13 Maret 2012

12 Maret 2012

Ah, Kau imam yang menyebalkan_3

Kota ini ramai sejak pagi
“Pagi Humaira”.
“Ah pagi mbak”.
“gimana tidurnya semalam, nyenyak kan? Di sini sih tidak seramai Jakarta memang, tapi gak di pelosok juga sih”.
“saya suka mbak, nyaman”. Aku tersenyum ramah sambil meminum teh hangat sedikit-sedikit
“Kamu gak apa-apa ditugaskan di luar kota begini beberapa hari, Ra?”
“Kan sudah izin suamiku mbak”.
“Mm maksudku kan, kalian masih pengantin baru, apa nggak apa-apa hehe”
“Mas Yudha membebaskan kok, lagian kan ini pekerjaanku. Sebelum menikahpun kita sudah sepakat tentang pekerjaan mbak”.
“Bagus, imam yang baik”.
Aku tersenyum
“Hari ini kita ke desa Sidoarjo, tokoh wanita yang akan kita tulis rumahnya di sana Ra”.
“jauh mbak?”
“Lumayan, satu jam setengah lah ke sana”.
“baiklah”.

1 Maret 2012

Ah, Kau imam yang menyebalkan_2

Usia pernikahanku baru enam bulan, tepatnya enam bulan sepuluh hari. Selama menikah dengan mas Yudha, sosok pria tampan, sholeh dan sangat pintar itu, belum ada tanda-tanda perbaikan diri juga padaku, masih malas-malasan dalam beribadah terutama. Setiap malam, mas Yudha membangunkanku shalat tahajud, bahkan sampai tadi malam aku masih saja belum tersadarkan bangun sendiri. Aku paham betul akan keutamaan shalat malam tersebut, tapi rasa malas  masih seringkali datang. Aku penulis, juga pembaca, aku baca semua buku, apa yang aku tidak tahu. Tapi entahlah, pada prakteknya aku memang sangat payah. Beruntung suamiku itu makhluk yang sabarnya melebihi manusia-manusia normal di muka bumi ini, apapun yang aku lakukan dia tak pernah marah atau kesal. Aku bahkan ingin membuat dia marah dengan kemalasanku, tapi tidak. Dia teramat terlalu sangat sabar menurutku. Tersenyum manis, membelai pipiku lembut, dan menasihatiku dengan pelukan. Istri mana yang tidak luluh mendapat perlakuan suami sebaik itu.

“Masa sih mas, ibu ibu sekomplek ini masiiih aja usil. Cuma gara-gara bu Neti yang di ujung sana itu kemaren bolak balik ke Singapura, tiap pagi diomongin, loh yaa terserah bu Neti dong, dia punya uang banyak, suaminya kaya, pada sirik aja itu ibu-ibu.”

“Lah, kamu sendiri kok ngomongin?” suamiku tertawa lucu sambil membersihkan aquarium mini dekat dapur.
“ish, siapa yang ikut ngomongin? Aku Cuma bilang ‘ya mungkin bu Neti lagi punya rezeki lebih bu’ gituu, eeh terus aja mereka ngomongin, uangnya hasil korupsi lah, malah ada yang kejam bilang itu tuh uang dari selingkuhannya gitu mas”.
“Hmm, besok bareng mas aja ke pasar pagi-pagi beli sayurnya sambil lari pagi, oke”.
Mas Yudha mengecup ubun-ubunku sambil berlalu ke kamar mandi. Aku yang sibuk memotong-motong terong serong, langsung terdiam. Yaa ampuun, nyebelin banget siih, tanggepin kek aku kan lagi curhat. Aku percepat memotong terong dengan bentuk tak karuan.

“Kok mas mau sih menikah denganku?” ini sudah pertanyaan ke sekian puluh kali aku lontarkan. Namun hingga kini masih aku tak yakin dengan jawabannya atau memang ingin selalu mendengar penjelasan setiap kali suamiku menjawab pertanyaanku.
“karena kau berbeda dengan wanita lain”.
“Iya berbeda, aku yang manja, pemalas, banyak tidak tahunya, banyak protesnya, bukan wanita muslimah banget kayak mbak mbak teman suamiku yang ganteng ini”.
Lagi-lagi dia terkekeh meninggalkanku sambil mengusap-usap gemas kepala sampai jilbabku rusak, kalau sudah begitu aku bersungut-sungut kesal, sambil merapikan jilbab dan masih penasaran dengan  pertanyaan-pertanyaan yang digantungkan suamiku.