21 Agustus 2019

VERSUS : Nicholas Saputera VS Adipati Dolken

image source by : kapanlagi.com
Ini bukan tentang lebih ngidolain siapa
Bukan tentang siapa yang aktingnya lebih keren
Atau siapa yang paling ganteng di antara keduanya

Bebas lah itumah pilihan, dan saya juga bukan fans garis keras kedua aktor ini. Kalo ganteng sih, kalian juga pasti meng-aamiin-kan kan?

Yang mau saya versus-in kali ini adalah...
Di antara mereka, mana yang senyumnya paling bikin melting?
Entah ah bingung

Oke, jadi berawal dari pertanyaan temen "Menurut lo, siapa aktor Indonesia yang senyumnya paling menawan...?

Terus saya berpikir keras, eh iya, siapa ya?

Ada banyak banget aktor Indonesia, yang aktingnya keren, yang mukanya rupawan, yang cerdas, yang pinter ngomong, yang bla bla bla

Tapi bentar bentar... yang senyumnya menawan itu artinya gimana sih?
Mungkin yang kalo liat doi senyum tuh jadi berasa disenyumin gitu lho, jadi berasa pengen ikut senyum juga :)

Sekarang sebut deh, siapa aktor menurut kalian yang kalo dia senyum, langsung beda auranya. Ketika kita liat, jadi mesam-mesem sendiri, berasa doi ngajak senyum kita, bikin salting gitu

Dan saya menemukan dua aktor ini. Nicholas Saputera dan Adipati Dolken

Yup!
Belum ketemu yang lainnya.
Baru mereka doang nih, ketika mingkem biasa, dan ketika senyum langsung beda. Bikin hati rontok. Gak percaya?
Nih buktinya


Kalo menurut kalian siapa aktor yang senyumnya bisa bikin salah tingkah?

19 Agustus 2019

REVIEW : Film Bumi Manusia. Netizen Juga Tahu, Nyai yang Jadi Juaranya


"Membaca buku Bumi Manusia itu berat, biar Minke saja"

Pertama kali kenal buku eyang Pram, tahun 2008-2009an saya sampe baca tiga kali ulang biar paham makna dalam buku ini, sebenernya nyeritain apa sih.

Setelah agak dewasa, baru mikir kalo otak saya di usia 19an (Usia Minke saat itu) ternyata masih sangat lemah nerima asupan yang berat-berat sekali suap. Lalu saya membaca tetralogi pulau buru yang lain, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Kemudian jatuh cinta

Jujur lega banget, ketika nonton filmnya, seenggaknya film ini gak seberat bukunya.

Saya gak bisa bilang kalau film ini sebenarnya bisa 'asyik' ditonton generasi millennial dan Z yang belum pernah baca buku eyang Pram (apalagi mencintai bukunya) atau enggak?
Apalagi buat yang (maaf) nonton ini karena ada Iqbaal-nya doang.

"Kita kalah, Liaa... eh Kita Kalah Ma..."
Ini bukan Dilan, ini bukan Milea. Dialognya gak seperti ini, emosinya gak seringan itu.
Ini tentang Minke yang kalah melawan kolonialisme Eropa, yang menjadikan pribumi serasa tamu di rumahnya sendiri, yang dengan kuasanya bisa membawa paksa sang istri yang teramat dia cintai.

Cast 

Sulit untuk melepaskan Iqbaal dari karakter Dilan. Tapi di Bumi Manusia, dia berhasil menidurkan gaya gank motor yang jago gombal, 100% hilang.
Dia berhasil keluar dari Dilan, keluar dari Iqbaal Ramadhan. Tapi saya belum melihat Minke secara utuh.

Yup, Iqbaal sudah mengerahkan segala kekuatannya untuk menjadi Minke. Gaya bahasa, postur tubuh, dialek, dialog berbahasa Belanda, untaian kata puitis sekaligus emosi pemberontakan dan perjuangan di era itu.

Tapi belum membuat saya sejatuh cinta itu pada Minke. Seperti saya jatuh cinta pada karakter Dilan di diri Iqbaal.

Namun saya sendiri menyadari, rasanya tidak ada yang bisa memerankan Minke selain Iqbaal. Pemuda visioner zaman now, remaja menjelang dewasa terpelajar, cerdas, usia 18-19 tahun, teguh pada pendirian, gaul pada masanya, pandai public speaking dan bisa mempengaruhi banyak orang.

Benar yang dikatakan mas Hanung Bramantyo sebagai sutradara, Iqbaal cuma kurang ngerasa terhina, kurang budak, kurang kena gimana rasanya dijajah dan dipandang sebelah mata.

Karena, buat yang sudah membaca Bumi Manusia, apalagi sampai berulang-ulang. Rasanya semua sepakat, tidak ada yang bisa memerankan Minke di dunia nyata saat ini. Emosinya, kecerdasannya, kekeras kepalaannya, rasa terhina dan perbudakan yang mencambuknya menjadi pemuda pemberontak yang bangkit melawan Eropa, tidak akan ada yang bisa menerjemahkan secara sempurna oleh aktor masa kini.

Tapi sekali lagi, tepuk tangan sekeras-kerasnya untuk Iqbaal yang dengan kerja kerasnya membawa Bumi Manusia yang sebentar lagi berusia 4 dekade ini, hidup lagi.

Pasti bukan saya saja, semua penonton setuju karakter paling bersinar di sini adalah Sanikem, alias Nyai Ontosoroh yang berhasil diperankan apik oleh mba Sha Ine Febriyanti.

Meski gejolak emosi Nyai tidak diceritakan keseluruhan. Seperti betapa Nyai benci ayah yang menjualnya, dan ibunya yang dianggap tidak sekeras itu memperjuangkan dirinya.

Karena ketika membaca bukunya, emosi ini sangat terasa, dan ini berhubungan dengan akhir cerita gimana Nyai berjuang mati-matian mempertaruhkan hidupnya untuk mempertahankan Annelies sebelum dibawa Eropa.

"Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya"
Adalah salah satu line yang di dalam buku dan di visual terasa sama hangatnya.
Tatapan mata, intonasi, mimik wajah Ine Febriyanti yang paling mendebarkan, seketika membuat dada terasa penuh sesak.

Apalagi scene ketika Nyai harus tetap menegakkan bahu sambil berjalan jongkok saat menghadiri persidangan pribumi, yang dikuasai Eropa. Bagaimana antara perjuangannya membela hak, mempertahankan harga diri, dan rasa terhinanya. Bikin mberebes mili

Mengingatkan kita, generasi sekarang, bahwa Indonesia pernah punya sejarah perjuangan panjang. Dijajah oleh kolonial, sampai sehina itu. Terutama pribumi kelas ke-tiga.
Dan Nyai membuktikan Indonesia pernah melawan, meski akhirnya kalah :(

Nyai Ontosoroh terbaik.



Dan Mawar De Jongh, ya ampunnn dia lucu banget, cantik banget, eropa banget, imuttt banget, dan senyumnya emang bikin jatuh cinta. Gak heran Minke juga langsung cinta pada pandangan pertama.

Iya, Mawar berhasil menghidupkan Annelies Mellema. Gaya bahasanya, gerak geriknya, langkahnya, gaya berbusananya, sangat Annelies. Meski agak kurang kekanak-kanakan, dan kurang 'manja', beberapa emosi yang kadang belum sampai klimaks, tapi secara menyeluruh Mawar TOP banget untuk aktris yang bahkan belum punya jam terbang sangat banyak.


Karakter lain yang justru paling saya suka adalah Jerome Kurnia, alias Robert Suurhof dan Giorgino Abraham sebagai Robert Mellema. Dari awal muncul sampai hilang begitu aja, duo Robert ini keren banget, nyebelinnya, gayanya, bahasa tubuhnya, sok sok Eropa-nya dan kefasihan bahasa Belanda mereka bikin saya ngefans hehe.

Aktor/aktris lain yang menurut saya tepat memerankan karakternya adalah Darsam, Herman Mellema, Magda Peters, Jan Dapperste, ayah dan ibu Minke, dan dokter Martinet.

Story

Film ini lebih dari 50% berbahasa Belanda, percakapan yang normal, terdengar santai. Bahkan para aktor pribumi terlihat cukup menguasai. Meski ada beberapa dialog yang kadang lupa dialek njowo totok jadi seperti bicara bahasa Indonesia biasa. Tapi secara keseluruhan memuaskan.

Sebagai pecinta sastra dan sajak menye-menye pada masa itu, dialog dialog penuh cinta yang diucapkan Minke untuk Annelies, --termasuk kata mutiara Jean Marais, salah satu tokoh dengan cerita hidup favorite saya di novel-- udah pasti bikin saya pengen liat ntar pas difilm-in bakal seromantis itu juga gak ya kata-katanya.

Dan cukup berhasil. Banyak dialog dan kata mutiara yang jadi harta karun pusaka Bumi Manusia karya eyang Pram, diterjemahkan dengan baik dalam film Bumi Manusia karya mas Hanung.

Sayang, peran Jean Marais guru filosofi yang mengenalkan Minke akan liberte egalite dan fraternite tidak cukup ter-explore. Padahal ini salah satu inti cerita eyang Pram.

Selain itu, salah satu cerita paling menarik di buku adalah kisah hidup Maiko, pelacur yang meracuni Robert Mellema yang diperankan sangat baik oleh Kelly Tandiono -sang Bidadari Mata Elang di Jagat Cinema Bumi Langitjuga tidak diceritakan dalam film ini.

Saya tahu, itu sesuatu hal yang mustahil untuk memvisulkan keseluruhan cerita. Karena yang paling disorot di sini adalah Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies Mellema.

Setting

Film tidak akan sempurna tanpa ada campur tangan editor apik, effect suara mengaduk emosi, property yang detail sampai tone warna yang mendukung.

Semuanya baik. Meski saya masih kurang merasakan zaman kolonial dengan warna yang kuning terang mencolok. Setting lokasi dibuat sedemikian mirip, meski ada beberapa scene yang masih terlihat CGI. Wardrobe dan makeup yang cukup mewakili momen zaman tahun 1898 hingga tahun 1918-an. 

Pengambilan gambar dengan angle terbaik berhasil dimainkan mas Rahmat Syaiful sebagai director of photography, sehingga emosinya ngena. Walau ada beberapa adegan yang kurang sampai.

Salah satunya menurut saya, ketika Minke pertama kali masuk ke rumah Nyai Ontosoroh, ada beberapa scene yang jeda cukup lama, yang membuat kita berpikir 'ini ngapain ya'. Kalau baca bukunya, kebayang Minke sebegitu mengagumi rumah Nyai, tapi di visual, saya merasa pesan itu belum sampai. Entah dari pengambilan gambar, atau kurangnya penyampaian emosi Iqbaal sebagai Minke.

Terakhir, Alunan Ibu Pertiwi yang dilantunkan sang legenda, om Iwan Fals, Once dan Fiersa Besari sukses bikin merinding.

Sebagai pembaca bukunya, saya menilai 8/10 secara keseluruhan

Terima kasih untuk para aktor dan aktris yang terlibat, terima kasih mas Hanung dan Falcon. FIlm Bumi Manusia berhasil membuat saya mengingat kembali tentang buku dan penulis kecintaan saya, eyang Pram.

13 Agustus 2019

REVIEW : Drama Korea Love Affairs In The Afternoon,Perselingkuhan itu... JAHAT!

Warning :17+

"Perselingkuhan bukanlah cinta"
Kalimat ini berulang-ulang ada di beberapa adegan drama korea "Love Affairs in the Afternoon"

Buat kamu yang mengutuk dan membenci cerita perselingkuhan, jangan pernah baca review atau nonton film ini. Takutnya kalian justru jatuh cinta :(

Iya jatuh cinta. Hubungan perselingkuhan yang semanis itu mungkin hanya ada di drama ini. Gak ngerti kenapa Yoo So-Jung bisa menulis cerita yang sangat menyebalkan dan justru dibuat baper di saat bersamaan.

Sulit untuk bilang kalau drama ini bagus, karena saya benci jalan ceritanya. Tapi hubungan antara Son Ji-Eun dan Yoon Jung-Woo terlalu gemas untuk mendapat cacian "Dasar pelakor, perempuan tak tau diri, lelaki mata keranjang, gak kasian sama istri, bla bla bla..."

Inti cerita ini adalah berkisah dua orang anak manusia, Son Ji-Eun (Park Ha-Sun) dan Yoon Jung-Woo (Lee Sang-Yeob) yang sama-sama 'jatuh cinta' di saat mereka sudah memiliki pasangan hidup masing-masing

Ji Eun yang punya suami dingin, pernikahan 3 tahun yang tidak ada kehangatan.
Jung Woo yang bahkan tidak sedikitpun mencintai istrinya, menikah karena rasa kasihan.

Kemudian mereka bertemu, lalu cinta itu datang. Dan...
Apa apa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, akhirnya menjadi tragedi paling menyedihkan
Mereka membangun neraka dalam rumah tangga mereka.



Hubungan yang tak pernah direncanakan, perasaan yang dibiarkan tumbuh, kemudian cinta itu hadir, hangat, terbiasa, dan tidak bisa saling melepaskan.

Mereka sadar, sudah mengkhianati pasangan masing-masing. Mereka tahu bagaimana hidup dalam surga sesaat dengan menciptakan neraka kecil untuk orang lain. Mereka hanya butuh satu hari lagi, untuk kemudian mengakhiri semua romansa yang mereka rasakan. Dan diulangi lagi di keesokan harinya. Mereka sudah terlanjur sejatuh cinta itu

Tidak ada cinta, kesetiaan, dan kebahagiaan dalam hubungan perselingkuhan.
Dunia tidak pernah mengizinkan rindu itu tumbuh. Bahagia di atas kesakitan pasangan sah.
Itu bukan cinta.

Karakter lembut Ji-Eun bertemu dengan hati hangat Jung Woo, akan membuat siapapun yang menyaksikan film ini hanyut dibawa perasaan. Bagaimana kuat perasaan mereka, bagaimana sakit hatinya ketika dunia tak lagi mengizinkan mereka saling berpegangan tangan.
Penonton bahkan lupa, kalau itu hubungan terlarang. Mereka berselingkuh, dan itu kejahatan



Iya, tidak ada satu alasanpun yang membenarkan sebuah perselingkuhan
Bahkan meski saling mencintai, bahkan meski hubungan rumah tangga sah berantakan dan sudah tidak lagi ada kasih sayang, bahkan ketika pertama kali merasakan lagi apa yang namanya jatuh cinta.
Jelas perselingkuhan itu sebuah kejahatan.

Bagaimanapun cinta itu tulus, akan berakhir tetap dengan bangunan yang runtuh, perasaan yang terlanjur cacat, dan sulit membuat utuh kembali.

Seperti akhir cerita ini, seluruh dunia memandang perselingkuhan adalah dosa, pezina yang menjijikan, perbuatan yang tak bisa termaafkan.

********************

Ffiiuhhh... Kesel banget deh ah nulis ini, ngebayanginnya juga merinding sendiri. Semua pasangan normal pasti akan sebenci itu diduakan. Apapun alasannya. Hubungan  di luar pernikahan itu SALAH.

Please bu ibu, dik adik, mba mba, yang berniat nonton drama ini. Jangan ambil dari sudut pandang "boleh kok selinguh, ternyata selingkuh itu indah", atau "selingkuh itu gak salah kalau sama-sama cinta dan hubungan sama suami/istri udah ga sehat" dan  sejuta alasan lain

Drama ini dihadirkan untuk dilihat dari sudut pandang, bahwa tidak ada alasan apapun untuk pasangan suami istri berselingkuh, apalagi untuk suami/istri yang sudah punya anak.
Bahkan meski itu CINTA

11 Agustus 2019

REVIEW : PARASITE, Film Korea Terbagus Tahun Ini

Brilian. Jenius.
Dua kata yang saya tulis, untuk Sutradara Bong Joon-Ho.

Speechless.
Setelah nonton film ini sampai selesai pun saya masih terbengong-bengong, dan bahkan memutar ulang beberapa adegan yang membuat saya tetap deg-degan.

Iya, PARASITE, SANGAT SANGAT BAGUS BANGET.

Film ini mampu mengaduk-aduk perasaan saya dari scene pertama sampai akhir. Membuat kepala terus bertanya-tanya, setelah ini adegan apa, terus ini gimana, sebenernya siapa yang jadi protagonis dan antagonis-nya?

Mengubah mood dari tegang dengan suasana dark,  jadi kesal dan gemas. Mengaduk perasaan deg-degan seperti menonton thriller, berbalik jadi geli melihat cuplikan scene komedi satir yang bikin ketawa, but terrible at the same time.
Seberantakan itu suasana hati saat nonton.

Kejeniusan Bong Joon-Ho membuat film ini bukan hanya dari segi cerita, tapi potongan scene yang sangat rapi dan detail. Sinematografi yang super duper kueren banget, membuat kita benar-benar bisa merasakan detail kejadian, serta plot dan adegan yang mampu mengaduk perasaan penonton dari satu frame ke frame selanjutnya.


Pemilihan karakter yang tepat dengan dialog dan kejadian sehari-hari yang related dengan kehidupan manusia normal, baik kebiasaan orang kaya atau kebiasaan orang miskin.

Orang kaya yang punya kebiasaan belanja, berpesta, memaksa anak-anak selalu sempurna dalam hidup dan pendidikannya.

Orang miskin pengangguran yang butuh makan, susah cari kerjaan, hingga gambaran sedemikian pentingnya wifi gratisan.



Parasite, atau dalam bahasa korea Gisaengchung, bercerita tentang dua keluarga dengan kehidupan yang bertolak belakang.

Keluarga miskin Kim Ki-Taek (Song Kang Ho) dan istrinya Choong Sook (Jang Hye Jin) hidup di tempat kumuh sebagai penganguran dengan dua anak mereka Kim Ki Woo (Choi Woo Shik) dan Kim Ki Jung (Park So Dam)

Dan keluarga kaya, Tuan Park (Lee Sun Kyun) dan istrinya Yeon Kyo (Cho Yeo Jeong) dengan dua anaknya Park Da Hye dan Park Da Song.

Hingga suatu hari, Ki Woo berkesempatan untuk bekerja di rumah keluarga Park. Dan segala rencana yang tak pernah terrencanakan sebelumnya pun dimulai.

Keluarga miskin Kim sang parasite, akhirnya harus menghalalkan segala cara untuk tinggal di rumah sang induk semang, keluarga Park

Hal yang bikin kesal, ketika keluarga kaya ini justru menggantungkan hidupnya ke keluarga miskin.

Seperti Nyonya Yeon yang harus selalu ada bibi Choong Sook. Tuan Park yang harus selalu diikuti Pak Kim. Da Hye yang jatuh cinta Setengah mati dengan Ki Woo dan Da Song yang sangat akrab dengan Ki Jung

Membiarkan parasite ini tumbuh dan terus berkembang tanpa tahu bahayanya. Sepolos itu.

Hingga di akhir film, parasite terjahat yang sudah menumpang selama 4 tahun dalam rumah induk semang, memaksa dirinya keluar dan menimbulkan tragedi yang tak pernah terbayangkan.

Kehidupan semua keluarga berakhir kacau. Tak terkendali. Twist twist kecil terus diselipkan di tiap adegan, yang membuat perasaan penonton pun sama kacaunya.



Dan, boommm... Berhasil.
Bahkan hingga akhir, film ini tetap tidak membiarkan penonton turun dari roller coaster. Tetap menggantung dengan rasa penasaran dan masih harus mikir, mengira-ngira ending sesungguhnya akan seperti apa, seperti suasana yang dirasakan sepanjang film.

Tepat di peringatan ke-100 tahun perfilman Korea, sutradara Bong Joon-ho dengan film cerdasnya berhasil memberikan hadiah termahal, yaitu membawa Parasite meraih penghargaan bergengsi level dunia, Palme D’Or Festival Cannes 2019.
Membuktikan film ini mempunyai kualitas hampir sempurna.

Ada yang masih belum nonton film ini?
Sudah ada lho di drakor.id (bukan promo)

5 Agustus 2019

REVIEW : Villa Panorama 23, Lembang, Bandung. Kerja sambil santuuy

Villa Panorama 23, Lembang, Bandung. cr/ayazahir

Bandung, Bogor
Dua kota yang selalu jadi pilihan untuk warga Jabodetabek mau ngadain acara semi resmi nyambi refreshing atau liburan tipis-tipis

Iya, di mana lagi selain dua kota yang paling terkenal banyak area wisata, adem, harga bervariasi dari yang paling mahal sampe yang paling terjangkau, makanan berlimpah, view indah sedap dipandang mata. Dan sederet alasan lain untuk pergi ke dua kota ini

Puncak dan Lembang
Di antara dua tempat ini. Akhirnya tim kantor saya sepakat membuat acara workshop semi santai di Lembang.

Lebih tepatnya kami menginap di Villa Panorama 23

Tempatnya enak, pas buat outing, family gathering, atau workshop dengan jumlah anggota yang gak terlalu banyak, kapasitas 10-15 orang lah.

Fasilitas lengkap, ada 4 villa yang bisa jadi pilihan. Dalam satu villa ada 3 kamar plus extra-bed dan dua kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dapur mini lengkap dengan kompor dan alat masak bisa request ke penjaga, ada aula yang bisa dipakai untuk meeting, workshop, atau karaoke, lengkap dengan sound system, infocus dan toilet.

Di outdoor, ada lapangan cukup luas untuk bikin acara BBQ atau game keluarga yang bisa banget buat dijadikan anak-anak lari, area billiard, di samping lapangan juga ada kolam renang. Walaupun di area Lembang kadang kolam ini kurang berfaedah karena dinggiinnn, ya bisa lah buat nyemplungin temen yang lagi ulang tahun.

Buat yang emang mau niat outbond, tim EO in house juga menyediakan pilihan seperti paintball, offroad atau rafting.

View yang sangat bagus, apalagi pagi hari bisa lihat kabut di atas pohon-pohon sepanjang jalan area villa, adeemmm banget.

Dan yang paling penting, area ini ada di dekat banyak area wisata dan tempat makan. Bahkan bisa jalan kaki ke pasar. Cari sarapan nasi kuning, nasi uduk, bubur ayam, lontong kari, kupat tahu, sate, ketan ulen bakar dan aneka makanan khas Bandung lain. Tinggal pilih

Mau sambil wisata? Bisa banget, di sini sangat dekat ke:
Taman Wisata Grafika Cikole
Orchid Forest Cikole
Kawah Gunung Tangkuban Parahu
Floating Market
Wisata alam & rafting Ciater spa
Wisata alam Maribaya resort
Wisata bunga Begonia
DeRanch
Wisata edukasi rumah ilmu Octagon

Ada beberapa hal kecil yang kurang di dalam villa menurut saya pribadi. Di sini gak disediain cermin, secara kalau perempuan itu nginep di manapun cermin adalah wajib, jam dinding juga gak ada. Ini bukan yang krusial sih. Dan untuk ukuran villa 2.5 juta permalam ini sudah cukup lengkap, dan nyaman banget.

Buat kalian yang mau bikin acara skala group kecil dan pengen eksklusif, villa ini bisa dijadikan pilihan.

Silakan search Villa Panorama 23
JL. Raya Tangkuban Perahu, Komplek Panorama B23

Dan ini beberapa view foto yang saya ambil dari kamera pinjeman teman
















4 Agustus 2019

VIRAL : Jabodetabek Mati Lampu Serentak, Aktivitas Mendadak Lumpuh

https://i2.wp.com/cianjurtoday.com/

4 Agustus 2019, jam 12.00 siang
Ada 'peristiwa menghebohkan', jeda sepersekian detik tiba-tiba grup chat, update status whatsapp, Instagram, twitter dan berbagai macam sosial media chaos.

Hashtag #MatiLampu berkibar jadi trending topik nomor wahid

Iya.

Semua karena pemadaman listrik serentak, di berbagai daerah Jabodetabek dan sejumlah wilayah di Bandung

Jakarta lumpuh
Kota-kota besar resah.

Kantor-kantor yang masih beroperasi di hari Ahad rame, panas, komputer mati, panik, data-data yang belum di-save hilang, kereta listrik gangguan, lampu lalu lintas di beberapa ruas jalan ikut padam, sejumlah koneksi internet lemot, bahkan ada yang mati total, ga bisa ngapa-ngapain.

Iya

Hanya anak zaman now yang merasakan kegundah-gulanan semacam ini. Bukan nenek kakek kita, nenek kakek saya. Mereka anteng aja. Gak peduli. Gak ngaruh buat hidup mereka. Bertahun-tahun dulu mereka hidup tanpa penerangan listrik, nyaman aja, adem.

Tahu anak cucunya se-chaos ini, mereka cuma senyum sinis sambil memiringkan ujung bibir ke atas, segaris, "Kalian sepanik ini beberapa jam pemadaman listrik, anak muda" hehe

Jangankan nenek saya yang usianya 106 lebih. Saya yang baru menginjak kepala 3 aja pernah mengalami hidup bertahun-tahun tanpa listrik. Karena di pedesaan dulu emang belum ada.

Adem banget isi kepalanya, gak cepet panas, gak gampang kemakan hoax, gak asal menyimpulkan sebuah masalah hanya dengan melihat 1 link berita yang beredar. Gak mudah kepancing dan ikut ngomentarin permasalahan hidup makhluk hidup lain yang hidupnya beda sama kita.

Iya, tapi dulu pengetahuan terbatas, tinggal di daerah A ya hanya tahu kondisi dan kabar dareah A, apalagi tahu permasalahan perekonomian dunia.

Dulu gak bisa seenak sekarang, yang cuma modal quota sambil rebahan di kasur doang bisa tahu isi hati Raffi - Nagita dengan hanya buka Youtube Rans Entertainment atau belajar dandan sambil lihat tutorial make-up atau bisa memperdalam ilmu agama di manapun sambil dengerin kajian ustadz tanpa selalu dateng ke majelis taklim.

Zaman now, lain Nek, pemadalam listrik dalam beberapa menit bisa mengubah banyak hal.
Termasuk pengaruh ke penghasilan youtuber karena traffic tiba-tiba menurun.

3 Agustus 2019

VERSUS : [Lebih Suka] Telepon atau Chat?



Di zaman serba canggih yang sudah ada kamera yang bisa ilang timbul dan bisa diputer depan belakang gini emang serba gampang.

Yang dulu gak ada telpon, mau ketemu orang susah, janjian sama temen susah, nyari orang ilang susah, sekarang butuh tinggal kriing.
Yang dulu HP cuma bisa buat Telpon dan SMS doang, sekarang udah bisa buat video call, kirim voice notes, main Tik Tok, Streaming youtube Atta Halilintar dan lain lain

Belum aja ntar HP udah bisa disuruh-suruh ngepel, nyuci piring, nyetrika baju [dan perasaan] yang kusut, ngerapiin tempat tidur biar gak ganggu moment rebahan sambil maenin gadget yang sumpah gak bohong ini nikmat banget ya Tuhaaan.
Iya secanggih itu teknologi.

Ada dua hal komunikasi dua arah dengan gadget. Telepon atau chat?
Kalian tim yang mana? Mending chatting-an atau teleponan.

Iya. Saya ga bicara tentang tergantung kebutuhan. Karena kalo emang lagi penting banget atau berkomunikasi dengan orangtua yang agak kurang paham nulis chat, ya mau ga mau harus memanfaatkan fitur telepon.

Tapi Saya pribadi. Selain telepon dari suami, yang harus banget nelpon cuma buat nanyain "Ayank iket pinggang yang ada logo 'burung garuda dengan kaki kirinya naik ke atas' aku di mana?" atau nanya "Nasi gorengnya telornya dipisah atau engga?"

Atau telepon abang ojek online yang bilang "Saya udah di depan ya, Mba"

Selebihnya ngerasa kalo fitur telepon itu ganggu.
Jadi kalo tiba2 ada orang telepon selain pak suami, keluarga dan abang ojek online tadi. Pasti sebelum angkat sepersekian detik saya mikir dulu, kira2 ada masalah apa ya orang ini telepon.

Jadi Kalo ada telpon berdering dan saya lagi males
Krringg...
Saya intip nomornya, kenal ga kenal
Saya diemin
Tungguin sampe deringnya mati
Tunggu beberapa menit, terus chat "eh ada apa? Maaf tadi ga keangkat"

Atau nunggu sekali dering
Krringg...
Saya intip nomornya, kenal ga kenal
Saya diemin
Tunggu sampe deringnya mati
Kalo doi ga chat, ah berarti ga penting. Gitu deh

Jahat ya. Hehe
Iya kan kalo lagi males

Ngapain sih ada fitur chat harus telepon segala. Males juga ntar mau ngomong apa, terus momen mau mengakhiri panggilan juga suka awkward gitu. Emang gak masuk akal sih alasan malesnya. Tapi emang kurang suka aja ngomong by phone.
Takutnya ditelepon ternyata penting dan bikin momen rebahan malah jadi keganggu lagi. Eh gimana?

Kalo chat kan penting ga penting bisa dintar-ntar juga balasnya.
Bisa mikir dulu mau Jawab apa.
Bisa ngetik wkwkwkwkwk padahal gak ketawa.

Yang jelas Saya lebih suka chat daripada telepon. Gitu deh
Kalau kamu?

1 Agustus 2019

VERSUS : Anti-Spoiler atau Pro-Spoiler?


Lagi ada film apa sih di bioskop pekan ini?

Sebagai seseorang yang kudet tentang film, saya mau bicara tentang beberapa hal tentang nonton.
Pro-spoiler dan anti-spoiler. Kalian termasuk yang mana?

Saya kurang asyik kalau ditanya tentang film, ga bisa menilai mana film bagus, biasa aja, jelek, dan jelek banget. Siapa aktor yang aktingnya bagus, biasa aja, jelek atau jelek banget. Gak ngerti kalau ditanya siapa sutradara yang karyanya selalu bagus, biasa aja, jelek dan sangat kurang.

Bicara tentang spoiler film. Mungkin saya juga termasuk orang yang menjengkelkan untuk orang-orang yang anti-spoiler.

Bukan, saya bukan orang yang kerap caper nge-spoilerin film apapun yang udah saya tonton. Tapi lebih ke nanyaaa mulu ke orang yang sudah nonton, sebelum saya memutuskan untuk nonton film tertentu.

Ada beberapa teman saya yang sangat anti spoiler, mereka bilang tukang spoiler itu adalah spesies yang sangat menyebalkan, caper, norak, bahkan mereka tidak segan-segan meng-unfollow atau nge-block sementara teman-teman yang suka jadi tukang spoiler dadakan ketika ada film bagus.

Tentu saja bukan termasuk saya. Tapi makhluk macam saya juga mereka pikir menyebalkan
"Masa mau nonton harus diceritain dulu, gak seru dong. Terus ntar lo nonton apa kalo ceritanya udah tahu. Aneh banget"

Dan saya cuma melongo.

Lah apa iya ya?
Tapi kok saya justru mau nonton kalo udah tahu ceritanya dulu, kalo udah ada yang nyepoilerin, udah tahu siapa yang mati, abis ini gimana, terus tamatnya dia bahagia atau enggak. Gitu deh

Bahkan kalo lagi nonton bioskop nih, [orang-orang kayak] saya emang bikin kesel kali. Bikin berisik.
Sering ngebisikin orang sebelah "Ini siapanya? Terus ntar yang itu datang gak, ketahuan gak? Kapan dibunuhnya?"

Jadi yang saya tonton lebih ke visualnya. Saya ngerasa sama aja kayak udah baca buku terus nonton filmnya. Jelas ceritanya udah tahu, cuma penasaran pengen liat visualnya kayak apa. Jadi bukan penasaran sama jalan ceritanya.

Rada aneh sih.

Karena bagi mereka (si anti-spoiler) suspense cerita bukan hal gampang dibuat para sineas. Dan sebagai bentuk apresiasi karya mereka, please jangan gampang bikin spoiler cerita. Apalagi diumbar di sosmed. Biar apa sih? Pamer gitu kalo dia udah nonton. Biar apa?
Cih, gak ada keren-kerennya

Saya setuju bagian ini. Dan saya pun tidak pernah senorak itu jadi tukang spoiler dadakan nyeritain jalan cerita film apapun yang udah saya tonton. Apalagi pamer di sosmed.

Tapi gimana ya, saya pro-spoiler.
Spoiler individu. Saya butuh orang buat nanya doang, ke teman, ke pasangan, ke siapapun yang tahu jalan ceritanya. Baru saya mau nonton

Ngerti kan maksudnya?

Jadi, kalau kamu tim mana nih?
Tim anti-spoiler atau pro-spoiler?