Berapa Bayaran "Freelance Content Creator"?

Maret 05, 2020

Asik, seru nih pembahasannya. Topik yang ringan, tapi kalo diseriusin bisa dapet uang. Lah gimana caranya?

Baca terus sampai bawah, atau skip sampai di sini aja -_^

Jadi, biasanya saya dibayar berapa untuk sekali buat content creative atau pembuatan satu artikel? Selalu menarik untuk membahas “berapa harga diri” kita.

Terutama untuk orang-orang kepo dengan berapa penghasilan orang lain, tulisan ini didedikasikan untuk kalian, hahaha, *ketawa jahat*.

Jadi gini netizen. Di dunia ini ada buanyaak banget profesi, bukan ratusan, jutaan, mungkin miliaran. Ada juga 1 profesi yang dimiliki oleh ratusan, jutaan dan mungkin miliaran orang.
Kalau kita simpulkan, di antara miliaran profesi yang ada di dunia, salah satunya ada profesi guru. Nah, ada berapa miliar manusia yang berprofesi sebagai guru? Banyak banget deh.

Bagaimana dengan ‘harga diri’ mereka? Tentu saja sangat bervariasi. Guru spesialis apa, di mana tempat ia mengajar, apa background pendidikannya, bagaimana pengalaman kerjanya, seperti apa kualitas dirinya, kepribadiannya, koneksinya, cara ia mengajar , dan lain lain dan sebagainya.
Jelas masing-masing guru, akan berbeda nilainya.

Nah kurang lebih sama lah ya, perumpamaannya dengan ‘harga diri’ seorang content creator, atau profesi apapun. Saya fokus untuk pembuatan konten menulis.

Di antara miliaran manusia yang berprofesi sebagai penulis, mayoritas awalnya menulis karena cinta, karena hobi, karena suka. Beda dengan profesi lain yang memang bertujuan untuk jenjang karir atau mencari uang dari profesinya.

Pun saya. Punya hobi menulis sejak duduk di sekolah dasar, kemudian menambah pengetahuan bagaimana menulis sastra di sekolah menengah. Meningkatkan kemampuan menulis konten televisi, radio, drama & non-drama ketika kuliah, kemudian menyelesaikan beberapa tulisan hard news, soft news hingga biografi saat tergabung dalam perkumpulan pers mahasiswa. Semakin senang menulis fiksi dan puisi di sosmed, bercerita keseharian dan mencurahkan perasaan di blog. Kok makin seru ya.

Kemudian bekerja sebagai content creator naskah cerita komedi, talkshow, games show, variety sampai acara musik di tempat kerja. Akhirnya kemudian menulis itu sebuah tuntutan hidup. Yang berkembang menjadi kebutuhan.

Akhirnya beberapa tahun berkecimpung di dunia penulisan, apapun. Serabutan. Tapi saya menikmati, bahkan tidak pilih-pilih mau nulis tentang apa. Semuanya dihajar karena setiap hari dalam pikiran saya hanya harus “nulis, nulis, nulis…” (ngalahin moto Presiden Jokowi ‘kerja, kerja, kerja…’)

Selain bekerja di sebuah media yang harus menuntut saya jadi content creator, akhirnya saya tertarik “menjual” karya saya ke berbagai situs. Saya aktifkan kembali blog, yang beberapa tahun lalu sempat terbengkalai.

Blog saat ini jadi bagian dari portopolio karir saya. Di mana orang bisa melihat kemampuan saya menulis ini dan itu.

Didukung dengan beberapa situs dan platform wadah para freelancer yang kekinian banyak bermunculan. Kemudian semakin membuat saya semangat untuk ‘menjual diri’ dan karya. Semakin berani membuka kesempatan baru.

Dari situs-situs itu justru saya punya ‘nilai’ untuk karya saya. Berapa saya dibayar tiap buat artikel, naskah, atau bahkan konten sosial media lengkap dengan caption-nya.

Saya kira, ketika saya banting setir menjadi seorang ‘creative social media’, karir saya akan berubah tak terarah. Ternyata, Alhamdulillah justru ini jadi pintu rezeki ke mana saja.

Dengan memahami konten sosial media, sedikit-sedikit diajari digital marketing hingga membaca insight analytic jusru jadi ilmu baru dan berkah buat saya.

Kekinian, konten-konten saya bisa dijual. Ada aja yang minta untuk buatkan konten sosmed, pembuatan artikel tulisan, review di blog dan lain-lain. Sebanyak itu peluang kesempatan kerjanya.
Lalu berapa saya dibayar?

Tergantung. Siapa klien yang minta project, sebesar apa media atau perusahaan atau product yang mereka punya. Tergantung seberapa banyak mereka minta. Kualitas, kuantitas, bahkan apakah artikel ngasal atau harus SEO, semua tidak ada nominal pasti.

Kalau saya ngobrol dengan para content creator, ada yang dibayar Rp 500.000.-, ada juga yang bahkan hanya Rp 25.000 per-artikel/konten.

Nominal terkecil pun terima aja dulu, kalau rajin nulis artikel dibayar kecilpun bisa jadi jutaan. Anggap aja sebagai latihan menulis dan mengembangkan ilmu. Dan terpenting koneksi.

Yup, content creator terutama para freelancer itu salah satu modal besarnya adalah link, koneksi dengan orang lain. Makanya jangan pernah menolak rezeki kecil. Kerjakan semaksimal mungkin.

Jadi, ketika ditanya berapa sih bayaran seorang content creator?
Bisa jutaan, bisa ratus ribuan, bisa puluh ribuan, bisa dibayar “traktiran…”


Nah, bagaimana cara meningkatkan pendapatan dari menulis?

Ini tipsnya:
  • Jangan berhenti menulis. Nulis aja terus, tentang apapun, kalau ada blog lebih bagus. Bisa jadi etalase memajang karya.
  • Jangan tidak membaca. Tidak ada orang yang bisa menulis bagus, tanpa membaca. Baca apa aja. Karena semua inspirasi bisa datang dari apa manapun, terutama dari apa yang kita baca. Mau baca satatus sosmed, buku, novel, koran dan sebagainya
  • Tingkatkan koneksi. Bangun relasi, ngobrol dengan banyak blogger atau penulis. Berbincang dengan banyak orang. Aktif blog walking ke halaman orang lain, dan rajin komen. Gabung di komunitas penulis/blogger
Semua profesi ketika kita melakukannya dengan hati, dipupuk dengan kasih sayang, dan ditumbuhkan dengan cinta, hasilnya pasti akan membuat kita bahagia.

Apalagi ketika dibayar. Selamat berkarya para content creator mania ^^

*source all image by freepik

You Might Also Like

8 comments

  1. Yg paling penting adalah klien bisa menghargai ide kita.. Jgn mau kl dikasih fee yg ga manusiawi. Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekalii, sedih kalo ada yang dengan santuy bilang "Ah segitu doang mah bisa lah harga segini, gampang kok".
      :((

      Hapus
  2. jadi sekarang, gimana caranya supaya kita bisa meningkatkan bayaran dari yang awalnya traktiran jadi jutaan? gitu kan ya. Hahaha... semangat terus mbak, semoga saya juga bisa nyusul, dapet uang dari nulis. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat sekali Mba, awalnya hoby, dibayar seikhlasnya, bisa jadi lama-lama jadi profesi yang mahal. Meski hal yang bisa dinikmati adalah kepuasaan membuat karya, bukan karena uang semata

      Hapus
  3. Hmm, keren! Barakallahu fiik, moga makin sukses. Jadi semangat pengin nulis lagi setelah baca tulisannya. Terima kasih, jazakillah khayra.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aammiin, terima kasih Mba sudah mampirr. Yuk semangat lagi berbagi cerita virtual :)

      Hapus
  4. Sangat inspiratif.. Pengen banget nulis lagi tapi ga pede hahaha
    Semangat teh aya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu kan bisa Mill, lanjutkaann. Cuma tinggal naikin niat ajaah hee

      Hapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: