4 Februari 2016

Pernikahan hari ke-19

Pernikahan hari ke-19
(Berasa sitkom TMG NET.)

Saya tidak memiliki ingatan yang kuat, -selain mengingatmu sebanyak ini (iya, saya selalu berlebihan ketika menulis perasaan sayang)-, itu sebab saya menulis. Karena kelak sepuluh, duapuluh, tigapuluh tahun ke depan saya akan mampu mengingat semuanya dengan membaca.

Memasuki minggu ketiga pernikahan kita, ada banyak hal yang selalu ingin saya ingat setiap hari, setiap kesempatan. Menikah itu hanya butuh keberanian masing-masing pada awalnya, setelah itu kita kemudian berjalan bersama-sama, beriringan.

Kiri ke kanan : pacaran, lamaran, pernikahan. (2015-2016)
Kamu yang berani melamar saya, mengajak saya menikah, yakin dan percaya bahwa saya adalah perempuan yang bisa kamu pertanggungjawabkan hingga akhir, dan di kehidupan berikutnya.
Pun saya, berani meng-iya-kan ajakan kamu, percaya bahwa kamu adalah lelaki yang mempertanggungjawabkan saya hingga akhir, dan di kehidupan berikutnya.

Kemudian, sampai pada hari ini. Hidup bersama di rumah kontrakan kecil yang hanya cukup untuk tidur, masak, mandi, jemur pakaian, tempat membaca dan space luas untuk kamu MAIN GAME. Oke yang terakhir ini area penting, karena saya selalu ingin membuat kamu nyaman.

Hari yang selalu hangat, meski kadang saya yang ada ngambeknya, karena kamu yang kadang gak peka (iya, masalah cowok-cewek kekinian semacam itu masih ada kok). Tapi selalu tidak berlangsung lama, karena kamu yang tidak pernah membiarkan dingin ini menjadi beku.

Kamu tidur, saya membaca buku. Kamu main game, saya membaca buku. Saya memasak, kamu main game. Saya mencuci baju, pel lantai, cuci piring, kamu main game. Nonton running man dan the return of superman bareng, bercanda, mengkhayal sampai lelah.Terus berulang-ulang semacam itu,  seruuu.

Hari yang seru ini selalu kita tutup dengan tidur nyenyak, tanpa beban. Salah satu hal terfavorite saya adalah sebelum tidur. Saya yang pura-pura menutup mata di dekapan kamu, doa-doa ringan menjelang tidur selalu kamu bisikkan tepat di telinga dan ditiupkan lembut ke kepala, hangat.

Selalu ada cinta yang ingin saya hidupkan setiap kali membuka mata dan melihat kamu masih terbaring lelap. Di detik ke sekian, kamu terbangun dan menyadari saya menatapmu lama. Sholat subuh berjamaah, tadarusan bersama, ritual rutin yang selalu diakhiri dengan cium tangan dan kecupan di dahi saya. Tidak pernah ada subuh yang kita lewati kosong, dingin, dan diam. Saya ingin selalu seperti itu sampai kelak, sampai selama entah.

.:Tuhan, saya mencintai lelaki ini dengan amat sangat. Bisik saya di setiap sujud:.


Rutinitas harian saya sementara ini cuma beres-beres rumah, memasak sarapan dan makan siang sebelum kamu berangkat kerja (kalau kebetulan masuk siang). Setrika seragam NET. kebanggaan kamu, make sure tidak ada barang yang tertinggal. Ritual rutin lain adalah mengantarmu sampai pintu keluar untuk kemudian berpamitan, dan bilang hati-hati di jalan.

Sepeninggal kamu, saya kembali sibuk dengan bersih-bersih rumah, mencuci baju, belanja, tulis resep masak, temple di cabinet dapur.

Oh iya, ini adalah hari-hari saya yang sedang dilanda semangat memasak. Mencoba berbagai macam masakan yang sama sekali belum pernah saya masak sebelumnya.

Memasak adalah salah satu kelemahan saya, salah satu hal yang menjadi bahan pikiran ketika masih gadis ,“Nanti kalau saya punya suami bisa masak, gak, ya?”. Ternyata benar ucapan ‘aah nanti juga bisa kok, kan belajar’. Rasa ingin selalu menyenangkan pasangan itu tumbuh begitu besar ketika memasuki dunia pernikahan. Itu yang tidak dirasakan bahkan ketika kita masih pacaran.

Yang saya paham, bagaimana cara masak nasi, sayur tumis, sambel ulek, telor goreng dan membuat mie instan. Aman. Segitu sudah bisa hidup.

Ketika menjadi istri, dan melihat teman-teman saya yang lain masak untuk suami mereka masing-masing, semangat saya muncul begitu besar. SAYA HARUS BISA MASAK.
Penampakan rak bumbu dan resep masakan

Beruntung, ada salah satu sahabat saya yang cantik, Imel, mau dengan rajin mengajarkan saya semua hal. Bahkan sampai bumbu apa yang ada di dapurnya saya contek. Dari yang isi dapur saya hanya garam, gula dan penyedap rasa doing, kemudian menjadi penuh seperti ini.


Hari ke-17 pernikahan kita, saya membuat masakan ‘Ayam Saus Mentega’. Dipandu Imel, mulai dari bahan, cara memasak sampai disajikan. Penampilannya kurang oke, tapi rasanya lumayan. Hal terpenting adalah ketika kamu pulang, kamu bilang masakan saya enak.

Salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup saya selain menerima lamaran kamu dan menerima gaji pertama adalah kamu suka masakan saya, dan bilang enak. Istri-istri amatir yang belum bisa masak, pasti pernah merasakan hal serupa ini. Perasaan tak terlukiskan seberapa banyak rasa bahagianya, ketika suami-suami kalian memuji masakan kalian yang seharian mati-matian kalian pelajari.

Hari ke-18, makin semangat memasak. Karena kesukaan kamu adalah capcay kuah, saya belanja bahan dan bumbu. Mencatat resep dan cara memasak dari Imel, dan seperti biasa, tempel di dapur. Sebelum kamu pulang, saya harus eksperimen sendiri dulu, karena takut gagal.
Hasilnya… Taraaa… Enaaak… (Untuk ukuran pemula)
Capcay kuah, keju
Hari ke-19
Saya sendiri, kita dengan urusan masing-masing. Kamu yang harus ke Bandung untuk urus perpanjangan STNK, dan saya yang harus ke kantor RW untuk urus surat pindah.
Sebelumnya, saya melakukan percobaan masak steak tempe, lumayan enak, tapi looksnya kurang oke, makanya males upload :D

"Tak apa-apa, nanti dicoba lagi". Katamu via WhatsApp messenger

Untuk perempuan-perempuan yang ingin kebahagiaan sempurna setiap hari, menikahlah dengan lelaki baik yang menyayangimu dan kamu sayangi :)


Share this

0 Comment to "Pernikahan hari ke-19"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan di sini: