13 Februari 2016

Surat kepada Mantan


Seberapa dekat hubungan kamu dengan saya(?)
Seberapa berkesan masa lalu kamu, dulu(?)
Iya, barangkali ada beberapa kenangan yang tak bisa kamu lupakan begitu saja dengan seseorang masa lalu. Iya, dia jauh lebih dulu mengenal kamu dekat sebelum saya. Tapi hey, itu adalah masa lalu.
Saya pernah membuat tulisan tentang sebuah masa lalu, masa lalu itu tidak untuk dilupakan karena dengan sendirinya ia akan hilang. Tapi bagaimana akan hilang ketika kamu masih rajin mengunjungi masa lalu kamu. Rutin.

Saya, salah satu perempuan yang masuk golongan tidak punya banyak mantan pacar, tapi seseorang di masa lalu itu banyak. Seseorang di masa lalu selalu seru untuk diingat, tetapi rasanya saya tidak sebodoh itu. Saya memiliki seseorang sekarang di hidup saya. Seseorang yang mati-matian ingin saya bahagiakan hidupnya. Masa lalu? Ya hanya masa lalu.

Dear mantan,
Saya tidak bisa mengunjungimu walau sekali, sebab kamu sudah tidak ada di sini, di hati saya. Sedikitpun.’

Iya, ada banyak sekali kenangan yang saya sudah lalui bersama kamu. Iya, kamu lebih dulu mengenal saya dekat, daripada seseorang yang ada di samping saya sekarang. Tapi, kamu hanya masa lalu, yang sudah tidak lagi ada. Tidak pernah lagi.
Saya, bukan termasuk perempuan yang banyak aturan pada pasangan. Tapi saya memiliki cemburu yang sangat banyak, meski rasa sayang tetap lebih banyak dari itu.
Ketika saya dekat dengan seseorang, saya tidak pernah bisa membuat aturan ini itu. Termasuk dia yang masih menghubungi mantan masa lalunya. Cemburu, jelas, tapi saya berpikir bahwa sedekat apapun, dia masih ‘orang lain’.

Saya pernah berhubungan dekat (pacaran) dengan seseorang, yang kemudian sekarang jadi mantan saya, bahkan saya sudah lamaran ketika itu. Tetapi saya masih tidak bisa membuat aturan ini itu, yang kemudian menjadikan itu beban saya.

Sekalipun, saya tidak pernah bilang “Hey, kamu masih suka komunikasi dengan mantan kamu?”, atau “Sayang, aku ga suka ya kamu masih whatsApp-an sama si A atau si B”. saya tidak pernah melakukannya, meski saya bisa saja barangkali.

Padahal saya selalu melihat percakapan dia dengan ‘mantan-‘mantan’ di masa lalunya. Bukan percakapan semacam “Hey, harga mobil berapa sekarang?”, atau “Hai, tempat yang dulu kita pernah ke sana, apa namanya? Aku mau ke sana lagi, lupa”.
Bukan, bukan percakapan semacam itu. Saya tidak sebodoh itu untuk cemburu pada percakapan penting mereka, tidak serendah itu untuk mencemburui hal-hal yang tidak seharusnya.

Tapi, bagaimana jika percakapan mereka “Hey, rambut kamu dipotong yaa, hey rambut kamu dilurusan ya, bagus, coba liat dong kirim photonya”. Wait…? What? Oke sabaaarrr…

Tapi, bagaimana jika percakapan mereka “Hi, tahun baru kamu ke mana? Kok gak ke Bandung aja? Hey, ketemuan yuk aku di sini nih. Hey, aku mau ke Jepang, maaf yaa aku gak bisa nepatin janji, dulu aku mau ngajak kamu”. Wait…? What…?
Oke masih harus sabaaarrr…

Mengapa(?)
Bukankah saya memiliki cemburu yang sangat besar(?) kenapa saya biarkan percakpan semacam itu ada(?). Karena cemburu saya tidak untuk orang lain. Meski bahkan saat itu dia sudah jadi tunangan saya.





Sekarang, mantan saya sudah menjadi suami, sudah menjadi milik saya. Apakah saya masih bisa bilang “sabaarr…” pada percakapan ‘tidak penting’ semacam itu(?) tentu saja tidak.

Tapi, saya bukan yang kemudian marah yang menjadikan hal semacam itu materi keributan dalam rumah tangga saya yang baru kami jalani sebulan ini. Saya punya materi marah-marah yang lain.

Bagaimana saya menyikapi percakapan-percakapan ‘gelap’ suami saya dengan orang-orang di masa lalunya(?)

Saya delete.

Cemburu itu, marah itu, akan semakin besar ketika saya melihat, membaca lagi dan lagi.

Segampang itu(?)
Bagaimana kalau suami saya kemudian diam-diam kembali menghubungi masa lalunya(?)

Saya percaya, dia tidak akan melalukan hal itu (lagi), Atau ketika kepercayaan saya sudah habis, setidaknya saya sangat percaya Tuhan akan menjaga hati suami saya. Ketika ternyata suami saya tidak lagi bisa digenggam kepercayaannya, semesta akan menunjukkan bagaimanapun caranya.

Itu sebab saya menulis ini.

Dear, mantan, yang sekarang sudah menjadi suami saya. Jangan sesekali berpikiran untuk bermain api. Saya menghargai masa lalu kamu, setidaknya kamu bisa menghargai saya saat ini. Kenapa saya membenci perbuatan kamu, karena saya juga tidak pernah melakukan perbuatan semacam itu.

Hey, sayang, bukan hanya kamu, saya pun bisa melakukan hal serupa. Tapi tidak akan, selama saya menghargai diri saya sendiri, saya menghargai cinta yang saya punya. Cinta saya sempurna, tidak bisa saya lukai.

Mencintai itu, saling. Tidak bisa masing-masing. Tidak bisa saya sendiri mati-matian menjaga hati, sementara kamu tidak. Tidak bisa kamu mati-matian setia, sementara saya tidak.

Ketika kamu adalah milik saya, maka semuanya adalah milik saya, penuh.

Saya percaya, itu sebab saya memilih kamu J


Share this

0 Comment to "Surat kepada Mantan"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan di sini: