28 September 2012

Jakarta, pukul empat sore



Pukul empat sore, sudah memasuki musim penghujan di penghujung bulan September. Di balik kaca restoran mini yang sengaja dipesan dengan seorang kenalan lama, beberapa anak kecil berbaju longgar menenteng payung di kiri kanan untuk sekadar mendapat seribu dua ribu rupiah dari pejalan kaki yang membutuhkan jasa payung tumpangan.

“Kamu terlihat lebih dewasa ay”
“Oya?” ucapku berbinar, seperti anak kecil yang mendapat pujian ‘kamu cantik’ dari orang tuanya.
Bahu kekarnya mengangkat dan tersenyum, dengan senyum khas yang memperlihatkan kedua dekik di pipi kiri kanan yang (dulu) pernah sangat aku suka dan susah dilupakan #eeaa
“Ya, jauh lebih cantik dan tidak kekanak-kanakan lagi. Tapi sepertinya masih manja yaa?” matanya yang bulat menatapku lekat
Aku tersenyum, malu.
“Sudah berapa lama gak ketemu, ay?”, “Hampir lima tahunan yaa?” dia menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkannya.
“Hampir, kok tumben ke Jakarta mas? Gak ngabarin sebelumnya juga, untung saya lagi gak sibuk, hee”
“Beda yaa sekarang, sudah ‘sibuk’. Dulu waktu kenal sih masih suka-sukanya maen Barbie kan yaa, masih suka Celine Dion?”
“Haha, ya kali saya juga makhluk hidup mas. Bisa tumbuh juga, masa kecil terus haha, hmm masih inget aja kalau saya suka Celine Dion?” ku mainkan jari di bibir gelas berisi coklat hangat kesukaanku yang masih mengepul asap. (Sengaja masalah Barbie tidak ku jawab, sebab sampai sekarang juga masih suka, malu sudah terlanjur dipuji dewasa hihihi)
“Aku sering baca-baca tulisanmu ay, tulisanmu cantik”
“Oya? Terima kasih. Sekalian kali kalau muji. Masa tulisannya doang yang disebut cantik, haha”
“Terus, aku harus muji orangnya cantik juga gitu?”
Aku memperlihatkan senyum yang paling lucu untuk menarik perhatiannya
“Kamu selalu terlihat cantik, di  mataku, ay. Itu sebab aku selalu gak mau ketemu kamu, kan. Takut jatuh cinta lagi”
Aku tersedak
“Gimana kabar, Adith, mas?” alihku
“Sudah punya pacar kali, haha”
“Haha masa sih, sekecil itu?”
Enggak kecil kali, ay. SD kelas tiga”
“hmm”
“Ohya, gimana kabar laki-laki yang sering kamu ceritakan?”
Aku tersenyum masam, “Yaa gitu deh
“Kenapa? Bodoh aja kalo dia gak mau sama kamu”
“Mungkin malah saya yang bodoh. Selalu suka sama dia, meski gak tahu dia suka apa enggak sama saya” aku menunduk perlahan
“Gak usah sesedih itu juga kali ay, haha. Kamu bayangkan berapa laki-laki yang jauh lebih sedih kamu tolak cintanya”
*straight face*

“Mas, mau langsung pulang?”
“Iya, penerbangan jam 7 nanti”
“Hati-hati, kabar-kabari kalau ke sini lagi”
“Saya gak akan ketemu kamu lagi lah”
“Kenapa?” aku kaget polos
“Takut malah jadi suka”
“yeee, hahaha. Salam buat Adhit dan mbak jangan lupa”
“Baiklah, terus menulis yaa. Suatu saat kamu pasti akan menjadi penulis hebat dan cantik. Dan, ketika itu jangan lupa sama teman lama”
“Aamiiinn, ya ya yaaa… doakan saya mendapat suami yang pantas untuk saya, mas.”
“Pasti, aku pamit ay”
Saya diberi oleh-oleh khas kota seberang “Tanda mata dari kampung” katanya
*

Obrolan singkat dengan ‘kenalan lama’. Tidak terlalu banyak yang diceritakan, pertemuannya mendadak dan waktunya juga gak banyak. Laki-laki dewasa itu adalah salah satu laki-laki yang pernah saya jatuh cintai, duluuu sekali. Saat seragam sekolahku masih putih biru
Bagaimanapun juga, aku adalah seseorang yang tidak begitu saja mudah menghapus kenangan masa lalu. Meski dulu cintanya hanya sebatas ‘cinta masa kanak-kanak’.
Sebab yang saya bisa hanya menulis, beberapa cerita nyata sepertinya lebih bisa dikenang lewat tulisan. Cerita ini tidak terlalu penting mungkin, tapi kelak, beberapa kejadian hari ini akan mudah aku ingat di beberapa tahun kemudian.

Dan sebab, tentu saat ini tidak ada seorang pun yang aku jatuh cintai selain kamu #eeeaa #tetepaaay

Share this

2 Responses to "Jakarta, pukul empat sore"

Silahkan tinggalkan pesan di sini: