29 Mei 2012

Aku tidak pernah (tak) mencintaimu, mas!


Aku menyukai penantian dan sebuah kesetiaan. Aku akan terus mencintaimu secara berlebihan. Selamanya, entah selama apa. Air mataku jatuh satu satu. Sementara kelopaknya mulai mengatup, rapat, perlahan.

Duduk di sini memang nyaman, jauh dari keramaian jauh dari udara kotor, katanya. Tapi bagiku sama saja, justru di sini aku malah lebih tersiksa, pikiranku terlempar-lempar pada kenangan yang seharusnya jauh-jauh hari ku lupakan. Barangkali di kota sesibuk Jakarta aku bisa mengalihkan segala yang sesak menjadi tumpukan-tumpukan file kerjaan, meski setiap hari dikejar-kejar deadline tapi bukannya dengan begitu tidak ada sedetikpun waktu yang terbuang. Tidak seperti saat ini, aku duduk tak melakukan apa-apa, dan kesakitan-kesakitan jadi semakin menganga.

Bukannya luka kecil itu akan semakin membesar ketika terus diingat dan dinikmati. Aku tidak mengatakan aku menikmati luka-lukaku sendiri. Tapi entahlah, buktinya aku tidak mampu melupakan begitu saja kesakitan ditinggalkan seseorang yang benar-benar aku cintai. Aku sangat mencintaimu. Bahkan rasanya jatuh mencintaimu adalah kutukan seumur hidupku. Aku selalu berlebihan ketika mengungkapkan kata cinta untuk kamu, bahkan kau sering memandang tidak senang saat aku bisikan

‘aku sayang banget, banget sama kamu mas’
‘Jangan terlalu berlebihan bilang sayang dek, biasa aja. Cukup di dalam hati dan kesetiaan kamu yang membuktikan kamu bener-bener sayang mas. Takutnya, disengaja atau ndak, mas nyakitin atau ngecewain kamu.’