14 Agustus 2012

Jika aku jatuh cinta



Assalammualaikum, wr.wb
Demi Allah yang Maha Menjatuhkan Cinta, tulisan ini dibuat dengan cucuran air mata. Air mata yang ku harap bisa sedikit membasuh noda atas pandangan kemanusiawianku sebagai seorang yang diuji oleh perasaan jatuh cinta.

Ujian terhebat dalam hidupku, barangkali sukar melepas diri dari perasaan mencintai. Perasaan yang berhasil disamarkan iblis menjadi seakan-akan perasaan ini suci dan aku terus meneruuuss dihanyutkan dalam setiap buaiannya. Dengan alasan mendekatkan diri pada-Mu, hatiku bersemu-semu merah jambu, atas dasar keyakinan karena cinta ini tidak keluar dari jalur islami dan ketaatanku meminta sesuatu pada_Mu, Rabbku

Anggapan bahwa aku sudah menempatkan cinta di jalur yang tepat membuatku merasa percaya, bahwa cinta yang serupa ini adalah cinta yang tidak dibenci Allah. Cinta yang Kau ridhai, cinta yang Kau kehendaki.
Demi Allah yang Maha Menatap Segala, isi hatiku seketika berubah seluruhnya menjadi cinta. Dengan alasan bahwa sepenuhnya aku jatuh cinta karena-Mu.

Ampuni aku, Allah. Ampuun ya Rabb…

Kau jauh lebih dekat dari apa yang aku kira, Kau lebih tahu dari segala apa yang bahkan tak sempat ku berkata-kata, hanya Kau yang paling mengerti siapa siapa yang Kau pantasan untukku.

Aku tak sanggup lagi meminta ini dan itu, aku tak kuasa berharap untuk dipersatukan dengan siapa siapa yang ku kira pantas, tapi tak pantas menurut Mu. Kau sebaik-baik penjaga rahasia, rahasia tentang kehidupanku. Baik menurutku tidaklah sama dengan perhitungan Mu.

Demi Allah yang Maha Menjaga hidupku dari lelap hingga terjaga keesokan harinya, ini hanya secarik kertas yang tertulis demi memohon pengharapan ketenangan jiwa tentang kesusahan hatiku. Keresahan dihadapkan dengan ujian jatuh cinta. Jatuh cinta pada sesama makhluk Mu

Dikutip dari syair islami:

Ya Allah, jika aku jatuh cinta
Cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya kepada Mu
Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai Mu
Ya Muhaimin, jika aku jatuh hati
Izinkan aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada Mu
Agar tidak terjatuh aku dalam jurang nafsu
Ya Rabbana, Jika aku jatuh hati
Jagalah hatiku padanya, agar tidak berpaling dari hati Mu
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu
Rindukanlah aku pada seseorang
Yang merindui syahid di jalan Mu
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih Mu
Janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya,
Bermunajat di sepertiga malam terakhir Mu
Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasih Mu
Jangan biarkan aku melampaui batas
Sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
Dan rindu abadi hanya kepada Mu
Amin Ya Rabbal Alamin

13 Agustus 2012

Dua Super hero Ciputat

photo jalan Ciputat-Cileduk, sumber: google

Seminggu menjelang idul fitri 1433 Hijriah
11.45 waktu Indonesia Bagian Ciputat, kalian yang bermukim di daerah Tangerang dan sekitarnya sudah pasti sangat paham bagaimana suasana ‘gersangnya’ kota ini. Saya beberapa kali harus bolak balik ke kawasan yang subhanallah banget panasnya ini sesekali berpikir ‘seandainya saya tinggal di sini, apa yaa bisa dapet inspirasi buat menulis ya (._.”)

Kendaraan yang berlalu lalang tanpa henti juga bergerak tanpa aturan, suara klakson berpadu raungan knalpot dengan asap mengepul hitam. Jejeran ibu-ibu separuh baya dengan tentengan mangkuk di tangan kanan dan anak umur satu tahunan di bahu kiri lelap dalam gendongan, menengadah ke arah kaca mobil-mobil mewah yang berlalu seolah tanpa melihat apa-apa. Ini sudah biasa, diperempatan setiap lampu merah Jakarta.

Sekitar lima atau enam motor ojek berjajar di bawah pohon yang bahkan tidak bisa menghalangi garangnya matahari. Sesekali mereka bercanda, sambil mengacung-acungkan jari mencari penumpang seberang jalan yang barangkali butuh bantuan kendaraan “kemana bu, mbak, ojek mbak, ojek bu, dari pada jalan”, si ibu yang dimaksud tetap berjalan cepat menyeret anak kecil dengan rambut meriap di dahi tak pedulikan teriakan abang ojek yang masih gigih menawarkan jasa.

Dua tiga angkot dengan nomor yang sama berbaris ‘ngetem’ di bahu jalan yang ironisnya bahkan mereka berada di samping rambu-rambu lalu lintas dengan huruf S disilang, yang artinya don’t STOP (dilarang berhenti). Sopir angkot dengan cueknya berhenti acuh bahkan tidak mengindahkan gerutuan penumpang yang mau tidak mau ikut menunggu tidak bergerak hingga hampir satu jam. Lebih tidak mempedulikan kondisi bulan Ramadan seenaknya merokok , makan minum di balik kemudi dengan setir berwarna kecoklatan.

Saya, duduk di trotor di depan mesjid. Mau tidak mau mencari atap pelindung dari sengatan matahari yang entah berapa derajat panasnya. Keringat mulai membanjiri pakaian dan jilbab saya. Sedikit berpikir untuk pekerja kasar jalanan yang harus setiap hari berada di lingkungan semacam ini dan tetap menjalankan ibadah puasa itu amazing banget menurut saya. Saya yang baru beberapa hari saja di sini rasanya hampir tidak mampu berlama-lama berdiri di luar ruangan.

Dua minggu terakhir sebelum idul fitri, pekerjaan saya memang sedang lumayan banyak. Biasanya, tugas saya hanya menulis naskah di balik meja ruangan ber-AC, bahkan saya terbiasa menulis dalam nyamannya ruang kerja di kamar sendiri. Sekarang tidak.

Bertambahnya program, bertambah pula pekerjaan crew yang bertugas. Mencari bahan untuk konsep yang setiap minggu bertema, mencari bintang tamu, hunting lokasi, menulis naskah syuting out door, naskah live studio, rundown, hingga laporan kerja harian. Bahkan, yang menyedihkan saya tidak sempat mudik lebaran #Inicurhat. Berikut hanya sebagian kecil kesibukan yang barangkali rasanya lucu sekali jika semuanya saya sebutkan, bukan kah berarti ini sudah termasuk kategori mengeluh.

Tidak sama sekali, saya tidak sedang mengeluh, hanya kebetulan tulisan ini mengalir untuk membahas apa-apa saja yang akhir-akhir ini saya kerjakan. Balik ke topic pembahasan, saya yang duduk di trotoar pinggir jalan dengan masih memandang suasana kebisingan dan kemacetan Tangerang Selatan. Banyak alasan untuk saya bisa mengeluh, atau bahkan mengumpat detik itu. Panas yang garang, mencari alamat yang susah dicari, narasumber yang (saat itu) infonya tidak begitu jelas waktunya, jalanan dengan ratusan kendaraan yang ber’tin-tin’ sembarangan. Para pejalan kaki yang berlalu lalang tepat di hadapan saya asyik meminum es buah tanpa peduli sekitarnya (padahal siapa juga yang minta dipedulikan yaa, hehe). Inti ceritanya suasana semacam itu membuat ke’bosanan’ dan emosi meningkat, ingin menggerutu sih tapi sekasar apapun gerutuan saya tidak membuat jalanan ini lancar bukan? Tidak menjadikan ibu-ibu yang terseok-seok di tengah jalan itu berhenti mengemis, bahkan tidak membuat matahari mengurangi kadar ke’sangar’annya. Jadi pilihan saya diam dan nikmati semua pemandangan menjemukannnya.

Tidak ada yang berubah, tidak ada yang merasa terganggu kehadirannya. Abang ojek masih becanda dan sesekali mengacung-acungkan jari mencari penumpang. Mobil-mobil mewah masih membunyikan klakson berisik sambil berlalu acuh tak pedulikan bayi-bayi kecil yang digendong ‘ibu’nya mengetuk kaca jendela mereka. Sopir angkot yang tak ‘berprikepenumpangan’ masih tetap anteng tidak bergerak menunggu omprengannya penuh. Tidak ada yang merasa terganggu dengan keadaan sekelilingnya yang semrawut khas ibu kota.

Sama halnya dengan dua anak kecil tak jauh di sebelah saya duduk, sekitar berumur 7 dan 8 tahun. Yang lebih besar mengenakan baju super hero warna hijau gambar Hulk, spiderman, dan iron man. Yang kecil mengenakan baju dengan sayap kelelawar di punggung bertuliskan batman, keduanya tanpa alas kaki. “Dua super hero Ciputat”

“Lo udah dapet berapa?”
“Baru tujuh ribu”
“Lo, tau gak sih pendapatan ibu-ibu pengemis itu?”
“entah, yang pasti gue gak suka. Bukannya kerja, emak gue lebih tua lho dari ibu-ibu itu masih kerja, ini malah ‘minta bu, minta pak’.
“Yaa abis mau kerja apa dong, uang ga ada”
“Lah, kan bisa jadi apa aja. Mending jadi pembantu kek, dari pada minta-minta gitu”
“Gue mau jadi supir bis aja ah nanti kalo udah besar. Katanya hasilnya jutaan tau sekali balik”
“Tapi kan disetor ke bosnya, bego
“Tapi kalo sekali balik sejuta, 50 balik. Berapa coba?”
“Semilyar mungkin ya. Ah, kalo gue mending jadi samsat Ciputat gantiin bapak gue”
“Yaa, palingan gajinya juga berapa”
“Emang lo mau beli apa kalo punya uang jutaan?”
“beli beras lah, buat emak gue”
“eh, bang Sandi tuh bang Sandi, yuuk pergi yuuk”

Satu anak yang lebih kecil menunjuk ujung tikungan, pandangan saya mengikuti arah yang ditunjuk si ‘batman’. Tampak pemuda tanggung berpakaian yang ‘wow’ memukau dengan rambut mohawk, memakai ikat kepala, lengan kurus bertato dan rantai panjang di pinggang celana berjalan bergerombol sambil merokok. Kedua anak umur tujuh dan delapan itu berlarian meninggalkan tempat duduknya, meninggalkan saya yang sejak tadi ‘menguping’ dan merekam dengan baik semua percakapan absurd mereka. Entah siapa nama kedua anak itu, di mana rumahnya, orang tuanya bekerja apa, sekolah atau tidak. Entah, saya tidak sempat bertanya apa-apa, hanya ‘tidak sengaja’ mendengar apa yang mereka bicarakan.

Siapapun mereka, kedua anak itu adalah anak baik. Dengan pemikiran polos sudah belajar menghargai kehidupan dengan benar. Sudah mengerti mana pekerjaan yang boleh dan tidak ingin mereka lakukan. Di bawah sinar matahari yang masih belum mengurangi teriknya, saya meninggalkan trotoar pinggir jalan masuk ke mobil crew menuju lokasi untuk bulan depan syuting.

Dua superhero Ciputat, jika tak sengaja kita bertemu lagi kelak, saya akan berbaik hati berbagi cerita. Cerita apa saja yang kalian suka :)

1 Agustus 2012

Ramadannya anak kost-an


Ini kali pertama saya menjalankan ibadah puasa dengan predikat anak kost. Seru, menyenangkan

Setelah sebelumnya saya mengkhawatirkan banyak hal, dengan pengalaman bertahun-tahun bangun sahur tinggal makan dan kini saya harus berpikir bagaimana caranya untuk tidak bangun kesiangan, bagaimana caranya masak sendiri dan lain lain dan sebagainya.

Ternyata kekhawatiran saya berlebihan, memang sih hari pertama saya kesiangan, tepat pukul 04.00 baru bangun dalam keadaan kaget. Untung dengan keterbatasan kecerdasan saya di waktu malam sebelum tidur saya sudah menyiapkan segalanya, nasi, lauk, dan sayur. Jadi bangun tinggal makan saja sebetulnya. Tapi, tetap saja saya kaget dan terburu-buru, padahal waktu imsyak juga masih setengah jam lebih dua menit kemudian.

Itu hari pertama, menyiapkan menu berbuka juga harus sendiri. Sendiri sesungguhnya adalah bukan artinya benar-benar sendiri, artinya saya masak sendiri (tidak lagi dimasaki ibu) tapi tetap rame-rame dengan anak kost yang lain. Begitupun sahur, kali kedua saya bangun lebih awal jam setengah tiga, wow, sepertiga malamnya Allah banget tuh. Setelah basa basi dikit sama yang punya hidup, akhirnya saya nonton acara kesayangan dulu di TVRI kisah-kisah Islami (yang kebetuan selama beberapa hari terakhir menceritakan kisah Siti Maryam). Menyengajakan diri bersantai, masaknya nanti jam setengah empat. Bergiliran dengan teman yang lain juga, sambil sesekali cekikikan malam-malam kalau tiba-tiba ada yang lucu.

Moment yang paling menyenangkan adalah ‘membangunkan anak kost sahur’, ini kejadian yang kayaknya akan selalu bikin kangen. Ternyata tidak hanya saya, mereka yang kebanyakan masih mahasiswi lebih lagi malasnya. Terbiasa bangun sahur tinggal makan, terbiasa begitu melek tinggal duduk dan nyuap, dan sekarang harus mengurus segala sesuatu sendiri. Belum lagi ada saya yang sepertinya sengaja benar membangunkan mereka paksa, saya gedor kencang-kencang pintu kamar mereka, seolah ada kabar genting yang detik itu juga harus mereka dengar, membuat mereka bangun dalam keadaan kusut dan cemberut.  Puas banget rasanya meliahat wajah mereka yang bangun ‘terpaksa’.

Makan bareng, sambil ketawa-ketawa gak tahu apa yang dibahas. Makan di depan tv dengan menu campur aduk apa yang ada di makan. Setelah akhirnya menumpuk cucian piring di dapur lantas mereka kembali tidur hingga subuh.

Mereka? Ya mereka, saya enggak. Saya tidak terbiasa tidur antara jeda sahur dan subuh, karena kalau sudah terlanjur tidur susah lagi bangun subuhnya, itu alasan paling masuk akal. Nonton tv lah, online lah, cuci piring lah (iya saya rajin banget), bersih-bersih kamar, dan seterusnya dan sebagainya dan lain-lain.

Hingga tiba waktu subuh, moment menyenangkan terulang lagi. Anak kost lain sengaja tidak pernah mengunci pintu kamar mereka, supaya saya bisa masuk dan (lagi-lagi) memaksa mereka bangun subuh. Setelah ambil air wudhu, saya mengendap-endap masuk ke satu persatu kamar mereka saya nyalakan lampu dan cipratin air di tangan dengan gaya khas teriakan “air suci, air suci”, lagi-lagi mereka gelagapan kaget dan kesal. Lah, mereka yang minta saya bangunin yaaa…? Haha begitu terus sampe kamar paling ujung semua bangun, semua shalat subuh, dan kadang ada beberapa yang mengaji setelah sholat ada yang langsung tidur lagi.

Saya? Kamar sudah rapi, lantai udah bersih, piring sudah saya cuci semua. Biasanya lagi-lagi nonton tv sampai kira-kira jam 6 pagi, sambil rendam cucian baju kotor, setelahnya lantas mencuci, mandi, matikan semua lampu kost-an dari lantai bawah sampai lantai tiga. Kalau semua sudah beres, kebiasaan yang paling menyenangkan menatap matahari terbit di lantai paling atas yang viewnya menghadap langsung ke arah puncak Bogor, bisa menatap lekukan jalan bukit sentul dari kejauhan. Sambil baca buku dan mendengarkan music, lebih sempurna kalau sambil minum roti dan coklat hangat #iyainibulanpuasa

Begitu terus berulang-ulang setiap hari. Ohya, saya bekerja. Bekerja di kamar lebih jelasnya. Karena saya bekerja sebagai penulis naskah sebuah stasiun tv di Jakarta yang tidak mengharuskan setiap hari saya ke kantor namun mewajibkan setiap dua hari sekali kirim script cerita hasil imajinasi yang saya buat-buat sendiri.
Setiap pagi menatap matahari terbit itu menyenangkan, sangat menyenangkan, anginnya dingin sangat, awannya bersih, langitnya masih biru. Serasa alam semuanya tersenyum ke arah saya, atau saya yang memang selalu keGRan.

Saya akan selalu merindukannya, rindu suasana seperti ini terus-terusan. Ini saya tulis pada pukul 7 pagi, di taman lantai atas kost Louis, Bogor 31 Juli 2012

Serba serbi Ramadan



Wah, sudah berapa hari saya tidak berkunjung ke rumah persinggahan saya sendiri, -bagi saya, blog itu adalah rumah persinggahan (isi kepala)-. Akhir-akhir ini di kantor agak sedikit lumayan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan cepat, beriringan dengan pergantian management yang mengelolanya. Sebab itu yang menjadikan saya mulai jarang menulis di blog, sebenarnya itu bukan satu-satunya alasan. Atau memang saya hanya mencari-cari alasan untuk agar terlihat sibuk dan sah-sah saja lama tidak posting tulisan di sini, haha

Apapun lah ya, yang jelas pada kenyataannya saya sudah cukup lama tidak posting apa-apa. Padahal dulu awal-awal pindah domain, saya berjanji akan menulis minimal seminggu tiga kali, tiga kali apa?

Terlalu banyak basa basi (terutama dalam prolog tulisan) adalah bukan kebiasaan saya sesungguhnya. Tapi entah, karena kali ini saya juga bingung hendak bercerita tentang apa. Dituntut harus sesuai judul blog, apapun yang saya tulis adalah ceritanya saya, iya kan ya? Bukan tentang apa-apa, bukan tentang siapa-siapa, atau cerita siapalah apalah yang harus ada hubungannya dengan saya, begitu kan ya?

Ini hari ke-10 puasa tahun ini, (walau ini baru hari ke-3 saya puasa, hehe) tidak ada banyak hal yang saya lakukan selain menulis, membaca, menulis, membaca begitu terus berulang-ulang. Banyak buku baru hadiah dari teman-teman ketika saya berulang tahun, ini yang menahan saya berhari-hari tidak rela meninggalkan kamar. Juga beberapa program di stasiun tv tempat saya bekerja membutuhkan tulisan-tulisan hasil imajinasi ‘mengarang’ saya cukup membuat hari saya makin tidak pernah bisa keluar ruangan. Bahkan ibu kost saya bilang bahwa saya adalah satu-satunya anak kost paling setia yang tak pernah kemana-mana, titip kunci, titip tamu, titip apa-apa segala akhirnya ke saya. Yaa sesekali titip makanan gitu kek harusnya ya, hehe

Pada dasarnya saya bukan blogger yang sering memposting kegiatan sehari-hari saya saat ini sedang ada di mana, dengan siapa dan berbuat apa (karena saya bukan kangen band). Dengan bahasa santai bercerita kegiatan hari ini kemanalah ngapainlah, tidak biasa begitu biasanya. Tapi tak apalah, karena saya bingung juga mau cerita tentang apa. Karena sebenarnya saya bukan pencerita yang baik, tapi penulis yang suka berkhayal, heee

Ini kesempatan saya bercerita tentang apa yang saya lakukan selama Ramadan. Selain sibuk dengan ibadah-ibadah tambahan selama bulan puasa, bagi perantauan seperti saya menyiapkan oleh-oleh buat mudik adalah salah satu hal penting yang bahkan harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Dan, ini tahun pertama saya mudik (pulang kampung) dalam keadaan sudah bekerja (tahun-tahun kemarin status saya masih mahasiswa). Jelas ada perbedaan, yang biasanya ibu saya mengirim uang untuk ongkos pulang kampung, kali ini giliran saya yang berpikir apa yang akan saya bawa untuk ibu bapak saya. Sedikit bocoran, bahwa saya adalah tidak termasuk orang yang menyukai apapun bentuk surprise (-diberi- kejutan) dan juga memberi kejutan. Tidak bisa merahasiakan apa yang ingin saya hadiahkan untuk di rumah nanti.

Akhirnya saya telpon ibu dan bertanya “Ini  kan tahun pertama saya kerja, Bu. Kebetulan uang THR dan gaji bulan ini lumayan cukup, Ibu mau dibeliin apa?” rasanya tidak ada seorangpun ibu ketika ditanya hal semacam itu oleh anak kesayangannya yang lantas menjawab mau beli ini itu belikan ini itu, itulah apalah, yang beginilah yang begitulah, seperti kita kalau ditanya ‘mau dibawain apa’ oleh orang tua. Sama halnya seperti ibu , beliau hanya menjawab “Alhamdulillah kalau punya banyak uang, ibu sama bapak gak usah dibelikan apa-apa, baju juga udah banyak (Oke, bagian ini ibu saya agak sombong memang). Tabungin aja uangnya, jangan lupa dizakatin sebagiannya” glek, nih jawaban yang macam begini nih yang bisa menusuk berkali-kali lipat ulu hati. Awalnya saya sumringah, bangga, pede mau beliin oleh-oleh buat orang tua dipatahkan begitu saja tetap nasehat dan kasih sayangnya. Saya cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala, iyaa memang jumlah uang saya tidak seberapa dibanding uang ibu, tapi karena naluri anak yang baru saja bisa menghasilkan uang banyak bawaannya pengen pamer aja, sombong. Setelah melewati diskusi yang cukup alot diputuskanlah saya tidak membawa apa-apa dan setibanya di rumah saya diwajibkan bayarin makan-makan sekeluarga besar sepuasnya (mulai firasat gak enak), saya ‘iya’kan saja.

Akhirnya, saya pilih membelikan bingkisan untuk nenek tercinta saya saja seperangkat alat sholat (bukan mahar sih). Beliau adalah nenek yang kasih sayangnya ke saya memang suka agak lebay, selalu cerewet bertanya kabar memastikan saya makan banyak, memastikan saya tidak pacaran selama kuliah bla bla. Saya sangat mencintainya. Kalau mau itung-itungan uang, jelas nenek saya lebih banyak uangnya dibanding ibu saya, apalagi dibandingkan saya. Tapi bentuk kasih sayang dan terima kasih itu kadang yang membuat kita semakin dekat. Tak apa lah nanti kalau mau balik ke sini lagi biasanya nenek saya kasih uang saku lebih banyak lagi dari yang saya kadoin, haha (yeeee)

Masalah bingkisan nenek sudah saya siapkan meski beliau tidak minta dan tidak tahu kalau cucu kesayangannya sudah punya uang banyak untuk membelikan mukena dan sajadah yang mahal. Itu sebenarnya ide ibu, karena saya sama sekali tidak bisa membuat kejutan termasuk membeli apa yang tak pernah diminta. Nah, yang ribet adalah justru ke-empat keponakan saya -Mia, Maretha, Abel dan Donivan- kalau saya rinci begitu saya tanya “hey, kalian mau dibeliin oleh-oleh apa?” jawaban mereka seketika bikin saya straight face sambil bergumam ‘nyesel dah nanya’.

Laptop pink, hape, handuk Barbie, tas boneka hello kitty, tas angry bird, kotak pensil, pencil warna, celana pendek, bando, pensil yang lucu-lucu, jam tangan, semua alat sekolah pokoknya. Belum yang satu nyeletuk ‘saya mau warna ini’ ‘saya mau yang bentuknya begini’ ‘saya mau…’ separuh permintannya sudah tak bisa lagi saya dengar (terlanjur pingsan)

Terlanjur saya juga yang bertanya dengan pongah “Hey, kalian mau dibeliin apa?” terlanjur mereka juga berteriak saling berlomba minta dibelikan ini itu. Mau tidak mau kan, tidak bisa dibantah. Sambil senyum kecut saya catat masing-masing kemauan mereka dan sebagai tante yang baik saya coba tidak pernah kecewakan keinginan keponakan saya tercinta. Setidaknya begitu sampe rumah, ada yang dengan senang hati berebut memijat pergelangan tangan kaki dan leher saya kalau sudah dikasih hadiah nanti (senyum licik banget).

Terhitung dua minggu lagi saya pulang kampung dari sekarang. Segenap hati untuk dibawa serta mudik itu rasanya membuncah tak terbilang. Bayangkan, setelah setahun saya sendiri di kota orang untuk cari makan (Yelaahhh mulai berdrama) jauh dari orang tua dan keluarga, akhirnya dipenghujung Ramadan saya kembali akan mendapat pelukan hangat ibu, bapak, dan nenek saya tercinta serta tawa-tawa lepas dari keponakan yang cinta mati sama tantenya yang luar biasa. Tidak sabar menunggu hari itu…

Sampai jumpa di postingan berikutnya
nb: photo-photo menyusul