang bahkan tidak pernah tahu keberadaan saya. Kemudian lantas saya men-judge bahwa cinta saya salah alamat. Kemudian saya paksa lupa. Di saat bersamaan seseorang B menanti dengan penuh harapan pada semua sisa-sisa perasaan saya. Dan hanya karena sebab saya putus asa, lalu saya memaksa diri mencintai B setengah banyak, dengan kadar kekecewaan dan rasa bersalah karena seseorang B sudah memiliki perasaan yang tulus. Apakah itu justru tidak membuat saya menjadi perempuan paling jahat? Saya rasa iya, saya sangat jahat.

Saya hanya harus mengikuti perasaan saya. Saya hanya harus menunggu sedikit lebih lama, untuk sampai pada waktu saya bisa tulus mencintai seseorang B dan benar-benar melupakan A. Atau semesta mengabulkan perasaan cinta saya yang banyak ini dibalas sama banyak oleh seseorang A, ya ya ya bukan sebuah kemustahilan yang akan sangat saya ‘aamiin’kan.

2 Oktober 2014

move on


Pernah saya berpikir, suatu hari saya tidak lagi mencintai kamu. Perasaan peduli saya hilang. Dan, barangkali sayang saya berubah menjadi sebuah kebencian.

Ketakutan-ketakutan yang bisa jadi terjadi.
Dan saya pikir, tidak lagi mencintai itu (akan) lebih menyedihkan dari perasaan cinta yang tak terbalas.

Kenyataannya, senyum kamu mematahkan ketakutan saya.

Saya pernah sangat mencintaimu, semakin, dan akan terus begitu sampai entah. Sampai saya tidak punya alasan untuk mencintai kamu. Sampai saya punya jawaban bahwa mencintai kamu adalah bukan pilihan terbaik untuk hidup saya.

Saya tidak pernah menyangkal apa apa yang membuat saya jatuh cinta. Seburuk apapun kenyataanya, saya menghargai segala bentuk perasaan yang saya punya. Anugerah Tuhan paling indah bisa jadi adalah mencintai. Memiliki dan mempertahankan sudah lain persoalan.


Bahwa saya yang mencintai kamu, bahwa saya yang peduli terhadap apapun yang berhubungan dengan kamu. Bahwa saya yang merasa sangat bertanggung jawab terhadap kebahagiaan hari-hari kamu. Bahwa saya yang bahkan tak pedulikan siapa yang ada dalam pikiran kamu, sebab pikiran saya terlalu banyak kamu.

14 Mei 2014

Jatuh Cinta

Jakarta, 14 Mei 2014


Ini konyol. Hampir dua tahun tidak menulis apapun.
Sebab beberapa orang berkata, jatuh cinta yang akan membuatmu kembali menulis (Berpuisi), atau patah hati. Atau bukan keduanya. Aku tidak setuju.

Tapi itu benar.

Benar bahwa aku sedang jatuh cinta.
Usiaku dua lima. Usia yang ganjil untuk ‘baru’ kembali merasakan jatuh cinta. Sebab aku tidak terlalu sibuk untuk sekadar memikirkan sesuatu itu, seharusnya. Sebab aku punya banyak alasan untuk menyukai banyak pria dengan berbagai perangainya.
Tapi kemudian, sebab-sebab itu nyatanya tidak sama sekali menjadi alasan dari semua yang harusnya aku setujui.

Satu dari beberapa lelaki yang aku membenarkan ketika ditanya “Apa aku mencintainya?” atau mungkin tidak. Maksudnya, belum.

Lelaki yang mungkin memiliki sifat yang beberapa lelaki lain juga miliki. Lelaki yang barangkali tidak banyak memiliki sifat-sifat yang selama ini aku inginkan. Tapi beberapa kali aku membantah, “Tidak. Aku sama sekali tidak mencintainya. Hanya sedang lebih aku perhatikan”.

Apa bedanya?

Sebab ketika bahkan angin sedang malas berbagi cerita. Lebih tepatnya aku yang membosankan dengan mengulang-ulang cerita yang sama. Menulis adalah pilihan cerdas.
Sebab ketika pada suatu saat, seandainya aku bisa bertemu dan berbicara banyak dengan lelaki itu, kemudian suatu saat. Aku akan bercerita “Aku mencintaimu. Dan sejak sangat dulu. Dan tulisan ini untukmu. Coba kau baca.” Dan dia tersenyum. Aku tentu saja, bahagia.

Berandai-andai adalah hal yang menyenangkan bagi siapapun yang sedang jatuh cinta. Atau sekadar menyukai seseorang. Aku, begitu juga.

Berandai-andai di mana takdir menuliskan “Kapan aku bisa bertemu dan bercakap-cakap tentang sesuatu yang seru dan menyenangkan”.

Bukan persoalan bahasan apa yang membuatku merasa senang. Bertemu dan bercakap-cakap hanya dengan lelaki itu, di mana pun, pembahasan apapun, aku pikir akan sama menyenangkan.

Berandai-andai, takdirku bertemu dengannya di angkutan umum. Di dalam pesawat ketika kebetulan kita memiliki sama destinasi. Atau mungkin di kantin yang sama ketika tidak sengaja memilih menu yang sama.

Kenyataannya, pengandaian itu hanya kembali bertemu di satu titik. Lorong.

Tidak sulit sama sekali menemukan takdir untuk bertemu dengan lelaki itu. Aku sama-sama bekerja di perusahaan yang sama. Memiliki seragam yang sama. Atasan yang sama. Gedung yang sama. Security yang sama.

Takdir untuk memiliki percakapan-percakapan seru dan menyenangkan yang entah. Dan pengandaian-pengandaian itu lah yang selama ini terus terpikirkan.

Ini bukan lelucon. Aku bahkan harus mencari lebih dari 5000 akun social media seseorang yang barangkali bisa menemukan akun lelaki tersebut. Dan akhirnya aku menemukannya.
Tidak ada alasan lebih masuk akal untuk menyangkal bahwa aku hanya sekadar ingin mencari tahu tentang dia dan penasaran. Sebab jelas, aku meng’iya’kan ketika malam yang entah kesekian kalinya bertanya “Iya, kamu jatuh cinta?”

Usiaku dua lima. Dan aku baru kembali merasakan jatuh cinta.

Beberapa alasan yang sedikit terdengar aneh barangkali. Ketika aku yakin bahwa aku tidak terlalu mudah jatuh cinta. Ada fase yang rumit dan panjang untuk benar-benar aku meyakinkan diri bahwa aku benar jatuh cinta atau tidak.

Akhir-akhir ini membaca masih menjadi salah satu rutinitas yang tidak bisa diubah. Meski pekerjaan baruku terlihat sangat sibuk atau tampak dibuat seolah-olah seperti itu.

Dan sesekali di lembar ke-sekian. Ketika jeda membuka ke halaman berikutnya. Aku berpikir, apakah lelaki itu suka membaca? Apa yang ia baca?

Aku lebih sering memiliki pikiran-pikiran yang beberapa lain akan berkata ‘membosankan’. Aku berpikir ketika aku bertemu pada takdir memiliki percakapan panjang tentang buku yang sama-sama kita baca.

Ketika memulai percakapan itu.
“Kau suka tokoh Pilar?”
“Aku menyukainya. Tapi dia bodoh. Cinta itu tidak bisa disangkal. Bagaimana dia dan masa kecilnya begitu sepakat untuk mengatakan tidak pada seseorang yang dia jelas-jelas cintai”.
“Bagaimana dia bisa mencintai pemimpin spiritual yang tampan dan karismatik? Dia seorang imam. Suci”.

Kemudian aku tidak mendengar lagi apa yang ia bicarakan. Sebab memandangnya jauh lebih penting. Dan kelemahanku adalah AKU TIDAK BISA MEN-DEBAT ORANG YANG SANGAT AKU SUKAI.

Memiliki persamaan pemahaman dalam hal apapun, sama sekali tidak menyenangkan. Bahkan cenderung membosankan. Kira-kira ada beberapa orang yang memiliki anggapan sama seperti itu.

Satu dua kali saling lempar senyum di lorong. Kantorku. Kantornya juga. Dan aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tanpa kacamata.

Aku mencintainya. Detik itu juga. Dan di detik-detik setelahnya. Sampai entah.

Sebab mencintai seseorang itu selalu menyenangkan. Ada alasan untuk tidak lantas tidur untuk berpura-pura sangat lelah bekerja seharian.

Sebab mencintai seseorang itu selalu menyenangkan. Sebelum akhirnya ada percakapan-percakapan malam yang panjang.

Tanpa sepengetahuan lelaki itu, tentu saja.

Ketika takdirku tidak untuk memiliki percakapan panjang dengannya. Aku masih punya harapan, barangkali takdirnya untuk menemukan dan mempersiapkan percakapan yang panjang denganku.


Kemudian aku menulis. Dan semakin yakin. Aku jatuh cinta.