28 September 2012

Jakarta, pukul empat sore



Pukul empat sore, sudah memasuki musim penghujan di penghujung bulan September. Di balik kaca restoran mini yang sengaja dipesan dengan seorang kenalan lama, beberapa anak kecil berbaju longgar menenteng payung di kiri kanan untuk sekadar mendapat seribu dua ribu rupiah dari pejalan kaki yang membutuhkan jasa payung tumpangan.

“Kamu terlihat lebih dewasa ay”
“Oya?” ucapku berbinar, seperti anak kecil yang mendapat pujian ‘kamu cantik’ dari orang tuanya.
Bahu kekarnya mengangkat dan tersenyum, dengan senyum khas yang memperlihatkan kedua dekik di pipi kiri kanan yang (dulu) pernah sangat aku suka dan susah dilupakan #eeaa
“Ya, jauh lebih cantik dan tidak kekanak-kanakan lagi. Tapi sepertinya masih manja yaa?” matanya yang bulat menatapku lekat
Aku tersenyum, malu.
“Sudah berapa lama gak ketemu, ay?”, “Hampir lima tahunan yaa?” dia menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkannya.
“Hampir, kok tumben ke Jakarta mas? Gak ngabarin sebelumnya juga, untung saya lagi gak sibuk, hee”
“Beda yaa sekarang, sudah ‘sibuk’. Dulu waktu kenal sih masih suka-sukanya maen Barbie kan yaa, masih suka Celine Dion?”
“Haha, ya kali saya juga makhluk hidup mas. Bisa tumbuh juga, masa kecil terus haha, hmm masih inget aja kalau saya suka Celine Dion?” ku mainkan jari di bibir gelas berisi coklat hangat kesukaanku yang masih mengepul asap. (Sengaja masalah Barbie tidak ku jawab, sebab sampai sekarang juga masih suka, malu sudah terlanjur dipuji dewasa hihihi)
“Aku sering baca-baca tulisanmu ay, tulisanmu cantik”
“Oya? Terima kasih. Sekalian kali kalau muji. Masa tulisannya doang yang disebut cantik, haha”
“Terus, aku harus muji orangnya cantik juga gitu?”
Aku memperlihatkan senyum yang paling lucu untuk menarik perhatiannya
“Kamu selalu terlihat cantik, di  mataku, ay. Itu sebab aku selalu gak mau ketemu kamu, kan. Takut jatuh cinta lagi”
Aku tersedak
“Gimana kabar, Adith, mas?” alihku
“Sudah punya pacar kali, haha”
“Haha masa sih, sekecil itu?”
Enggak kecil kali, ay. SD kelas tiga”
“hmm”
“Ohya, gimana kabar laki-laki yang sering kamu ceritakan?”
Aku tersenyum masam, “Yaa gitu deh
“Kenapa? Bodoh aja kalo dia gak mau sama kamu”
“Mungkin malah saya yang bodoh. Selalu suka sama dia, meski gak tahu dia suka apa enggak sama saya” aku menunduk perlahan
“Gak usah sesedih itu juga kali ay, haha. Kamu bayangkan berapa laki-laki yang jauh lebih sedih kamu tolak cintanya”
*straight face*

“Mas, mau langsung pulang?”
“Iya, penerbangan jam 7 nanti”
“Hati-hati, kabar-kabari kalau ke sini lagi”
“Saya gak akan ketemu kamu lagi lah”
“Kenapa?” aku kaget polos
“Takut malah jadi suka”
“yeee, hahaha. Salam buat Adhit dan mbak jangan lupa”
“Baiklah, terus menulis yaa. Suatu saat kamu pasti akan menjadi penulis hebat dan cantik. Dan, ketika itu jangan lupa sama teman lama”
“Aamiiinn, ya ya yaaa… doakan saya mendapat suami yang pantas untuk saya, mas.”
“Pasti, aku pamit ay”
Saya diberi oleh-oleh khas kota seberang “Tanda mata dari kampung” katanya
*

Obrolan singkat dengan ‘kenalan lama’. Tidak terlalu banyak yang diceritakan, pertemuannya mendadak dan waktunya juga gak banyak. Laki-laki dewasa itu adalah salah satu laki-laki yang pernah saya jatuh cintai, duluuu sekali. Saat seragam sekolahku masih putih biru
Bagaimanapun juga, aku adalah seseorang yang tidak begitu saja mudah menghapus kenangan masa lalu. Meski dulu cintanya hanya sebatas ‘cinta masa kanak-kanak’.
Sebab yang saya bisa hanya menulis, beberapa cerita nyata sepertinya lebih bisa dikenang lewat tulisan. Cerita ini tidak terlalu penting mungkin, tapi kelak, beberapa kejadian hari ini akan mudah aku ingat di beberapa tahun kemudian.

Dan sebab, tentu saat ini tidak ada seorang pun yang aku jatuh cintai selain kamu #eeeaa #tetepaaay

27 September 2012

Biarkan cinta itu diam


Untukmu

Waktu baru saja menunjuk pukul lima, tapi rinduku sudah semalaman terjaga.
Sekawanan embun pagi yang setia menetesi hati yang paling sunyi, hatiku, yang tetap diam mencintaimu diam-diam.

Cinta diam seperti apa lagi yang tak bisa aku ragukan ketahanannya? Yang seperti ini, seperti caraku mencintaimu. Jangan salah, aku bisa saja lantang dan lancang menyatakannya saat kapanpun, cukup menepuk pundakmu dan bilang “hey, saya cinta kamu” hahaha semudah itukah? Bukan masalah mudah, tapi rasanya keangkuhan jauh lebih menyelimuti dari pada rasa malu

Bahkan angkuh dalam cinta itu sedikit perlu, bukankah cinta yang jatuh bahkan enggan mengaduh di tempat di mana ia bersimpuh.

Apa sebab aku teramat mencintaimu? Wajar saja, kamu punya kemampuan agama yang bagus, kamu cerdas. Hanya itu? Tentu saja tidak, ada banyak kelebihan yang kamu punya, tapi aku rasa tidak perlu harus tahu selain dari alasan utama itu, segala tentangmu aku pasti menyukainya. Sebab terkadang untuk mencintai seseorang kita tidak perlu banyak alasan mengapa cinta kepadanya harus dijatuhkan.

Diam seperti apa yang disukai embun? Barangkali seperti cintaku yang cinta pada caraku mencintaimu. Dingin, halus, tanpa banyak alasan ini dan itu.


Sedang matahari saja tahu, berapa kali aku pernah (tidak sengaja) bertemu denganmu, hanya satu, dua, tiga..., ya baru sekali ternyata, namun cinta yang jatuh terlalu kuat hantamannya, lucu yaa? Begitulah. Karena itu aku meyakini cinta diam-diamku bukan disebabkan oleh seringnya pertemuan, aku hanya mencintaimu begitu saja, tanpa banyak alasan. Bakan, andai ditanya ‘apa yang aku tahu tentangmu?’ aku hanya menggeleng malu bahwa tak banyak yang aku tahu darimu.

Barangkali cinta yang ku miliki sedikit konyol untuk beberapa orang, namun akan ada yang menyebut indah bagi sebagian lain. Tapi, apapun pendapatnya aku tidak terlalu banyak pedulikan. Caraku mencintaimu, bahkan tidak mengganggu siapa-siapa bukan?

Ada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa “cinta tidak harus memiliki”, dan aku tidak menyukai kalimat itu sama sekali. Jika tidak mampu aku miliki kenapa aku harus cinta? Yaa yaa beda pendapat sebab beda kepala. Bodoh jika aku lama-lama mencintaimu dan tidak ingin memiliki, tentu saja ingin, tapi aku lebih menurut pada takdir. Takut membantah apalagi ingkar, karena aku bisa apa?

Begini saja, aku mencintaimu baik-baik dan percaya akan ada cinta baik yang akan membawaku pergi. Bukan terlalu percaya diri, aku hanya tidak ingin berburuk sangka. Rasanya hidup terlalu rumit jika separuh hati digunakan untuk berpikir hal-hal sulit.

Aku mencintaimu seperti ini, sesekali isyarat rindu kan ku buat menjadi gumpalan kertas dan jauh-jauh ku lempar, berharap kau dapat menangkap isyaratku dengan benar. Kamu begitu saja, tetap dengan caramu. Sebab, meski bahkan andai kita saling cintapun belum tentu takdir sepakat menyatukan kita, sekali lagi, aku bisa apa?

Dari aku, yang mencintaimu

26 September 2012

Celine Dion



Wah, menulis ini saya bahagia. Yaa kadang, saya sering menemukan kebahagiaan tiba-tiba, tak terduga. Sederhana, teman saya tiba-tiba memberi DVD salah satu album lagu-lagu penyanyi favorite saya sepanjang masa Celine Dion

Yup, hampir lupa. Diantara beberapa postingan blog, belum pernah menceritakan penyanyi idola. Mengakui, bahwa memang saya tidak mudah mengagumi tokoh, public figure apalagi selebritis manapun. Rasanya mereka semua adalah mengagumkan dengan karya-karya mereka, tetapi Celine Dion adalah satu-satunya penyanyi favorite saya.

Berawal dari mengenalnya (yakali saya kenalan gitu, haha) duduk dibangku sekolah dasar melalui lagu “My heart will go on” yang kala itu menjadi sound track film fenomenal Titanic.  Setelah itu dan setelahnya kemudian, dengannya saya jatuh cinta. Seperti cinta saya ke hal-hal yang lain, saya menyukai untuk mengetahuinya detail. Meski pada akhirnya saya berpikir bahwa tidak harus tahu semua tentangnya pun saya tetap suka. Ya, begitulah kadang memang untuk mencintai seseorang saya selalu berpikir bahwa tidak harus selalu tahu semua hal tentang yang bersangkutan.

Celine Marie Claudette Dion atau Celine Dion lahir di Kanada, 30 Maret 1968. Wanita yang mengawali karier sebagai penyanyi berbahasa Perancis ini berkali-kali membuat saya selalu berdecak kagum setiap melihat aksi panggung karena suaranya yang keren. Memiliki koleksi lagu-lagunya mulai dari berbahasa Perancis (yang sebagian saya tidak tahu artinya), lagu-lagu terlaris dalam bahasa Inggris, bahkan kegiatan-kegiatan sehari-hari Celine dengan keluarganya, saya punya, keren yaa saya hee #biasakaleee

Rene, Eddy, Nelson
23 Oktober 2010 lalu, Celine melahirkan dua putra kembar yang sangat lucu setelah kelahiran putra pertamanya Rene Charles Angelil. Kedua bayi kembar itu diberi nama Eddy dan Nelson. Lengkap sudah kebahagian perempuan yang berusia lebih dari 40 tahun itu memiliki tiga putra yang gagah dan cakap dari pernikahannya dengan Rene Angelil, yang juga merupakan manager Celine.
Celine Dion's familly
Banyak berita yang bisa didapat tentang Celine Dion, namun sebab saya tidak sedang membahas biography penyanyi favorite saya tersebut, karena saya hanya ingin menuliskan bahwa betapa saya selalu menyukai semua tentang Celine Dion. Menyukai semua lagunya, menyukai cerita-cerita tentangnya, tidak mengharapkan apapun selain menyukai begitu saja.

Lagu favorite saya dari Celine Dion adalah goodbye’s the saddest word yang ia persembahkan untuk mamanya tercinta dan untuk sekalian mama pada umumnya. Dan juga lagu send me a lover. Meski pada halnya semua lagu dia saya suka.

Celine Dion, adalah satu-satunya penyanyi favorite saya, selainnya, tidak ada heee

Nb: saking mengidolakan dan hafal lagu-lagunya, salah satu teman sering memanggil saya "my Little Celine Dion" hihiii
 *memutar lagu “mama” ~ Celine Dion

Senja, kopi dan ingatan tentangmu



Senja hilang separuh, kopi gelas ketigaku masih penuh. Tegukan kedua, baru tersadar kopi kali ini sedikit kelebihan gula, ah, aku kurang suka.

Hujan di luar cukup deras untuk menerbangkan anganku yang sempat tertahan.

Adakah cinta yang lebih baik melebihi ini? Barangkali ada, entahlah. Sebab yang aku tahu, yang terbaik adalah caraku mencintaimu. Perlahan, diam, bahkan ketika hatiku menjerit, bibirku kelu tak mau tahu, yaa seacuh itu.

Tegukan ketiga, manis pekatnya sudah tak ku hirau lagi. Aku lebih mencemaskan hati yang semakin lama semakin terasa getir, menahan sabar menanti takdir, akan apa kelak yang ia dapat dalam penantian paling akhir.

Kesetiaan, siapa yang tahu. Siapa peduli dengan pertahanan sekuat ini, se-mengagum-kan ini.

Tegukan terakhir, hujan sedikit reda, senja benar-benar telah pergi. Aku bangkit berdiri, perlahan meninggalkan setumpuk gelas kosong yang menyisakan sepi.

Aku menyadari, bahwa hingga hari ini cinta yang ku punya belum jua menemukan pemiliknya.

September kedua



Langkahku tertahan, berhenti perlahan.  Menoleh ke belakang, tengok kiri kanan, lho tiada siapa-siapa. Tapi tadi terdengar betul, sayup suara memanggil namaku, meski belakangan sadar di sini tiada seorang pun aku kenal.

Angin senja yang akhirnya menyadarkanku bahwa di tanah pijakan ini terlalu dingin untuk berangan-angan. Atau memang kenangan itu sudah tak pantas lagi diingat, terlalu usang.

Perjalanan kali ini terasa lebih jauh, meski kesadaranku tentangmu sudah hilang separuh. Ini kabar baik, aku bisa melupakanmu dengan baik. Tidak secepat itu, ini adalah September kedua setelah aku putuskan melupakan luka-luka, istirahat sesaat.

Jalan kecil panjang berbatu, hanya rumput dan warna warni bebungaan sejauh mata memandang.

Ini hanya sebuah kota khayalan, kota tempat pikiranku mengasingkan diri. Di sini, cinta akan tidur sementara waktu, menenangkan dirinya sendiri.

Hingga tiba saat nanti, aku bangun dari tidur panjang dan bisa mencintaimu kembali.

18 September 2012

Mueeza


Ketika menulis ini, saya sedang harus merelakan salah satu anak kucing saya di rumah meninggal, hiks. Ini adalah kali ketiga saya kehilangan kucing-kucing kesayangan saya.

Dulu sekali, ketika duduk di SD kelas tiga pertama kali saya memiliki kucing lucu, saya beri nama “Sun” artinya matahari. Dengan bulu putih dan sedikit dipadu warna hitam di bagian badan, ekor dan telinga sebelah kiri. Sun, adalah anak ketiga dari kucing kakek saya. Ibunya gemuk, tapi anaknya kecil mungil, menggemaskan.

Saking sayangnya, saya ajak tidur sekasur. Meski kadang setiap pagi, saya baru tahu ternyata dia sudah kabur tidak betah saya selimuti. Seperti ibunya, yang sayang dan setia pada kakek saya. Sun, ikut setia ikut saya, belakangan saya pikir mungkin bukan karena setia tapi setengah saya paksa ikut kemana-mana.

Almarhum kakek saya adalah seorang yang rutin mendidik saya bagaimana merawat seekor kucing, naik kelas empat, saya diceritakan sebuah kisah bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan hewan kesayangannya.

Kakek saya cerita panjang, tapi saya lupa. Dan, bagian ini yang ia ceritakan berulang-ulang
“Rasul punya kucing yang diberi nama Mueeza, Beliau mencintai hewan lucu ini. Bahkan saking cintanya, ketika Mueeza tidur di atas jubahnya, Rasul memotong bagian lengan jubah hanya agar tidak ingin mengganggu tidur kucing kesayangannya. Ketika Nabi pulang, Mueeza bersujud di hadapan Muhammad SAW, dan beliau mengelus kucing kesayangannya tiga kali usapan”
Ini hanya sebagian kecil cerita Rasul dan kucingnya, ada banyak yang lain tapi ini potongan kisah yang saya suka. Betapa ternyata Nabi tercintapun mencintai hewan yang juga sangat saya cintai.

Si manis, nama kucing kesayangan kakek saya. Padahal wajahnya gak manis-manis amat juga sih. Dia hanya nurut perintah kakek saya, sedikit agak manja dan tahu ada orang yang tidak dikenal masuk ke rumahnya. Sedikit ada cerita, ketika saya menginjak kelas 1 SMP, kakek saya meninggal dunia. Dan, si manis jatuh sakit tak bisa pergi jauh dari tempat tidur alm kakek saya. Dua minggu setelahnya, si manis meninggal menyusul majikannya. Saya menyaksikan betapa si manis sangat mencintai kakek saya sebab paham tuannya memperlakukan dia dengan amat sangat baik.

Tapi cerita yang menyedihkan, justru jauh sebelum itu. Sun, kucing mungil kesayangan saya justru meninggal saat saya duduk di kelas empat. Ketika saya tinggalkan seminggu berkemah, dan ternyata dia tidak pernah pulang ke rumah ketika malam. Hingga saya pulang, sepertinya selama seminggu itu ia salah pergaulan. Dengan wajah yang tidak terurus dan lebih sering mengeong di atap rumah tetangga sebelah. Sepertinya sun sudah mengenal jatuh cinta, itu adalah saat paling menyebalkan. Sun, tidak berumur panjang. Kurang dari setahun bersama-sama dengan saya, dia meninggal karena kecelakaan.

Dan yang saat ini meninggal adalah, Cattie. Anak kucing berbulu kuning yang tinggal bersama ibu saya. Beliau bilang, Cattie sakit. Dan saya tidak sempat melihat untuk yang terakhir kalinya.

Di sini, itu sebab saya jauh lebih banyak galau sebab barangkali terlalu kesepian tidak punya hewan peliharaan. Saya takut bawa kucing masuk ke kost-an. Takut, tidak terawat dengan benar. Pergi kerja pagi pulang malam, bahkan lebih sering menginap di studio jika ada syuting malam #inicurhat. Lantas, bagaimana dengan nasib kucing saya kelak (._.”)

Tapi kecintaan saya pada kucing ini tak pernah bisa hilang, nanti jika sudah punya rumah hewan yang paling pertama kali saya bawa masuk adalah ‘Mueeza’.

17 September 2012

Kereta Api Pukul Tujuh Pagi


Tong teng tong teng…
“Perhatian… perhatian…”
Ah, acuhkan…  itu bukan keretaku
Aku membetulkan letak duduk, menaikan bahu lebih tinggi ke atas pembatas kursi.
Angin lembut menerpa ujung rambut hitamku, menyapu sekeliling, melelapkan mimpi

Langkahku ringan, tanpa alas kaki. Ku tarik sedikit gaun putih bersih dengan hiasan manik-manik berkelap kelip agar tidak menyentuh tanah berpasir. Riang, tanpa beban, tak henti senyum tersungging dari bibir yang dipoles pewarna merah muda tipis-tipis.
“Duhai, kamu cantik sekali” sapa beberapa pasang mata yang berpapasan denganku. Aku tersenyum malu-malu. Mahkota di kepalaku hampir jatuh, ku seimbangkan terburu-buru, lantas berlari kecil menujumu
Lamat-lamat dan perlahan semakin jelas, aku melihat kau berdiri di tepi danau, sangat gagah. Apa yang kurasa saat itu, tak terlukiskan, tak sanggup ku tuliskan.
Langit cerah, awan berarak riang, air danau jernih dihiasi bebungaan warna warni dan pohon-pohon rindang di sisi kiri kanan. Kau dayung perahu kecil ‘kita’ menuju hillir, perlahan-lahan, menjauh dari tepian, tenang.
“duhai, kau cantik sekali” katamu
Aku merunduk, tersipu. Beruntung, merah pipiku luput kau perhatikan karena segera kau beralih menunjuk sekawanan anak-anak burung di tepian, saling bercicit, berebut mencari makan.
“lucu” katamu
Aku mengangguk setuju, sambil sesekali melirik malu-malu “Ah, aku tak pernah habis-habis mencintaimu”
Ada banyak kata indah yang kau ucap saat itu, sayang memoriku tak sanggup mengingat satu-satu, atau memang kenyataannya apa yang keluar dari bibirmu semua selalu indah, menurutku.
Perlahan, kayuh dayungmu melambat. Tidak, bahkan berhenti, tepat di tengah danau
Tak ada suara apapun, bahkan angin seolah enggan berhembus menerbangkan kebahagiaan. Aku ingat, perlahan kau menggenggam jemari dan lembut merengkuh kepalaku.
“Ini gaun pengantin terindah” bisikmu, sekali lagi aku tersipu dan semuanya terasa menyenangkan
Aku bisa merasakan genggamanmu perlahan merenggang, dan akhirnya benar-benar kau lepaskan.
Aku menyadari, sepi, aku sendiri sekarang
“duh, dimanakah kau, sayang?”
Beberapa teriakan ingin ku keluarkan, namun entah kenapa suaraku tiba-tiba hilang
Hilang disapu suara berisik lokomotif kereta api, ini masih pukul 7 pagi.
Keretaku datang, perlahan aku bangkit berdiri… mencari-cari pegangan antara ruang sadar dan alam mimpi. Lantas berbaur masuk dengan para penumpang, berdesakan.

Kau tahu, aku hanyalah gadis buta yang jangankan melihat gagah kemeja pengantin yang kau kenakan, bahkan di mana keberadaanmu pun tak jua aku temukan.

Sedang kau, aku tahu betul. Kau hanya laki-laki bisu yang jangankan berbisik “Ini gaun pengantin terindah”, bahkan mengucap cintapun kau tidak pernah.

Kereta api pukul 7 pagi, mimpiku selalu berulang, di sini, setiap hari

*memutar instrument wedding bell, depapepe

Tulisan ini dibuat, tentangmu, dan khayalan-khayalanku. Tentang kebutaan cinta, dan kediamanmu yang membimbangkanku. Sedikit lebih lega setelah menuliskan, atau memang menulis itu melegakan dan satu-satunya obat penawar segala keresahan.
Terima kasih, kamu. Sudah membuatku tidak pernah bisa berhenti mencintai dan memberiku banyak mimpi

13 September 2012

Rumah Idaman #bukaniklan

surga kecil
Karena 70% otak saya dipekerjakan untuk “berkhayal”, maka saya ingin  menulis beberapa khayalan dan keinginan saya di sini, sekarang

Barangkali beberapa orang tidak tahu (atau memang tidak harus tahu) bahwa betapa saya mencintai berkebun sama seperti saya mencintai menulis. Tidak sedikit waktu yang saya habiskan untuk berpikir tentang kebun seperti apa yang saya ingin miliki, nanti.

Terbayang tidak sih, ada banyak yang bisa dimanfaatkan dari hasil tanaman sendiri. Wangi bunga setiap hari, mau masak ini tinggal petik, mau masak itu tinggal berlari ke kebun belakang rumah mungil, ya Rabb itu surga kecil dalam imajinasi saya yang tak habis-habis.

Izinkan saya berandai-andai, kelak, saya ingin memiliki taman di sekeliling rumah yang luas. Akan dengan sepenuh hati saya tanami bunga, sayuran atau apapun yang bisa ditanam. Wangi aroma bunga mekar atau tetes embun yang menempel di dedaun setip saya membuka mata, itu bisa membuat saya tergila-gila. Saya akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengurus dan merawat kebun-kebun saya. Barangkali itu sebab saya berniat memutuskan untuk tidak bekerja setelah menikah.

Saya benar-benar akan ‘pensiun’ setelah berumah tangga, tidak bercanda, karena bagi saya yang terpenting dalam hidup adalah menciptakan surga kecil bagi suami dan anak-anak saya. Separuh hidup saya setelah ini, akan saya abdikan untuk menjadi ‘rumah’ tempat pulang yang nyaman bagi seluruh keluarga. Tidak khawatir akan merasa sepi karena bekerja di rumah itu jauh lebih menyenangkan. Merawat beberapa hewan peliharaan, bersedia membungkuk mengurus taman asri di bawah terik matahari, setiap sudut rumah kecil saya perhatikan sampai detail, menyiapkan makanan untuk anak suami, #iyainicurhatbanget

entah kenapa, saya jatuh cinta pada gambar ini
gerbang 'surga' kecil
Barangkali karena saya suka menulis, suka membaca, suka kucing, suka kebun, suka masak, suka makan, dan suka kamu. Itu sebab, saya memilih tidak ingin apa-apa lagi. Tidak ingin tinggal di kota yang ramai, tidak suka bising suara knalpot, tidak suka hiruk pikuk sumpah serapah ‘penguasa jalanan’. Saya ingin memiliki rumah mungil dan berisi cinta yang besar, perpustakaan kecil dengan buku-buku lengkap, sekeliling taman yang asri, rumah yang melahirkan anak-anak yang luar biasa,  ide-ide menulis terlahir dari suasana penuh damai.

Ada banyak yang ingin dituliskan, tapi nyatanya huruf-huruf hilang beterbangan bersama-sama dengan khayalan. Surga terindah dalam imajinasi saya :)

11 September 2012

Aku lupa, kepadamu, aku telah jatuh cinta


Aku melihatmu, lagi
Tiba-tiba mengaduh, tidak ada yang terluka lantas aku meneruskan langkah dengan biasa saja

Tersenyum biasa, menyapa beberapa pasang kaki yang berlalu lalang dengan biasa. Memilih duduk di kursi paling pojok taman buku yang sudah berapa tahun ini ku kunjungi. Membuka tutup air minum yang sengaja ku bawa dari rumah dan meneguk pelan-pelan. Lantas kembali menekuri salah satu judul buku favorite yang belakangan aku tahu, kau juga menyukainya. Ingat itu, aku tersipu tiba-tiba dan tersadar lantas memperbaiki sikap secepatnya.

Setengah jam berlalu…

Lantas, setengah jam berikutnya

Tidak ada apapun yang terjadi, dan menyadari aku masih sendiri di sudut ruangan kecil ini. Sebelum akhirnya, aku melihatmu lagi. Di sudut yang bersebrangan, dengan kepala tertunduk dan tangan kanan mengetuk ujung-ujung meja beberapa langkah dari rak tinggi warna kemerahan. Bukan rak buku yang kemerahan, cahaya jingga yang memaksa masuk menembus kaca pembatas ruangan juga menerangi ujung rambutmu, aku diam.

Aku tidak bisa membaca dengan benar, berkali-kali memperbaiki duduk dan menenangkan debar. Tidak berhasil, sial. Aku tidak bisa biasa saja, tidak bisa tersenyum biasa, sepasang langkah terhenti menatap dan menyapaku, aku tidak balas menyapa mereka. Bukan aku, tapi ujung-ujung aliran syaraf yang mengalirkan darahku yang tak biasa. Aku mengaduh lebih gaduh, menjerit terasa sakit, tapi bahagia.

Tidak ada apa-apa, selain kosong. Kenapa otakku sangat payah menterjemahkannya. Kenapa jantungku tidak bisa dikendalikan debarannya. Hey, lihat… tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya laki-laki yang hadir hasil imajinasiku sendiri.

Laki-laki yang beberapa tahun terakhir sangat akrab nama dan wajahnya di mataku. Aku terduduk lemah, berusaha menenangkan diri dari ingatan tentangmu yang selalu datang tiba-tiba, di mana saja.

Aku lupa, bahwa kepadamu aku telah jatuh cinta.

Kanak-kanak yang jatuh cinta pada satu pria



Aku melihatmu, seketika aku bahagia. Tanpa peduli apa-apa berlari mengejar langkah patah-patahmu yang masih tak beraturan.

Aku, anak kecil tanpa merasa memiliki dosa menatap bulatan hitam kedua bola matamu. Mencari kekhawatiran dan mencoba menerka dari melihat kau diam, betapa aku menanti jawaban.

Kau tersenyum manis memperlihatkan gigi-gigimu yang rapi, lalu kemudian bungkam. Kilatan cemas terpantul dari ke dua ujung matamu, ku lirik takut-takut dengan ekor mataku.

Aku, ragu-ragu perlahan menjauh. Kesendirin ku pilih, berjalan tertunduk memilin ujung rambut dan mendekap perasaan yang terasa tak lagi gaduh, serta dua tiga air mata satu-satu perlahan jatuh.

Tidak sekarang, atau barangkali nanti, mungkin juga entah dan pada akhirnya tidak ada jawaban sama sekali.

Aku gadis kanak-kanak yang selalu jatuh cinta, hanya pada satu pria

10 September 2012

Perahu Kertas



Ini senja ke sekian, ketika aku berulang-ulang meneriakan rindu dan hatimu masih tetap bungkam.

Angin berhembus pelan, menyibak tirai keresahanku menahan debar tak tertahankan. Aku tak pernah melihatmu lagi, setelah beberapa waktu lalu. Setelah waktu yang entah aku lupa kapan, atau memang daya ingatku selalu tak mampu merekam setiap jeda perpisahan. Beda dengan waktu kapan dan dimana saja aku bertemu denganmu dan ingat betul apa yang aku rasakan.

Selama ini cintaku memilih diam, rinduku ku kubur dalam-dalam. Bukan tak tahu, kalau kau pun pura-pura tak ketahui perasaanku. Tapi, tiada yang lebih aku harapkan selain bahagia mengagumimu. Aku ingin bahagia setiap hari, itu sebab aku memilih dirimu untuk tetap aku cintai.

Senja di bawah langit jingga, aku menulis “Selamat senja, rindu. Dariku, yang selalu jatuh cinta pada segala tentangmu” di atas sebuah kertas. Kertas yang tak akan pernah tersampaikan. Sama seperti pesan rindu yang tertulis di dalamnya, yang ku lipat menjadi sebuah perahu dan dihanyutkan air sungai ke mana entah.

Aku tersenyum untuk kesekian kalinya, yaa mencintamu, hanya cukup begini saja.