18 Juni 2011

SENANDUNG SENJA

       Senja mulai menghampiri, menarik paksa anganku tuk menikmati aroma sore hari di sudut kota besar ini. Senyum merebak dari semua bibir yang kebetulan berbenturan tatap mata denganku. Semua yang kutemui di hari ini, selalu ku jadikan inspirasi

Senja selalu menebarkan kerinduan,, Jakartaku Jakartamu,, ku tulis sebuah novel senja untuk mengisi waktu di puncak tertinggi gedung tua sudut kota ini. Lalu lalang pejalan kaki yg tampak dari menara, status facebook dan TL twitter sahabat2ku, ku jadikan inspirasi.

Ketika senja menjanjikan keindahan, malam menyuguhkan mimpi dan ketenangan, maka pagi selalu memberikan udara segar untuk membangkitkan semangat dan membangun mimpi menjadi kenyataan

SENANDUNG SENJA
Senja ini,, ku tarik simpul rindu dan membentangkannya di sejuk langit dengan seutas benang cinta, berharap angin membawanya menuju ke arahmu,, beserta awan yang berarak indah.

Senja melahap sang mentari, semburat jingga meronakan pipiku ketika ku terima pesanmu, kalau kau merindukanku.

Langit senja berkalung pelangi,, aku tertegun memandang indahnya. Decak kagum tak tercurah. Bayang seorang wanita tampak jelas, ibuku.. aku rindu.
Rindu belai dan nasihatmu, "Jadilah wanita yang dikagumi karena akhlak dan perangaimu nak, seperti pelangi itu... dipuja semua orang tapi tak satupun mampu menyentuhnya.

Senja mulai merangkak mendekati malam. Lembayung jingga berubah warna menjadi kelam. Lampu kota mulai menyala, pertanda alam berada di penghujung siang. Tetes air suci membasuh peluh, bibir syahdu mengalunkan ayat suci meruntuhkan nafsu. Menghilangkan amarah, mententramkan jiwa. Betapa nikmat kuasa Allah SWT.

Bersamaan dengan tergelincirnya mentari ditelan senja, saat itu pula aku menuntaskan rindu yang tertuang dalam cerita. Gumamku, sepanjang hidupku, aku akan menjadi penulis yang akan selalu merangkai aksara alam menjadi kata agar tercipta nada cinta.

Sepanjang jalanan Jakarta dipenuhi makhluk2 bernyawa dengan isi kepala yang sungguh luar biasa. Senja ini aku menyisir menapaki tepian taman menghampiri satu tujuan, masa depan.

Semilir angin dipenghujung cahaya siang,, menerbangkan emosi meredam amarah, menghilangkan sedikit keletihan. Begitupun aku, terduduk di titik kesendirian, penuh senyum ku sapa mentari senja yang perlahan mulai beranjak dari singgasananya. Mentari, andai esok aku sudah renta, ku harap senyummu masih sama dan cinta kita tetap seperti remaja. Seperti hari ini

Dengan menatap jingga di cakrawala, ijinkan aku menyimpulkan rahasia di penghujung hari. Lembaran cerita di tanggal ini, ku jilid rapi dengan lembaran-lembaran penuh makna. Sekawanan burung bergerombol menatap ceria, ini adalah hari pertama ku mengenalkan arti hidup padamu, arti kehidupan yang sesungguhnya.

Share this

0 Comment to "SENANDUNG SENJA"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan di sini: