1 Juli 2016

Alangkah Lucunya Negeri Ini


Mirip judul film yang dibintangi si ganteng Reza Rahadian, tapi bukan, ini bukan promo film. Karena film itu sudah dirilis dari tahun 2010 lalu. 

Tapi kurang lebih keherannya sama persis dengan makna film itu. Betapa kita lagi-lagi sangat keseringan mengernyitkan dahi karena tidak habis pikir dengan segala yang baru-baru terjadi di Negeri ini.

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang harus selalu update portal berita. Dan setiap hari, ada banyak kasus yang rasa-rasanya membuat syok, miris, heran, terkesima, tercengang, marah, kesal setengah mati, dan tragis.

Entah atau ini hanya perasaan saya, mungkin sekitar lima belas tahun lalu, berarti usia-usia saya berada di sekolah menengah pertama. Berita di televisi yang saya lihat seputar penculikan anak, kecelakaan, maling motor, kebakaran, banjir dan macet Jakarta. Sesadis-sadisnya kasus adalah pembunuhan yang meninggalkan korban meninggal dicekik, atau KDRT.

Dan beberapa bulan ke belakang ini, kasus yang terjadi berubah, benar-benar berubah.

Pembunuhan sadis dengan korban pemerkosaan anak usia sekolah menengah pertama, dilakukan lebih dari 10 orang.

Pemerkosaan dan pembunuhan anak umur 2 tahun, lantas mayatnya disekap di lemari semalaman, oleh lelaki yang saya tidak tahu ketika dia diciptakan lengkap beserta otak dan naluri kemanusiaannya atau tidak. Membayangkan melototi anak yang sedang lucu-lucunya itu saja rasanya tidak tega, dan dia melakukan hal yang membuat semua manusia berakal marah.

Tiga pemuda yang ‘gara-gara asmara’ akhirnya tega melakukan pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap seorang gadis. Saya tidak paham, apa yang ada dalam pikiran mereka ketika memasukkan gagang cangkul ke dalam kemaluan korban sampai masuk rongga dada, hingga meninggal. Bahkan ketiganya dilahirkan oleh seorang ibu, seorang perempuan.

Di balik semua kisah sadis itu, hal yang membuat miris adalah, beriringan dengan beredarnya video-video dan photo anak sekolah dasar saling berpeluk cium dengan lawan jenis dan meng-update status “Aku tidak ingin kehilanganmu, Sayang…”.

Usia saya yang (pada saat itu) bahkan marah dan menangis ketika diolok-olok suka dengan si Anu di kelas. Malu, merasa bahwa suka-sukaan dengan lawan jenis rasanya aib.

Beredar lagi video anak sekolah menengah yang menari striptis dengan teman-teman sebaya. Kasus siswi yang menunjuk-nunjuk dan membentak seorang polisi wanita (yang mungkin sebaya ibunya) di tengah jalan dengan coretan baju tanda kelulusan. Tragisnya, orang tua anak itu juga akhirnya meninggal dikabarkan tidak tahan dengan semua komentar pedas masyarakat, yang dilemparkan ke anak dan keluargnya.

Usia saya yang (pada saat itu) pulang sekolah tidak tepat waktu dan lupa minta izin saja rasanya sudah membuat kesalahan besar pada orang tua.

Lebih miris lagi kasus yang baru saja terjadi adalah, anak sekolah yang melaporkan gurunya sendiri dalam jalur hukum, karena alasan ia dicubit dan dipukul di kelas.

Usia saya (yang pada saat itu) bahkan berpapasan dengan guru di jalan saja rasanya ingin pura-pura tidak melihat karena sungkan. Sebegitu besar perasaan respect saya dan teman-teman kepada guru di kelas. Semakin galak dan tegas guru, semakin kita nurut dan segan. Semakin lembut guru, semakin sayang dan bahkan jadi teman.

Berikut headline berita 'geger' yang terjadi sampai pertengahan tahun 2016

Saya tertegun dan berpikir keras, apa yang salah dengan negeri ini, bahkan dalam kurun waktu belum sampai 20 tahun dari kedamaian yang sempat saya rasakan di masa kecil. Saat ini semuanya asing, berubah dengan cepat. System yang dulu sangat kuat, sekarang bisa menjadi selonggar-longgarnya peraturan dan norma yang berlaku seolah ditiadakan dengan keadaan.

Saya dan suami yang seorang wartawan, kadang diskusi di waktu senggang. Membahas kasus itu dan ini, yang sedang terjadi. Saya yang setiap hari bekerja online, semakin dituntut untuk banyak membaca dan memahami apa sebenernya yang sudah dilakukan anak-anak usia remaja tersebut. Apa yang ada dalam pikiran mereka.
Dan pertanyaannya siapa yang paling bertanggungjawab atas tindakan ‘penyimpangan’ remaja-remaja itu?
Orang tua?
System teknologi maju?
Kemudahan peraturan dan norma yang rasanya sudah tidak lagi ada?
Guru-guru di sekolah?
Lingkungan?




Dan jawabannya adalah, ternyata semua ikut terlibat. Siapa yang paling diantara yang paling bertanggungjawab pada semuanya adalah diri sendiri.

Saya tidak akan membahas bagaimana cara membentuk karakater yang benar. Justru saya sedang mencari cara apa yang harus saya lakukan kepada anak saya kelak.

Apa sikap yang salah, yang pada akhirnya membentuk karakter anak yang salah. Apa sikap yang benar, yang pada akhirnya akan membentuk diri anak sebenar-benarnya.



Sampai tulisan ini diposting, saat ini ada kasus:
* Suami istri yang dengan tega menggunakan vaksin palsu
* Surat permintaan fasilitas ‘mewah’ wakil ketua DPR untuk anaknya yang ada di luar Negeri.
* Dan lagu “Lelaki Kerdus” yang dinyanyikan anak usia 10 tahun dengan lyric yang sangat tidak pantas. Menghujat ayahnya karena menduakan ibunya, bahkan dengan kata-kata lelaki b*ngs*t


Sengaja saya tidak membahas kasus yang berkaitan dengan agama, karena makin banyak yang tidak saya paham, akan lucunya isi kepala semua manusia yang ada di Negeri ini.

14 Februari 2016

Surat kepada mantan

Surat kepada mantan Bag. 2


Dear, mantan kesayangan (yang sekarang sudah menjadi suami kesayangan)

Setiap kali saya jatuh cinta, selalu terlalu. Setiap kali saya menyukai seseorang, selalu terlalu. Berpikir bahwa semua yang terlalu berlebihan itu tidak baik, kerap saya paksa kurang-kurangi.

Seperti saat ini, saya mencintai lelaki saya terlalu. Ketika apapun bisa saya lakukan untuk membuat dia bahagia, akan saya lakukan. Se-keterlaluan itu.

Tapi ternyata saya tidak ingin serugi itu mencintai, bisa dibilang saya orang yang perhitungan, bahkan dalam masalah perasaan.

Ketika kamu mencintai saya 98%, maka saya akan mencintai kamu 99%. Ketika kamu merindukan saya 78%, saya akan kembalikan rindu itu 79%. Ternyata bahkan saya lebihkan satu persen setiap perhitungannya. Saya begitu baik.

Bagaimana ketika kamu bohongi saya 34%, atau ternyata kamu memberi hati kepada perempuan lain 25%?

Apakah saya punya perhitungan yang sama? Apakah saya akan balik membohongi kamu 35%, atau saya juga terpaksa harus mencari lelaki idaman lain yang akan saya beri kadar perasaan sebesar 26%?

Jawabannya, tidak.

Saya tidak sebodoh itu, saya tidak ingin sama rendahnya dengan apa yang telah kamu lakukan. Ketika kamu mecintai saya sebesar ini () maka saya akan membalas mencintai kamu sebesar ini (  ). Jika kamu mengkhianati kepercayaan saya bahkan sekecil ini , maka saya akan membuat kamu merasa bersalah sebesar ini

Saya hanya akan menunggu waktu untuk memukul kamu dengan sangat keras, di waktu dan tempat yang paling tepat.

Begitu aturan main perasaan saya.

Dear, mantan kesayangan, yang sekarang sudah menjadi suami kesayangan.
Ketika kamu ingin menjadikan saya perempuan yang bisa dicintai, jangan beri celah sedikitpun untuk saya merasa menyesal telah memilihmu.

Sebab, kita bukan dua orang bodoh yang pura-pura saling mencintai.

13 Februari 2016

Surat kepada Mantan


Seberapa dekat hubungan kamu dengan saya(?)
Seberapa berkesan masa lalu kamu, dulu(?)
Iya, barangkali ada beberapa kenangan yang tak bisa kamu lupakan begitu saja dengan seseorang masa lalu. Iya, dia jauh lebih dulu mengenal kamu dekat sebelum saya. Tapi hey, itu adalah masa lalu.
Saya pernah membuat tulisan tentang sebuah masa lalu, masa lalu itu tidak untuk dilupakan karena dengan sendirinya ia akan hilang. Tapi bagaimana akan hilang ketika kamu masih rajin mengunjungi masa lalu kamu. Rutin.

Saya, salah satu perempuan yang masuk golongan tidak punya banyak mantan pacar, tapi seseorang di masa lalu itu banyak. Seseorang di masa lalu selalu seru untuk diingat, tetapi rasanya saya tidak sebodoh itu. Saya memiliki seseorang sekarang di hidup saya. Seseorang yang mati-matian ingin saya bahagiakan hidupnya. Masa lalu? Ya hanya masa lalu.

Dear mantan,
Saya tidak bisa mengunjungimu walau sekali, sebab kamu sudah tidak ada di sini, di hati saya. Sedikitpun.’

Iya, ada banyak sekali kenangan yang saya sudah lalui bersama kamu. Iya, kamu lebih dulu mengenal saya dekat, daripada seseorang yang ada di samping saya sekarang. Tapi, kamu hanya masa lalu, yang sudah tidak lagi ada. Tidak pernah lagi.
Saya, bukan termasuk perempuan yang banyak aturan pada pasangan. Tapi saya memiliki cemburu yang sangat banyak, meski rasa sayang tetap lebih banyak dari itu.
Ketika saya dekat dengan seseorang, saya tidak pernah bisa membuat aturan ini itu. Termasuk dia yang masih menghubungi mantan masa lalunya. Cemburu, jelas, tapi saya berpikir bahwa sedekat apapun, dia masih ‘orang lain’.

Saya pernah berhubungan dekat (pacaran) dengan seseorang, yang kemudian sekarang jadi mantan saya, bahkan saya sudah lamaran ketika itu. Tetapi saya masih tidak bisa membuat aturan ini itu, yang kemudian menjadikan itu beban saya.

Sekalipun, saya tidak pernah bilang “Hey, kamu masih suka komunikasi dengan mantan kamu?”, atau “Sayang, aku ga suka ya kamu masih whatsApp-an sama si A atau si B”. saya tidak pernah melakukannya, meski saya bisa saja barangkali.

Padahal saya selalu melihat percakapan dia dengan ‘mantan-‘mantan’ di masa lalunya. Bukan percakapan semacam “Hey, harga mobil berapa sekarang?”, atau “Hai, tempat yang dulu kita pernah ke sana, apa namanya? Aku mau ke sana lagi, lupa”.
Bukan, bukan percakapan semacam itu. Saya tidak sebodoh itu untuk cemburu pada percakapan penting mereka, tidak serendah itu untuk mencemburui hal-hal yang tidak seharusnya.

Tapi, bagaimana jika percakapan mereka “Hey, rambut kamu dipotong yaa, hey rambut kamu dilurusan ya, bagus, coba liat dong kirim photonya”. Wait…? What? Oke sabaaarrr…

Tapi, bagaimana jika percakapan mereka “Hi, tahun baru kamu ke mana? Kok gak ke Bandung aja? Hey, ketemuan yuk aku di sini nih. Hey, aku mau ke Jepang, maaf yaa aku gak bisa nepatin janji, dulu aku mau ngajak kamu”. Wait…? What…?
Oke masih harus sabaaarrr…

Mengapa(?)
Bukankah saya memiliki cemburu yang sangat besar(?) kenapa saya biarkan percakpan semacam itu ada(?). Karena cemburu saya tidak untuk orang lain. Meski bahkan saat itu dia sudah jadi tunangan saya.





Sekarang, mantan saya sudah menjadi suami, sudah menjadi milik saya. Apakah saya masih bisa bilang “sabaarr…” pada percakapan ‘tidak penting’ semacam itu(?) tentu saja tidak.

Tapi, saya bukan yang kemudian marah yang menjadikan hal semacam itu materi keributan dalam rumah tangga saya yang baru kami jalani sebulan ini. Saya punya materi marah-marah yang lain.

Bagaimana saya menyikapi percakapan-percakapan ‘gelap’ suami saya dengan orang-orang di masa lalunya(?)

Saya delete.

Cemburu itu, marah itu, akan semakin besar ketika saya melihat, membaca lagi dan lagi.

Segampang itu(?)
Bagaimana kalau suami saya kemudian diam-diam kembali menghubungi masa lalunya(?)

Saya percaya, dia tidak akan melalukan hal itu (lagi), Atau ketika kepercayaan saya sudah habis, setidaknya saya sangat percaya Tuhan akan menjaga hati suami saya. Ketika ternyata suami saya tidak lagi bisa digenggam kepercayaannya, semesta akan menunjukkan bagaimanapun caranya.

Itu sebab saya menulis ini.

Dear, mantan, yang sekarang sudah menjadi suami saya. Jangan sesekali berpikiran untuk bermain api. Saya menghargai masa lalu kamu, setidaknya kamu bisa menghargai saya saat ini. Kenapa saya membenci perbuatan kamu, karena saya juga tidak pernah melakukan perbuatan semacam itu.

Hey, sayang, bukan hanya kamu, saya pun bisa melakukan hal serupa. Tapi tidak akan, selama saya menghargai diri saya sendiri, saya menghargai cinta yang saya punya. Cinta saya sempurna, tidak bisa saya lukai.

Mencintai itu, saling. Tidak bisa masing-masing. Tidak bisa saya sendiri mati-matian menjaga hati, sementara kamu tidak. Tidak bisa kamu mati-matian setia, sementara saya tidak.

Ketika kamu adalah milik saya, maka semuanya adalah milik saya, penuh.

Saya percaya, itu sebab saya memilih kamu J


10 Februari 2016

PASTIKAN SEMUA CERITAMU SAMPAI - (PADA SIAPA, PADA YANG SEHARUSNYA)

Sudah kamu ceritakan pada siapa saja, jatuh cintamu hari ini?
Sudah kamu tumpahkan pada siapa saja, kesedihanmu hari ini?
Siapa saja yang kamu kabari, kalau kamu sudah lulus kuliah?
Siapa saja yang tahu, kalau kau benci warna merah?


Semacam itu, dan hal-hal banyak lainnya, berulang setiap hari, tak pernah bisa habis.

Saya butuh orang lain, untuk mendengarkan beberapa potongan cerita penting (atau mungkin sama sekali tidak), yang bisa mendengarkan.
Bisa jadi teman, keluarga, saudara, anak kecil, social media, pasangan, atau yang baru dikenal di angkutan umum selama perjalanan ke luar kota.
Kamu juga, kalian pun.

Tidak bisa tidak, saya dan kamu butuh mereka. Mereka yang akan mendengar dengan baik. Beberapa cerita itu tidak selalu harus diberi nasihat, tidak melulu butuh pendapat. Didengar saja, cukup sudah.
Saya butuh mereka. Kamu juga. Kalian pun.

Akhir-akhir ini, ada beberapa malam yang kadang saya sisihkan waktu untuk diam. Kemudian berpikir,
“hari ini saya sudah cerita apa saja, pada siapa”.
Akhir-akhir ini, ada beberapa malam yang saya sempatkan untuk bertanya,
"Apakah semua cerita saya hari ini sampai kepada orang yang seharusnya".

Tidak semua cerita yang sama, sampai kepada orang yang berbeda. Semacam itu.


Saya memiliki cukup banyak teman. Tapi hanya memiliki sedikit teman ‘cerita’.

Teman di sekolah, memakai seragam yang sama, memiliki guru yang sama, menerima pelajaran yang sama. Berbagi cerita tentang sekolah, saling berbagi kunci jawaban dan pekerjaan rumah. Setelah kelulusan, lupa, bisa jadi, dan masuk akal.

Teman kuliah, selama duduk di kampus yang sama, berbagi cerita, sharing tugas dosen, cerita gebetan baru. Selepas wisuda, lupa, bisa jadi, dan masuk akal.

Teman kerja, berada di kantor dan memiliki atasan yang sama, memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang sama. Berbagi cerita tentang kerjaan, tentang betapa bos yang ini seperti ini, bos yang itu seperti itu. Lelaki berkumis tipis itu lucu, lelaki berkemaja hitam ini baik.

Dan setelah tidak lagi bekerja di tempat yang sama, tidak lagi berada di pekerjaan yang sama, beberapa lupa, bisa jadi dan masuk akal.
Semacam itulah.

Saya dan kamu memiliki teman cerita yang bisa jadi tidak mengenal situasi dan kondisi. Ketika saya di sekolah berbeda, lulus dan kuliah di universitas pilihan masing-masing, diterima bekerja di kantor impian, memiliki teman hangout baru, punya kehidupan sosial yang berbeda. Tapi kita masih membutuhkan mereka. Kita masih berkirim pesan atau sengaja bertemu untuk saling bertukar cerita selama kita di tempat yang berbeda. Menyenangkan.

Bahkan bisa jadi kita tidak pernah menyadari bahwa mereka adalah teman baik, teman ‘cerita’, teman yang ternyata ketika kita sudah tidak berada di tempat yang sama namun kita masih mengingat mereka dengan baik. Tahu apa makanan kesukaannya, dan tahu kalau mereka tidak suka ini dan tidak suka itu. Terkadang itu tidak disadari.

Beberapa orang sibuk dengan teman barunya, di sekolah, di kampus, di lingkungan kerja. Haha hihi merasa sangat akrab, dan ketika sendiri, kita sadar mereka tidak ada.

Beberapa cerita ada yang menguap begitu saja di telinga mereka. Mereka tidak peduli. Saya juga. Cerita beberapa dari mereka tidak mampu saya ingat dengan baik, karena bisa jadi ternyata mereka hanya teman, ketika sama-sama berada di tempat yang sama. Sebatas itu.

Kemudian, datanglah kepada teman cerita yang saya dan kamu punya. Tanyakan kabar mereka dengan baik. Karena ternyata, merekalah yang tidak pernah hilang.
Bahkan ketika saya dan kamu merasa sendiri, mereka tetap ada. Tidak hanya tentang cerita baik, tidak hanya ketika bahagia di pantai liburan bersama. Tapi dalam kondisi apapun, mereka ada.
Saya butuh mereka, kamu juga, kalian pun.


Pastikan ceritamu sampai, kepada siapa, kepada yang seharusnya.

4 Februari 2016

Pernikahan hari ke-19

Pernikahan hari ke-19
(Berasa sitkom TMG NET.)

Saya tidak memiliki ingatan yang kuat, -selain mengingatmu sebanyak ini (iya, saya selalu berlebihan ketika menulis perasaan sayang)-, itu sebab saya menulis. Karena kelak sepuluh, duapuluh, tigapuluh tahun ke depan saya akan mampu mengingat semuanya dengan membaca.

Memasuki minggu ketiga pernikahan kita, ada banyak hal yang selalu ingin saya ingat setiap hari, setiap kesempatan. Menikah itu hanya butuh keberanian masing-masing pada awalnya, setelah itu kita kemudian berjalan bersama-sama, beriringan.

Kiri ke kanan : pacaran, lamaran, pernikahan. (2015-2016)
Kamu yang berani melamar saya, mengajak saya menikah, yakin dan percaya bahwa saya adalah perempuan yang bisa kamu pertanggungjawabkan hingga akhir, dan di kehidupan berikutnya.
Pun saya, berani meng-iya-kan ajakan kamu, percaya bahwa kamu adalah lelaki yang mempertanggungjawabkan saya hingga akhir, dan di kehidupan berikutnya.

Kemudian, sampai pada hari ini. Hidup bersama di rumah kontrakan kecil yang hanya cukup untuk tidur, masak, mandi, jemur pakaian, tempat membaca dan space luas untuk kamu MAIN GAME. Oke yang terakhir ini area penting, karena saya selalu ingin membuat kamu nyaman.

Hari yang selalu hangat, meski kadang saya yang ada ngambeknya, karena kamu yang kadang gak peka (iya, masalah cowok-cewek kekinian semacam itu masih ada kok). Tapi selalu tidak berlangsung lama, karena kamu yang tidak pernah membiarkan dingin ini menjadi beku.

Kamu tidur, saya membaca buku. Kamu main game, saya membaca buku. Saya memasak, kamu main game. Saya mencuci baju, pel lantai, cuci piring, kamu main game. Nonton running man dan the return of superman bareng, bercanda, mengkhayal sampai lelah.Terus berulang-ulang semacam itu,  seruuu.

Hari yang seru ini selalu kita tutup dengan tidur nyenyak, tanpa beban. Salah satu hal terfavorite saya adalah sebelum tidur. Saya yang pura-pura menutup mata di dekapan kamu, doa-doa ringan menjelang tidur selalu kamu bisikkan tepat di telinga dan ditiupkan lembut ke kepala, hangat.

Selalu ada cinta yang ingin saya hidupkan setiap kali membuka mata dan melihat kamu masih terbaring lelap. Di detik ke sekian, kamu terbangun dan menyadari saya menatapmu lama. Sholat subuh berjamaah, tadarusan bersama, ritual rutin yang selalu diakhiri dengan cium tangan dan kecupan di dahi saya. Tidak pernah ada subuh yang kita lewati kosong, dingin, dan diam. Saya ingin selalu seperti itu sampai kelak, sampai selama entah.

.:Tuhan, saya mencintai lelaki ini dengan amat sangat. Bisik saya di setiap sujud:.


Rutinitas harian saya sementara ini cuma beres-beres rumah, memasak sarapan dan makan siang sebelum kamu berangkat kerja (kalau kebetulan masuk siang). Setrika seragam NET. kebanggaan kamu, make sure tidak ada barang yang tertinggal. Ritual rutin lain adalah mengantarmu sampai pintu keluar untuk kemudian berpamitan, dan bilang hati-hati di jalan.

Sepeninggal kamu, saya kembali sibuk dengan bersih-bersih rumah, mencuci baju, belanja, tulis resep masak, temple di cabinet dapur.

Oh iya, ini adalah hari-hari saya yang sedang dilanda semangat memasak. Mencoba berbagai macam masakan yang sama sekali belum pernah saya masak sebelumnya.

Memasak adalah salah satu kelemahan saya, salah satu hal yang menjadi bahan pikiran ketika masih gadis ,“Nanti kalau saya punya suami bisa masak, gak, ya?”. Ternyata benar ucapan ‘aah nanti juga bisa kok, kan belajar’. Rasa ingin selalu menyenangkan pasangan itu tumbuh begitu besar ketika memasuki dunia pernikahan. Itu yang tidak dirasakan bahkan ketika kita masih pacaran.

Yang saya paham, bagaimana cara masak nasi, sayur tumis, sambel ulek, telor goreng dan membuat mie instan. Aman. Segitu sudah bisa hidup.

Ketika menjadi istri, dan melihat teman-teman saya yang lain masak untuk suami mereka masing-masing, semangat saya muncul begitu besar. SAYA HARUS BISA MASAK.
Penampakan rak bumbu dan resep masakan

Beruntung, ada salah satu sahabat saya yang cantik, Imel, mau dengan rajin mengajarkan saya semua hal. Bahkan sampai bumbu apa yang ada di dapurnya saya contek. Dari yang isi dapur saya hanya garam, gula dan penyedap rasa doing, kemudian menjadi penuh seperti ini.


Hari ke-17 pernikahan kita, saya membuat masakan ‘Ayam Saus Mentega’. Dipandu Imel, mulai dari bahan, cara memasak sampai disajikan. Penampilannya kurang oke, tapi rasanya lumayan. Hal terpenting adalah ketika kamu pulang, kamu bilang masakan saya enak.

Salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya selain menerima lamaran kamu dan menerima gaji pertama adalah kamu suka masakan saya, dan bilang enak. Istri-istri amatir yang belum bisa masak, pasti pernah merasakan hal serupa ini. Perasaan tak terlukiskan seberapa banyak rasa bahagianya, ketika suami-suami kalian memuji masakan kalian yang seharian mati-matian kalian pelajari.

Hari ke-18, makin semangat memasak. Karena kesukaan kamu adalah capcay kuah, saya belanja bahan dan bumbu. Mencatat resep dan cara memasak dari Imel, dan seperti biasa, tempel di dapur. Sebelum kamu pulang, saya harus eksperimen sendiri dulu, karena takut gagal.
Hasilnya… Taraaa… Enaaak… (Untuk ukuran pemula)
Capcay kuah, keju
Hari ke-19
Saya sendiri, kita dengan urusan masing-masing. Kamu yang harus ke Bandung untuk urus perpanjangan STNK, dan saya yang harus ke kantor RW untuk urus surat pindah.
Sebelumnya, saya melakukan percobaan masak steak tempe, lumayan enak, tapi looksnya kurang oke, makanya males upload :D

"Tak apa-apa, nanti dicoba lagi". Katamu via WhatsApp messenger

Untuk perempuan-perempuan yang ingin kebahagiaan sempurna setiap hari, menikahlah dengan lelaki baik yang menyayangimu dan kamu sayangi :)


1 Februari 2016

Pernikahan Bulan Pertama

#PernikahanBulanPertama

Kamu tahu, seberapa banyak pun saya berusaha mengingat, sebanyak itu pula ingatan saya melemah. Entah kapan kita pertama kali bertemu. Yang pasti bukan di bulan ini atau di bulan itu.

Maret 2013
Kita masuk salah satu stasiun TV yang pada saat itu nama TV-nya saja belum ada. Kemudian waktu sama-sama membawa kita masuk dalam arus yang berbeda. Kamu dan kehidupanmu, dan saya dengan rutinitas saya. Di kantor yang sama.


Biar kayak anak NET. banget
Entah, saya sama sekali tidak pernah berpikir bahwa ada ‘kamu’ dalam cerita perjalanan hidup saya pada saat itu. Satu atap, satu atasan, satu seragam. Tapi saya tidak menyadarinya. Atau lebih tepatnya kita sama saling tidak memerhatikan.

Saya yang sibuk dengan perasaan saya yang tertuju pada satu orang. Dan kamu yang sibuk tebar pesona ke sudut sana, tebar pesona ke sudut situ.
Perjalanan yang begitu panjang, perjalanan yang bahkan tidak pernah saya kira akan berakhir demikian. Takdir selalu selucu itu.
Kita yang tak saling mengenal, hingga…

Desember 2014
Cerita yang hanya kita yang paham betul seperti apa alurnya. Kamu terjebak dalam satu arus yang kemudian menuju saya. Dan saya yang juga terperangkap dalam arus yang menuju kamu.
Banyak sebab, yang pada akhirnya kita menjadi dekat. Menjadi saling peduli. Menjadi saling memerhatikan.

Januari 2015
Beberapa bulan setelah ini, akhirnya saya dan kamu sama-sama saling memiliki. Bahkan saya tidak mengenalmu sebelumnya. Meksi padahal kita masuk satu angkatan (semacam mahasiswa).
Jakarta, 2015. Loc: di mana-mana, tanggal berapa entah.
Saya yang tidak tahu kamu seperti apa dulu hidup, begitu gampangnya percaya bahwa kamu ‘baik’.
Saya yang terlalu terobsesi untuk menikah dengan lelaki baik, memiliki banyak kriteria ini dan itu terhadap pasangan, punya ekspektasi tinggi ingin memiliki suami yang bla bla bla…

Dengan banyak alasan yang diberikan oleh waktu, saya memilih kamu.

Saya memiliki banyak perjalanan cinta yang rumit, yang tak satupun berakhir dengan baik. Dan pada akhirnya, semesta menjawab semua doa saya dengan menghadirkan kamu.
Enam bulan setelahnya, kita berjalan sambil membuat mimpi. Mimpi yang pada awalnya milik masing-masing, hingga kemudian menjadi mimpi ‘bagaimana kalau kita…’

Agustus 2015
Setelah melewati berbagai macam scene dalam scenario hidup yang dirancang Tuhan, Alhamdulillah, kamu melamar saya, 10 Agustus 2015.
photo lamaran, Jakarta, Agustus 2015
Jangan pertanyakan perasaan saya pada saat itu. Karena bahkan hingga tulisan ini dibuat, saya masih belum percaya sepenuhnya bahwa saya memiliki jalan ini, bahwa saya memiliki kamu.
Bahagia, tapi ada yang lebih besar dari sekadar perasaan bahagia. Dan saya memilih kata-kata itu.
Enam bulan berikutnya, katamu. Kita akan menikah.

Pernikahan.

Kata-kata paling sakral dalam hidup semua orang. Untuk sampai pada titik itu, bukan hal yang sama sekali mudah apalagi dipermainkan. Saya dan kamu berjalan dengan tatapan kosong, berjalan dengan isi kepala yang penuh hal tak terduga. Saling menatap berusaha membaca pikiran masing-masing “Benarkah, kita akan menikah?” hey, tidak segampang ini ternyata.

Bukan ragu, tapi lebih kepada yakinkah(?),memilih pasangan untuk dinikahi, berarti adalah selamanya. Selama apa, selama kita mampu bertahan untuk terus bergandengan tangan (tanpa sekalipun saling melepaskan), meniti jalan yang Tuhan buka untuk kita. Menuju_Nya. Selama itu, kita berjalan beriringan, sesekali kamu di depan, sesekali saya mendahului, sesekali kamu berhenti karena lelah dan saya menunggumu sambil bantu menguatkan. Terus seperti itu berulang-ulang, dan itu tidak pernah mudah, kita tahu.

Namun, kita tidak pernah tahu, seberapa banyak cinta di hati masing-masing. Entah lebih banyak dari yang kamu perkirakan, atau kamu memiliki perasaan yang tak pernah saya duga. Kita hanya terus berusaha mencari alasan apa yang paling tepat untuk selalu saling mencintai setiap hari.
Pernikahan bulan pertama…

Januari 2016
Satu tahun dari waktu kita saling mengenal, akhirnya kita melangsungkan pernikahan sederhana. Tepat di tanggal 17 (yang tidak memiliki makna khusus, karena kebetulan hari Minggu).
Beberapa teman dekat hadir, dan saudara lebih banyak.
Beberapa kendala ada, tapi kebahagiaan yang didapat jauh lebih penting.
Lampung, 17 Januari 2016
Lampung (kota kelahiran saya, kemudian besar dan tumbuh) menjadi tempat pilihan kita melangsungkan pernikahan. Beberapa hari sesudahnya, pulang ke Jakarta dengan memilih penerbangan siang. Masih harus mikir pindahan, membersihkan rumah kontrakan baru, belanja ini dan itu layaknya pasangan baru yang bahagia dan bingungnya sama banyak.

Beberapa hari setelahnya, dari Jakarta kemudian kita ke Bandung, akan ada syukuran keluarga dan teman-teman dekat, (tidak termasuk mantan kamu yang banyak itu).
Satu hari penuh acara syukuran yang lebih kepada makan-makannya, akhirnya selesai.
Tidak ada bulan madu setelahnya, bukan karena sibuk, bukan tidak ada waktu. Lebih ke sayang uangnya barangkali, nanti, kalau sudah lebih banyak.

Tiga hari sisa libur yang harus dihabiskan di Bandung, kita akhirnya memutuskan untuk pergi ke tempat-tempat yang saya belum pernah kunjungi sebelumnya.
Bandung, 25 Januari 2016. Loc : Farmhouse Lembang
Bukan ke mana, tapi dengan siapa. Bahagianya sama, karena ternyata bukan tempatnya, tapi siapa yang ada di samping saya saat itu. Bahagia semacam itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Saya yang menjadi susah sekali dibahagiakan, saya yang tidak pernah memilih makanan, akhirnya hanya butuh kamu dekat. Saya tidak lagi peduli, ada di lingkungan seperti apa, makanan apa yang saya kunyah, sebab selama kamu ada, saya tidak ada masalah.
Bandung, 26 Januari 2016. Loc : Kampung Daun, Lembang
Beberapa hari setelahnya, kembali ke Jakarta. Dengan segala macam perihal yang lagi-lagi harus dipersiapkan.

Februari 2016
Kamu mulai kembali bekerja di tempat yang dulu juga saya bekerja.  Saya? Sibuk download resep masakan, design ruangan minimalis, searching wallpaper rumah dan lain-lain, dan sebagainya.

Kita tidak pernah banyak bicara, tidak pernah membahas tentang mimpi yang melangit. Kita tahu masing-masing apa tujuan selanjutnya, dan melangitkan doa di tiap kesempatan. Berdoa berdua, mudah-mudahan keinginan kita yang keukeuh, semesta ikut aamiin-kan.

Bicara tentang perubahan, tidak terlalu banyak. Hanya selayaknya rumah tangga pada umumnya, kamu bertugas sebagai suami, dan saya (pura-pura) sibuk menjadi istri yang selalu berusaha menjadi yang terbaik. Belajar memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian dan piring setiap hari. Menyiapkan pakaian apa yang akan kamu kenakan hari ini, memastikan tidak ada yang tertinggal ketika kamu berangkat kerja. Semacam itu.

Beberapa minggu usia pernikahan kita, kita baru berjalan beberapa meter dari pintu.

Jangan pernah lepaskan tangan saya, begitu sebaliknya. Akan ada banyak hal yang tak pernah kita duga, tapi kita sudah tahu, ada Tuhan yang senantiasa hadir di dalam setiap detik hidup kita. Selama itu, kita tidak pernah takut, Kekasih :)