15 November 2014

Move on


Gerimis berjatuhan satu-satu. Secangkir coklat hangat, dan alunan music lembut jazz favorite saya menemani malam minggu yang pendiam.

Malam kesekian setelah saya mengenal kamu.

Malam yang sudah entah kali keberapa saya memiliki banyak waktu yang sebagian besarnya penuh senyum. Perempuan jatuh cinta itu kadang tidak lagi bisa diajak bicara, tidak bisa diajak berdiskusi, tidak bisa diajak berdebat, tidak bisa diceritakan sesuatu tentang patah hati. Perempuan jatuh cinta itu semua kepalanya penuh kamu, semua malamnya indah, semuanya bagus. Perempuan jatuh cinta itu saya, kepada kamu.

Beberapa perempuan tidak suka lelaki puitis, romantis, yang bacaannya buku-buku puisi. Oya, saya berbicara tentang saya. Saya penyuka lelaki sederhana yang cerdas dengan keahliannya. Tidak terlalu Serius. Penting. Dan suka berkemaja.

Untuk kembali jatuh cinta saya perlu waktu setahun dari perasaan hangat yang hilang di masa lalu. Lantas kemudian belajar lagi untuk menulis pelangi di atas langit. Menanti gerimis yang membuat saya tiba-tiba merasa jauh lebih romantis. Pada sesuatu yang mengatas namakan cinta. Pada sesuatu yang menuju kamu.

Dihitung dari berapa banyak saya jatuh cinta, bahkan tidak sampai merentangkan kesepuluh jari. Sedikit sekali. Entah terlalu hati-hati, atau saya yang tidak pandai mengajak pikiran untuk berganti-ganti orang yang harus dijatuhcintai. Satu saja, melelahkan. Belum hilang perasaan yang satu, timbul lagi perasaan cinta yang lain. Itu cinta? Mungkin iya, tapi saya tidak demikian.

Kamu adalah lelaki kesekian. Yang saya jatuh cintai diam-diam. Perkara rumit ini tidak pernah menemukan titik ujung. Saya pemerhati yang baik, dan selalu memiliki pasokan cinta yang banyak untuk seseorang yang terkadang tidak pernah paham atau peduli keberadaan saya. Lelucon konyol yang kerap membuat orang-orang disekitar saya menjuluki saya “Si Bodoh”.

Sebab, tidak terhitung ada banyak perasaan tulus saya sia-siakan hanya untuk mencintai seseorang lain diam-diam. Yang entah seseorang itu sadar atau tidak, tahu saya atau tidak, dan saya yang begitu hanyut tergila-gila sampai benar-benar gila, lupa bahwa  beberapa tangan mengulurkan ketulusan lain, beberapa pasang mata menatap dengan kehangatan lain, beberapa hati menawarkan harapan yang jauh lebih bisa meyakinkan saya, meyakinkan kebahagiaan saya, kekal. Tapi saya terlanjur gila, sekaligus buta tuli. Menyedihkan.

Bagaimana, jelaskah saya salah? Jelaskah saya bodoh?
Tapi adakah cinta yang dijatuhkan sia-sia? Adakah Tuhan membuat saya salah menjatuhkan cinta? Untuk membela kewarasan saya, saya katakan tidak. Perasaan saya berasal dari sesuatu yang tulus, yang Tuhan anugerahkan. Apa kemudian lantas saya paksa untuk buang, saya tolak mentah-mentah, saya anggap Tuhan salah alamat, lantas kemudian saya menerima uluran tangan-tangan seseorang lain untuk melampiaskan? Itu lebih tidak adil. Saya tidak bisa disalahkan. Sama sekali tidak. Perasaan saya juga.

Saya pernah menulis ini :


Bayangkan ketika saya punya banyak perasaan cinta kepada seseorang A, seseorang A yang tidak memedulikan saya, seseorang A yang bahkan tidak pernah tahu keberadaan saya. Kemudian lantas saya men-judge bahwa cinta saya salah alamat. Kemudian saya paksa lupa. Di saat bersamaan seseorang B menanti dengan penuh harapan pada semua sisa-sisa perasaan saya. Dan hanya karena sebab saya putus asa, lalu saya memaksa diri mencintai B setengah banyak, dengan kadar kekecewaan dan rasa bersalah karena seseorang B sudah memiliki perasaan yang tulus. Apakah itu justru tidak membuat saya menjadi perempuan paling jahat? Saya rasa iya, saya sangat jahat.

Saya hanya harus mengikuti perasaan saya. Saya hanya harus menunggu sedikit lebih lama, untuk sampai pada waktu saya bisa tulus mencintai seseorang B dan benar-benar melupakan A. Atau semesta mengabulkan perasaan cinta saya yang banyak ini dibalas sama banyak oleh seseorang A, ya ya ya bukan sebuah kemustahilan yang akan sangat saya ‘aamiin’kan.