[Book] REVIEW : Norwegian Wood, Haruki Murakami. Tentang Kebebasan, Kesepian, dan Kematian

Oktober 11, 2019


Judul : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit : Mei 2013 – Cetakan 4
Tebal : 426 halaman
“Jika kamu membaca buku yang sama dengan yang dibaca oleh orang kebanyakan, maka cara berpikirmu hanya akan sama seperti mereka.”
Blurb

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut daam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

Review

Membaca Norwegian Wood, harus bersamaan dengan mendengarkan "Norwegian Wood" The Beatles. Lebih terasa dalam dan kesendiriannya.

Berkisah tentang Toru Watanabe yang menceritakan kembali kisah masa hidupnya ketika masa kuliah di tahun 60an akhir. Pria penyendiri yang hanya punya dua sahabat dalam hidupnya, Kizuki dan Naoko, sahabat sejak kecil sekaligus kekasih Kizuki.

Suatu hari, tanpa sebab dan tanda apa-apa, Kizuki bunuh diri. Di usianya yang ke-17. Membuat Watanabe dan Naoko terpukul. Bahkan Naoko sempat membenci Watanabe karena saat-saat terakhir dalam hidupnya, Kizuki justru memilih menghabiskan waktu bersama Watanabe.

Setelah kematian Kizuki, Watanabe melanjutkan kuliah ke Tokyo dan mencoba melupakan semua kenangannya. Watanabe masih jadi seorang penyendiri, tidak peduli lingkungan sekeliling, waktunya hanya dihabiskan untuk membaca buku di kamar.

Hingga akhirnya suatu waktu Watanabe bertemu lagi dengan Naoko, yang sudah lebih baik perasaannya, lebih dewasa, lebih anggun. Merekapun jadi akrab lagi, sering jalan, ngobrol, dan semakin lama Watanabe mulai menyukai Naoko. Sepertinya Naoko juga.

Singkat cerita, hubungan mereka semakin dekat, tak terpisahkan. Sampai pada suatu malam Naoko dan Watanabe tidur berdua. Untuk pertama dan terakhir kalinya. Karena setelah itu, traumatik Naoko kembali hadir, hingga ia hilang arah dan mengasingkan diri ke Ami Hospital, rumah sakit jiwa di atas pegunungan yang jauh dari peradaban dunia. Untuk menenangkan diri, di sana ia dirawat oleh dokter sekaligus temannya, Reiko.

Watanabe yang stress dengan keadaan Naoko namun sangat mencintai wanita itu akhirnya melampiskan diri dengan terus belajar di kelas tanpa absen, kerja paruh waktu, makin banyak membaca buku. Hingga ia akhirnya berkenalan dengan Nagasawa, seorang mahasiswa tajir melintir yang hidupnya bebas, dan banyak berhubungan dengan beberapa perempuan.

Watanabe pun akhirnya ikut merasakan dunia bebas seperti Nagasawa. Sering keluar dari asrama untuk pergi ke club, minum, tidur dengan banyak perempuan, walau besoknya ia menyesal.

Suatu hari, Naoko menulis surat dan meminta Watanabe datang ke Ami Hospital. Watanabe sangat bahagia, dan mengunjungi wanita yang sangat dicintainya itu. Di sana ia pun berkenalan dan akrab dengan teman sekamar Naoko, Reiko-san.

Di tengah kerumitan hubungannya dengan Naoko, Watanabe bertemu dengan Midori. Teman kuliahnya yang tomboy, mandiri, keras kepala, dan bicaranya ceplas-ceplos. Berbeda dengan Naoko yang lembut, anggun, cantik dan pendiam.

Namun justru sifat berbeda Midori yang membuat Watanabe tertarik, merekapun akrab, dan semakin dekat. Watanabe juga menceritakan Midori pada Naoko. Namun tidak bisa menceritakan Naoko pada Midori.

Midori yang lama-lama mencintai Watanabe, tak keberatan menunggu lelaki itu yang masih sangat mencintai Naoko.

Watanabe dilema, ia terjebak dalam peraaan sangat mencintai Naoko, namun juga tidak ingin kehilangan Midori. Hingga suatu hari, karena kabar Naoko tak kunjung datang, hingga tak sadar Watanabe menyakiti Midori dengan tak memedulikannya.

Midori tahu kalau Watanabe mencintai Naoko, tapi ketika bersamanya, ia ingin Watanabe sedikit memperhatikannya. Nyatanya Watanabe sangat acuh. Midori marah hingga beberapa bulan pada Watanabe.

Watanabe pun menyadari hidupnya sepi tanpa Midori, dan kesepian semakin jelas terasa ketika tak ada kabar berarti dari Naoko. Perasaannya semakin tidak jelas. Dan kabar itupun datang...

Naoko yang ia harapkan sembuh, yang ia sudah pesiapkan rumah masa depannya, yang ia tunggu kepulangannya dari rumah sakit jiwa, gantung diri di hutan Ami Hospital.

Watanabe sangat terpukul, depresi, hingga ia memutuskna untuk meninggalkan Tokyo dan melanglang buana tanpa arah.

Ia sadar, selama ini Naoko tidak pernah benar-benar mencintainya.

Kisah tragis yang ditulis Haruki Murakami begitu menyiksa, menghentak-hentakan perasaan. Membuat siapapun yang membacanya ikut merasa kacau, seperti isi kepala Watanabe.

Konflik yang berpindah-pindah, cerita kelam, tentang cinta, kematian, depresi, kelainan seksual, semua perkara yang berhubungan dengan psikologi pada umumnya.

Sampai lembar terakhir, alur cerita dan kelanjutan hidup Watanabe diserahkan kepada pembaca. Bebas mau menafsirkan jenis takdir yang seperti apa yang ia pilih.

Masterpiece. Salah satu buku favorite saya.

Buat kamu yang kurang suka cerita 'dewasa', hati-hati dalam buku ini ada banyak adegan 'panas' tertulis secara gamblang. Meski tidak begitu vulgar. Tapi kalo yang belum menikah, ga usah bayangin yang enggak-enggak deh hehe

Btw, Norwegian Wood juga sudah di-filmkan tahun 2010 lalu
Cari aja kalo mau nonton!

You Might Also Like

2 comments

  1. Haruki punya ciri khas. Rata2 tokoh utama pria dalam novelnya punya hubungan yg sial dan miris sama perempuan/pasangannya :'( nice review kak 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan-jangan penokohannya ada pengalaman pribadi ya hihi. Sayabelum baca biografi penulis secara utuh, tapi suka sama semua tulisan Haruki Murakami

      Thank u kak komennya ^^

      Hapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: