29 Februari 2012

Tour Eiffel



Menara Eiffel, atau bahasa Perancisnya Tour Eiffel, berdiri tahun 1887-1889, di Champ de Mars tepi sungai Seine, Paris. Menara ini memiliki ketinggian 325 m (1063 kaki) dan tinggi antena 24 m (79 kaki).


Tidak mau bahas apa-apa, cuma ingin bilang "aku, mau kesana dan tinggal di sana." udah gitu aja.
Dih, posting macam apa ini -________________-

28 Februari 2012

Ah, Kau imam yang menyebalkan

“Dindaa…! sstt, dindaa…!”
Aku menggeliat, membuka mata dan melihat sesosok pria tampan tersenyum tepat di depan wajah kantukku. Ku betulkan selimut dan berbalik membelakangi sosok pria tampan itu. Terdengar tawa lucu dan tepukan halus di bahuku.
“hey, dindaa. Sholat dulu yuuk”.
“ya ampun mas, jam berapa sih ini belum subuh, mana ujan lagi, dingin tauuuu”. Ku tutup wajahku dengan selimut tebal, berharap mas Yudha menyerah dan berhenti membangunkanku. Ternyata tidak berhasil, dia terus membujukku dengan halus.
“Looh, kok malah selimutan sih. Katanya mau makin disayang Allah, ini kan saatnya bercakap dengan_Nya. Kamu mau minta apaaa aja pasti Dia dengar, sayang.”
“mas, dingiin, masih ngantuk akuu”.
“Kalo abis ambil wudhu pasti gak ngantuk deh, apalagi selimutan pake mukena. Ayo Dindaa”
Bersungut, ku sibak selimut tebalku, masih manyun turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi. Mas Yudha tersenyum sambil merapikan sajadahnya.
Aku mengikuti gerakannya dengan masih terkantuk-kantuk, sesekali menguap dan sedikit menutupkan mata. Walau begitu aku masih sadar dengan gerakan sholat mengikuti mas Yudha hingga salam terakhir, aku mencium tangannya, seperti biasa dia lembut mengecup ubun-ubunku, menghangatkan dinginnya dini hari yang berasal dari ac kamar tidur kami. Mas Yudha masih berdoa lama lantas diteruskan dengan melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdunya seperti biasa, saat aku kembali tidur dan menutupi wajahku dengan selimut. Ku pandangi wajahnya yang bersih, halus dan tampan itu dari balik selimutku. Dia memandangku dan tersenyum manis sekali, suamiku. Aku membalas senyumnya malu-malu, sebelum akhirnya terlelap kembali. Sebelum alarm subuhku berbunyi.

27 Februari 2012

Imam yang menyebalkan_

saduran cerpen yang sedang dalam proses peluncuran (meluncur dari perosotan) #pppffttt :p

Ada suara masuk di tengah-tengah mimpi
Yang lirih menepi dalam peraduanku, setiap dini hari
Jam dua pagi
Menepuk halus mimpi yang larut ku selami
Aku terjaga,
Mengerjap-kerjapkan mata, enggan dan ingin kembali tidur lagi
Renyah tawamu, khas
Lucu dan geli menggelitik tubuhku yang menyatu dengan selimut tebal di atas ranjang besar
Di luar hujan, sayang! Protesku
Tapi kau tetap tak berprikeistrian
Sengaja memercikan air di wajahku yang jengah dan setengah marah.
Kau tersenyum mengibaskan sajadah
Aku melangkah malas dan mengikuti anggukan kepalamu serta senyuman, manis
Membimbingku berdiri di belakangmu
Mengikuti setiap gerakanmu dengan masih menggerutu

Imamku, ah kau menyebalkan!

Pria Dini hari

23 February 2012
Selamat dini hari :) *tersenyum simpul semanis mungkin*
Tulisan Ini ku buat pukul tiga lebih tiga puluh tujuh pagi

Ketika sayup terdengar suara pria merdu patah-patah membaca ayat suci. Aku lirik jam, dan mengerutkan dahi “sepagi ini?” gumamku.

Aku terbangun dan penasaran, tak bisa tidur lagi dan tak melakukan apa-apa. Jam sahur belum lewat (kebetulan itu kamis) dan ada nasi serta sepotong ayam sisa tadi malam, ku makan saja. Sesaat setelahnya ku reguk susu hangat segelas sambil tetap menajamkan pendengaran akan suara merdu namun jauh. Lapat-lapat seperti dinaik turunkan oleh hembus angin, yang entah dari mana asalnya. Pelan.

Selesai membereskan bekas makanku, aku terduduk di tepian sisi kanan ranjang, terdiam sambil mengunyah beberapa batang coklat kiriman dari sahabat di Negara sakura, sana. Suara syahdu dan samar itu masih ada, pelan. Walau aku tak mengetahui entah milik siapa. Aku mengenal baik beberapa pria di lingkungan rumahku, ku eja satu persatu di otakku “ si A, bang B, mas C, pak D, om E, kang F, atau mungkin bung G…”  atau yang lain-lain, yang memiliki suara semerdu ini, di jam segini. Ku lirik jam weker imut merah jambuku, pukul 3:49. Ah, masih belum terlambat. Aku bergegas

Setelah salam terakhir, aku lupa, benar-benar lupa. Kapan suara itu menghilang, suara pria yang lirih membaca ayat suci Al Quran yang telah membangunkan lelapku itu lenyap. Ku coba mempertajam pendengaran seperti tadi, tidak ada. Hanya desir angin yang perlahan menyusup ringan memasuki jendela kamarku tanpa membawa suara merdu. Aku mendengus lembut, sambil berpikir keras siapa gerangan pemilik suara itu.

Berulang, di empat hari berikutnya setelah itu. Aku terbangun di jam yang sama, melakukan aktivitas yang sama dan mendengar suara yang sama. Entah, aku kurang paham atau memang pria itu bangun setiap malam. Karena aku hanya terbangun jam segini setiap dua kali dalam seminggu, dan seakan dituntun oleh suara merdu tersebut.

Itu dulu, saat aku masih duduk di sekolah menengah pertama. Hingga delapan tahun kemudian, di dini hari ke sekian aku terbangun di jam segini dalam seminggu dua kali seperti biasa. Suara itu masih tetap ada, walau kali ini hanya muncul dalam kenangan, tanpa terkuak misteri siapa sebenarnya pemilik suara syahdu yang setiap dini hari di dua hari dalam seminggu 
membangunkanku.

Atau memang dia tak pernah ada.

12 Februari 2012

Kurangi Online "berlebihan"

Menulis dan membaca menurutku adalah bukan sebuah hobby, tapi keharusan. Bagiku harus, karena pekerjaan pokokku memang menulis, kalau tidak aku tidak dibayar dan tidak bisa makan #eh

Aku menyukai segala macam bentuk tulisan dari sejak sekolah dasar, pun suka bacaan. Membaca apa saja yang bisa dibaca, maklum zaman kecil dulu aku tidak punya cukup uang untuk membeli buku setiap hari kecuali langganan majalah anak-anak seminggu sekali.

Tapi justru dengan keadaan begitu, aku malah selalu haus akan bacaan. Buku apa saja aku lahap, majalah, Koran, komik, bahkan novel-novel kolosal. Lemari di rumahku penuh buku-buku yang biasa aku kumpulkan atau meminjam di perpustakaan sekolah dan sengaja tidak dikembalikan. #duh

Sejak kecil memang kebiasaan membacaku parah-parahan, kemana-mana menenteng buku, buku apa saja, rumus matematika pun aku hafalkan. Iya, ini tidak mengada-ngada, memang faktanya serajin itu kok.

Waktu bermainku memang hanya beberapa jam sepulang sekolah, sebelum akhirnya berbondong-bondong menenteng sajadah dan mukena ke pengajian. Pulang dari mesjid, aku tidak pernah ikut menonton tv dengan keluarga. Selalu masuk kamar dan belajar. Aiih masa kecil yang teladan dan jadi panutan teman-teman sepermainan.

Itu dulu, dulu sekali. Beberapa belas tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku sekolah. Semakin usiaku bertambah, entah kenapa ketertarikanku membaca agak sedikit berkurang, atau mungkin lebih banyak pertimbangan untuk memilih bacaan apa saja yang ingin ku konsumsi. Selain langganan Koran harian, saat ini aku jarang membaca dengan rutin, kecuali novel favorite yang sudah direkomendasikan teman dan buku-buku pinjaman. Itupun dengan intensitas waktu yang sangat kurang, kadang buku yang tebalnya hanya dua ratus halaman, aku perlu waktu setengah bulan untuk benar-benar selesai ku tamatkan. Dulu, satu hari aku bisa baca dua buku, ironis memang.

Waktuku sekarang, lebih sering ku gunakan online, bertegur sapa dan bercanda di dunia maya, jarang keluar rumah dan bersosialisasi dengan tetangga. Sisanya, aku khusu’ menulis di kamar untuk sekedar cari makan #euh

Walau kebiasaan menonton televisi sejak dulu masih sama, tidak terlalu suka. Sekedarnya saja, menonton berita sesudah subuh misalnya, itu seperti sebuah keharusan. Aku memang kurang suka menonton tv, lebih memilih online. Padahal waktuku bisa digunakan menulis atau membaca seperti waktu kecil dahulu, tapi sapaan teman-teman di timeline lebih menggoda #twitter-addict *memang*

Dan itu kebiasaan buruk sebenarnya, banyak waktu ku sia-siakan. Jumlah tulisanku berkurang, juga jumlah buku bacaan. Novel-novel yang sengaja kubeli setiap bulan dibiarkan tergeletak tidak diapa-apakan, kasian yaa.

Faktanya otakku tidak terlalu berkembang, menulis sering kehabisan ide. Karena kebanyakan online di dunia maya, walau seharusnya aku bisa mengambil manfaat dari sana, menyaring info-info penting saja misalnya, tidak terlalu hanyut dengan kebiasaan bercengkrama yang bisa melupakan waktu yang bisa digunakan untuk membaca, aah kebiasaan baru yang menyebalkan.

Kegiatanku sebenarnya tidak terlalu sibuk seperti orang-orang kantoran. Hanya duduk di depan monitor, menulis. Itu saja. Tapi, banyak waktu yang terbuang hanya untuk cekikikan sambil Bbman, membiarkan detik-detik berharga kulewatkan hanya untuk scroll up down track pad Bb untuk mengecek linimasa pria inceran, duh ini penyakit yang harus segera dimusnahkan.

Padahal hidupku itu mudah, hanya untuk menulis dan membaca. Itupun banyak dibuang sia-sia. Untungnya, masih ada pengajian rutin harian dan kursus bahasa Perancis yang setidaknya ada kebermanfaatan setiap harinya.

Intinya cuma satu, jauhkan dari handphone dan lirik sesekali saja, mudah kan?

Mulai kembalikan gairah menulis dan membaca masa kanak-kanak dan pergunakan waktu setiap harinya dengan menghasilkan minimal dua tulisan, sekian. *Salam olahraga*

Catatan Minggu Pagi

12 Februari 2012

Minggu pagi diawali dengan twit pukul setengah lima

“Pagi semesta, pagi orang-orang tercinta. Tersenyumlah, insya Allah hari ini kita akan baik-baik saja

Niatnya untuk menyemangati diri sendiri, dan ternyata memang terbukti. Sesaat sebelum adzan subuh, aku sudah terbangun, merendam cucian, mencuci beras dan memasukan ke alat penanak nasi. Oke bagian ini tidak terlalu penting, abaikan!

Tidak biasa-biasanya aku segiat ini, walau memang setiap pagi bangun di jam yang sama, menonton tv berita sambil ngunyah roti bertabur meses dan segelas susu coklat hangat dan kemudian tidur lagi sesudahnya. Tapi tidak pagi ini, selesai mencuci pakaian yang sudah direndam tadi, aku buru-buru mandi, lalu tak lupa mengunjungi linimasa dan menulis kata-kata semacam ini:


“mentari baik hati, beri senyum tercantik hari ini. Janji yaa jangan ada air mata sampai sore nanti! Iyaa, aku nyuci banyak pagi tadi hihihi”

Pendeknya, jangan ujan! Udah gitu aja

Sebenarnya tidak ada yang menarik untuk diuraikan, hanya saja sebagai pengawalan tulisan liburan maka aku menambahkan keterangan kegiatan minggu pagi. Bergegas begitu saja, tidak ingin melewatkan detik perjalanan jarum jam dengan tidur-tiduran di peraduan dengan warna padu padan merah jambu kesayangan. Iya, biasanya jam-jam segini, hari libur semacam ini adalah hari bermalas-malasan sambil twitteran, duh sia-sia sangat waktu dibuang-buang, memang.

Rencananya aku ingin menulis beberapa aturan baru. Aturan yang kubuat sendiri dan akan sesekali ku langgar semau-mau, sewaktu-waktu. Mungkin bisa dibilang kebiasaan, bukan sebuah peraturan. Karena terlalu formal pelafalannya.

Sebenar-benarnya hidupku adalah, hidup yang berantakan, semau-mau, sesuka-suka. Hidup yang tak pernah dibatasi waktu oleh siapa-siapa. Terutama selepas kuliah dan tak ada jadwal pelajaran setiap minggunya. Seperti diketahui sebelum-sebelumnya, aku bekerja di sebuah stasiun tv di Jakarta sebagai penulis naskah. Jadwal kerjaku memang agak special, tidak seperti karyawan pada umumnya yang harus absen setiap datang dan pulang, setiap hari demikian. Tidak! Aku kerja seminggu--seminggu. Seminggu menulis script di rumah, seminggu kemudian syuting program di lapangan. Otomatis, waktu seminggu menulis di rumah itu adalah waktu yang tak terjadwal. Aku menulis semau-mau jam berapa, di mana dan sebanyak apa.  Ada kalanya diawali tengah malam jam sebelas hingga dini hari, baru terlelap kemudian hingga adzan dzuhur berkumandang. Iya, itu sangat tidak sehat tapi menulis tengah malam itu menenangkan, tidak terlalu terganggu kebisingan. atau ada kalanya aku menulis pagi-pagi di taman dan pulang menjelang petang. Iya, ini agak menyenangkan tapi kadang kendala hujan menghambat semuanya seketika. Dan, kalau sudah begitu maka yang aku lakukan hanya online sambil tidur-tiduran. Ini penyakit menyebalkan. Alternatif lain, kalau sedang ada uang maka aku jalan ke luar kota dengan membawa kerjaan. Namun, fanorama pedesaan malah membuatku keasyikan dan lupa kewajiban menyetor naskah mingguan. Dan kembali ke Jakarta tetap dengan setumpuk tulisan yang belum terselesaikan dan kehabisan uang hahaha  *ini curhat*

Pendeknya, pola hidupku yang semacam itu aku atur-atur sesukaku. Sengaja aku menyewa kost-kostan di daerah Bogor yang bercuaca lebih menyegarkan dari pada rumah di Jakarta, walau sesekali aku pulang karena kehabisan uang *lah, uang lagi* (abaikan!)

Mulai hari ini, aku ingin punya check list kegiatan harian, misal:
Setiap hari ada waktu satu jam untuk membaca, satu jam untuk menonton tv, beberapa jam untuk menulis dan bekerja, sekian jam untuk bercanda dengan keluarga dan menyegarkan penat di kepala, beberapa jam untuk bermain di dunia maya, dan tentu ada waktu special untuk belajar mengaji seperti biasa, hafalan ayat-ayat pendek misalnya.
Pola begitu diulang-ulang, atau jika perlu dituliskan. Tapi, aku tidak terbiasa hidup dengan aturan yang mengekang. Lebih baik diingat dan dijadikan kebiasaan, itu justru akan membuatku tidak tertekan.

Punya waktu untuk bekerja, ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk bersosilisasi dengan teman, ada waktu untuk melemaskan otot-otot di kepala. Iya, aku juga punya penyakit peradangan syaraf di kepala bagian belakang, jadi harus bisa memanjakan pikiran. Jangan sampai terlalu pusing, terlalu dipaksakan, atau syaraf-syaraf di kepalaku akan berkontraksi dan aku akan menjerit-jerit kesakitan *eh, agak berlebihan*

Hidup sendiri, atur pola kegiatan harian sendiri, atau aku akan kehilangan beberapa jam dengan melakukan kesia-siaan.

Keep spirit and smile *sok Inggris-inggrisan*