22 September 2011

Ada yang lebih indah dari Nicholas saputera???

Ada yang lebih indah dari Nicholas saputera??? aiih judulnya... :)
Hmm yang lebih mahal banyak #Lho?


Yup, dia ini mimpiku. Mimpi yang sama sekali tidak disertai ambisi. Ambisi untuk memilikinya, karena berlelah-lelah ngotot mengingini dia pun, 0,00000001% kemungkinan tercapainya. Tapi begitulah mimpi. Ada kalanya semacam cita-cita cadangan, yang kalau tercapai itu sebuah bonus. Toh, tiada yang mengatakan haram untuk bermimpi bukan. Termasuk aku bermimpi (tanpa ambisi) tentang pria *hampir sempurna* ini.

Satu-satunya pria yang menurutku pantas digilai setiap wanita, (macam aku). Tapi itulah cadangan, mimpi yang sesungguhnya dan yang hendak diseriusi adalah pria yang bukan dia. Mungkin belum ‘sempat’ bertemu saja, dan pasti akan bertemu, seperti mimpiku. Aku pernah membuat tulisan seperti ini

“Bisa jadi sebenarnya kita adalah berjodoh, hanya saja Tuhan sedikit mempersulit proses perjalanan pertemuan kita.”

Kata-kata itu keluar ketika aku dalam keadaan hampir putus asa setelah berlama-lama tak jua bertemu dengan “Nicholas Saputera”ku yang lain. Tidak menuntut ingin seperti Nicho, tapi perasaan kekagumanku bisa menyerupai seperti itu, itulah wujud mimpiku. Aku punya beberapa cara untuk memvisulkan mimpi tentang ini. Tetap menulis, dan yakin suatu saat “dia”akan bersama-sama membaca tulisan ini kelak, tepat di sampingku. Dan ku harap saat itu, dia tak cemburu pada Nicholas Saputeraku J

21 September 2011

Meraih Mimpi???

Selamat bermimpi, selamat bertemu cintamu kembali. Cinta kalian, tepatnya. Aku bahkan terlalu bersahabat dengan puisi, hingga tak pernah lagi bisa melihat indahnya bait cinta, dalam mimpi. Pernah berkali-kali bermimpi bertema cinta, tapi apa bedanya dengan ketika tema itu ku jadikan sebuah bait cinta, itu bahkan lebih indah dari mimpi bukan? Menurutku demikian.

Aku merasa lebih sering menulis mimpi dari pada memimpikannya sendiri. “mimpi” yang digaris bawahi dalam keadaan tertidur. Tak ada yang salah dengan mimpi itu, hanya aku pasti selalu menyesal ketika terbangun dan mendapati tubuhku masih di atas kasur. Dan seketika itu, aku mengutuk tak ingin menjumpai cintaku dalam mimpi. Aku lebih suka menghabiskan mimpiku dalam kata-kata, mengalir begitu saja menuruti kemauanku. Aku pernah bertemu seorang sahabat dan dia pernah berkata, “Visualkan mimpimu, maka niscaya kau akan meraihnya.” Aku masih belum percaya ketika itu, tapi semakin kesini aku sedikit-sedikit mempercayainya. Bahkan apapun yang aku impikan, aku berkompromi dengan Tuhan mohon jangan didatangkan lewat tidur malam. Aku yang merendanya sendiri menjelang mata terpejam, aku benar-benar memvisualkan apa yang aku inginkan. Hingga lelah dan otakku penuh berisi khayalan. Tak cukup hanya begitu, aku tuliskan. Ya, menulis itu lebih mudah ketika itu sebuah harapan, bukan kenyataan. Dengan bahasa seadanya, aku catat perlahan apa yang aku inginkan. Dan benar, setidaknya aku sudah separuh mewujudkan mimpiku, meski hanya lewat tulisan *nyengirmonyet

Itu salah satu cara aku meraih mimpi, dan aku akan cerita tentang mimpiku menemukan seseorang special dalam hidupJ

17 September 2011

MUNGKIN


Merangkak di padang pasir

Mencoba menemukan setetes air, penghapus dahaga

Tak ada lagi yang diinginkan melebihinya

Tak ada lagi yang dipinta selainnya

Tiada guna, tetap kering


Hampir mati, rasanya

Andai bisa. Mungkin lebih baik

Agar tak terlalu berlama-lama menderita

Harapan itu pahit, tapi lebih pahit ketika tak bisa lagi berharap

Tepatnya tiada yang bisa diharapkan.


Merindukan setetes air di tanah tandus,

tak mustahil kelak akan bertemu tetesan embun.

Merindukanmu?

Tak mustahil juga akan datang menjumpaiku,

Dan menghapus kegundahan di sisa hidupku.

Mungkin,

12 September 2011

Catatan-catatan kecil

Dia memelukku, menenangkan. Dalam mimpi, oh bukan, hanya khayalan. Karena di mimpipun ia sudah enggan datang...


Banyak lagi catatan kecil lain. Silahkan klik di sini kakak -->