18 Juni 2011

NYANYIAN KEHENINGAN MALAM

      Langit malam,, adalah kanvas untukku melukiskan wajah seorang yg hingga kini tak ku kenal. Ku ukir dan ku kira-kira saja. Karena yang menjadikannya nyata dan mengirimkannya padaku kelak adalah Tuhan


Akhirnya,, setelah ku bercengkrama dengan penatnya siang, sejenak melupakanmu dalam keletihan.. kini, ku biarkan matahari berlalu, ku ketuk pintu bulan, ku rangkai kata, ku titipkan rindu untukmu.

Aku sang penikmat aroma malam, keheningannya menghanyutkanku dalam khayalan. Bahkan membaca rindu bukan dengan logika dan hati tapi dengan imajinasi. Untuk itu aku selalu menggoreskan sajak untuk memuja sang rembulan, dan mencipta puisi untuk menyanjung sang gemintang

Malam semakin memasuki kesunyian,, sang rembulan malu mengintip di balik awan hitam. Ku wartakan padanya bahwa aku menanti seseorang yang akan mengucap salam menjelang lelapku"

Malam menggelincir jauh dari ujung jam, aku masih terdiam. Kertas putih dihadapanku masih tetap kosong. Ingin ku ungkap semua rasa, ku tulis dengan darah sebagai tinta dan getar cinta yg menggerakkannya. Tapi sudah tak ada merpati yang mau mengantarknnya untukku, ke rumah sana. Terlalu jauh...

Malam ini, ijinkan aku sejenak meresapi candu yang kusesap tadi, yang kau berikan dengan cawan biru. Seteguk, namun aku benar-benar mabuk.

Wahai penguasa gelap malam,, aku tau kau bersembunyi di balik mega hitam. Sengaja tak menampakkan wajahmu. Ku bidik dengan senyum,, ku ungkap lewat sajak, bahwa aku mendambakanmu, sangat.

Untukmu,, yang merasa namanya tersentuh dalam sajakku. Temani aku, jangan kau terlelap hingga pagi menjemputmu,, atau aku paksa bayangmu masuk dalam mimpiku.

Sungguh, aku tak mengkhianatimu duhai malam,, bukan aku jemu untuk bercengkrama denganmu melepas kerinduan. Aku juga tak terlalu menikmati gemerlap kota Jakarta lantas mengacuhkan keindahan dan kesunyianmu. Tapi keadaan yang memaksaku untuk lebih akrab dengan mereka. Maafkan aku,, aku pastikan tak kan pernah ada yang bisa memisahkan kemesraan kita selain sang raja siang menyeretku dalam dunia nyata.

Rembulan, sungguh aku ingin bercumbu denganmu, menghabiskan panjangnya malam hingga mentari pagi menamparku dengan sinarnya. Tapi apa daya aku tak kuasa, lelah dan kantuk menyeretku dalam dunia ilusi, aku terpaksa membawamu dalam mimpi, lengkap dengan igau sebagai bukti, bahwa namamu telah terpahat bahkan meski aku dalam lelap.

Aku bukan penggergaji matahari ataupun pemanah bulan, aku hanya hasrat di danau beku yang terperangkap labirin waktu. Aku gadis biasa yang selalu menikmati aroma malam, yang akan kujadikan media pelampiasan dalam ukiran sajak2 sepiku


 Ceracau hujan semakin mendekapku dalam kesendirian,, aku termenung,, tidak ada luka, tak ada jerit kepedihan, hanya merasa kehilangan setelah kusadari bahwa sudah tak ada dirimu dalam kantung khayalan

Dentang waktu berjalan, malam kian senyap. aku bersiap menyatu dalam keheningan, tp ijinkan aku mengirim sajak, untuk sekedar mengingatkan, pernah ada namamu di hatiku, dulu, duluu sekali, ketika seragamku masih abu2

 Di sela istirahat penatku. Tidak ada yang lebih indah melebihi mengagumi malam dan yang Menciptakannya,, menciptakan sepi dalam hatiku. Tapi tidak, karena selalu ada rindumu yang menemaniku. 

Malam selalu memanjakanku, tak pernah membiarkan aku sepi dalam kesendirian. Aroma sejuknya selalu menemani resah di hatiku,, dengan hembusan angin yang menenangkan jiwa, begitulah cara ia menunjukkan kesetiannya.

Tahukah kamu, ketika aku diberi waktu 24 jam dalam hariku, aku selalu mencuri beberapa detik untuk menjemput bayanganmu. Seperti malam ini, aku meluangkan waktu untuk mengundangmu dalam mimpiku.

Suara keras musik dangdut dan keriuhan para pemuda (yang mengaku) harapan bangsa, sedikit membuyarkan lamunanku tentangmu. Aaaaahh ku harap kau menatap rembulan yg sama di malam ini, menandakan hati kita satu di jarak yg tak terjengkal.

Aku selalu mencintai bintang yang paling terang, tanpa melihat sekelilingnya. Aku mengagumi pria tanpa nama, tak tersentuh, tak terbalas, tapi aku tetap duduk tersenyum menatapnya, berharap bintang itu jatuh dan berlabuh tepat di hatiku."
selamat malam cinta

Hai, pernahkah kau baca sajakku? perhatikan tiap baris dan kata, disitu selalu terselip namamu yang ku ukir dengan untaian huruf berbalut syair. Kalau kau tak yakin, tatap rembulan yg akan menyunggingkan senyum, meng'iya'kan bahwa disana ada harapku.

Aku enggan menjengukmu malam ini, meski hanya lewat mimpi. Sekali-kali ku buat kau yang menjemput bayangku dan mengirim syair cinta untukku, akan ku artikan makna lewat rindu." selamat malam cintaku

Ku titip rindu pada rembulan ketika malam, ku sapa cinta pada fajar yg mulai menyingsing, ku sampaikan salam pada senja yg hendak terbenam. Pada hembus angin, pada tetes embun, pada butiran debu, pada rintik hujan, bahkan ditiap sujudku sisipkan doa beruntai tasbih cinta. Kendati kau tak tersentuh, ku pastikan alam tau pernah buta untuk menyampaikn tiap bait syair rindu, untukmu, yang tercinta.

Malam ini, kembali ku titip rindu di kesunyian. Berharap kau membaca desir angin yang menyapu senyap. Hapus cemasmu, pejamkan mata, dan kau akan rasakan cahaya terang yang ku kirimkan melalui balutan syair kasih." selamat malam yang tercinta 

Ku rebahkan penat di pembaringan. Kupejamkan mata dalam gelap hingga muncul setitik cahaya terang menghampiri. Ku biarkan angin malam menyibak kerinduan dan menghembuskannya padamu. Ku tunggu kau dalam mimpiku, cinta.

Ku sibak tirai malam, menyeruak masuk menantang cahaya terang. Aku tertegun, tak kudapati cinta disampingku. Hmmm,, rupanya mimpi masih melekat di otakku.

         Ku hadirkan secawan rindu untuk melepas dahagamu. Diantara detik waktu yang terus berputar, selama itu pula kasihku terpendar. Malam ini, ingat aku lewat sajak-sajak yang ku kirim untukmu

Angin malam yang menenangkan, percikan air suci menambah sejuk hati. Berdoa dini hari memang saat terindah, serasa Dia hanya milik kita sendiri. Ditambah sebelumnya dengan sepiring nasi dan secangkir susu. Hhhmm menu sahur yang sederhana, nikmat tiada tara. Terima kasih Rabb

penatku sepanjang siang ini disapu lembut aroma angin malam. perlahan ku seka peluh di dahi, ku tatap lembaran-lembaran naskah bertinta hitam dihadapanku. tertulis sebuah cerita tentang kau dan aku.

Ijinkan kesepian menemani malamku kini, mungkin itu lebih baik. Akan kuciptakan berribu2 lembar sajak tentangmu. Dimana semilir angin yang menemani, kutulis syair rindu dengan darah sebagai tinta, melalui debar hati yg menggerakkannya dan ku biarkan mengalir indah di kertas putih bertabur cinta. semua untukmu

Adakah yang lebih tenang dari pada hening..? Larut dalam lirih doa yang terlantun, diantara jam jam sepertiga malam sebelum menyantap menu sahur. Terima kasih karunia_Mu ya Rabb.

Tepat, dipenghujung pertengahan malam. Aku merebahkan badan di pembaringan, ku pangkas amarah serta kepenatan sepanjang siang. Enggan berceloteh dengan suara sumbang yang masih terdengar pelan. Aku resapi keheningan, dengan mengucap doa dan diakhiri dengan amien, ku pejamkan mata yang bersirat cahaya, dan kubiarkan terbungkus kelam. 

Andaipun malam ini bayanganmu tak hadir di mimpiku, aku yakinkan bukan karna aku tak merindukanmu. Namun, karna kepenatan yang membelenggu jiwaku. Ku titipkan kau pada peluk rembulan tuk menyelimuti lelapmu.

Berjalan gontai menyusuri tepian rindu, mengikuti langkah kaki yang menyisakan luka. Cinta yang kupuja tak pernah bisa kembali, damai bersama ketenangan yang menyelimutinya. Hati semakin terluka sesaat ketika kurasakan masih ada tetes darah di jiwaku dilengkapi sepi, ku hirup semilir wangi bunga kematian yang menusuk tajam tepat di sini, di ulu hati.

Aku menyukai keheningan malam, sepinya membantu melapangkan ruang gerak khayalku terbang, tak terbatas. Menembus hingga relung yang tak terjangkau oleh nalar emosi ketika terbalut kepenatan siang serta lambannya kaki berjalan tatkala cahaya terang. Kelam dan sepi menyeret imajinasi menjauh dari logika dan egonya hati, yang ada dan bicara hanya naluri.

Kupu-kupu kecil menatap iba mata sembabku. Ketika malam mulai merambat naik menggantikan siang, aku terpaku dalam kesepian menatap lekat arah jarum jam yang seakan detaknya semakin menusuk pilu jiwaku. Kupu-kupu tetap menatap sendu, aku bangkit perlahan dalam lamunan, menghampiri sayap-sayap cantik itu, tersenyum dan berbisik pelan "aku baik-baik saja, sayang".

        Letihku malam ini terhapus oleh canda ceria keluargaku tercinta. Aku tertawa lepas seolah tanpa beban, tiada masalah. Mereka tak harus tau seberapa berat beban yang ada di pundakku, yang mereka harus tau adalah aku dengan senyum terindahku. Jika memang ini benar-benar berat, baru senyumku akan ku buat berubah menjadi sebuah permohonan, bahwa aku 'sedang tidak baik2 saja'.

Malam, biarkan aku sendiri. Enggan diusik oleh siapapun. Ada kalanya seseorang ingin menumpahkan masalah dengan diam. Malam ini aku memilih cara itu.

Seperti aku yang takut kehilangan cinta karena perhatiannya disibukan dengan penat dan peluh. sama seperti malam yang takut kehilangan sepi, karena alam tak memberinya kesempatan untuk memeluknya dalam keheningan.

"Apa kau lelah menemaniku?" Tanya malam kepada hening. Ku harap kau tetap bersamaku, karena dengan sepimu aku bisa membaca pikiran-pikiran alam yang selalu berdekatan dengan kelamku. Tanpa kesunyianmu, aku ragu bahwa mereka akan selalu mendekapku, tanpa sedikitpun terpikirkan hanyut dalam cahaya yang menggemerlapkan jiwa sepasang merpati jatuh cinta.

       
"Tetaplah hidup sayang, karena detak jantungmu lah yang membuatku bertahan di dunia ini." Bisik harimau jantan pada kekasihnya yang sekarat. Darah mengucur dari dadanya sederas air mata yang mengalir. Burung hantu menyaksikan iba, didampingi kelelawar yang terbang mencari mangsa. Angin seakan berhenti berhembus, lolongan anjing terhenti seketika, malam semakin memasuki kelam, sekelam hati sang harimau jantan.

Aku menyukai malam dengan mengingatmu, sebelum akhirnya aku terlelap diselimuti rindu hatimu. Aku tau beberapa menit kemudian kau akan membangunkanku, kau kecup keningku di akhir sujudmu. Disela untaian tasbih dan doa selalu kau selipkan namaku. 'itu ucapmu, cinta'

Terdiam,, melangkah pelan. Menyusuri penghujung malam dengan secuil kerinduan. Semilir angin menerbangkan sepenggal angan, dan asa. Bilakah sang arjuna datang dengan senyum terindah berbekal iman menggenggam erat tangan rapuhku, dan membawaku ke dalam keridhoan_Mu Ya Robb

Merindukanmu, persis seperti merindukan indahnya pelangi di malam hari. Tak mungkin nampak, meski sebelumnya alam telah basah diguyur hujan. Aku terduduk di dalam sepi, menikmati aroma bunga yang tumbuh berkembang di dalam hati. Karena meski tak terlihat, di dalam sini, tetap namamu sudah terpahat.

Lebih dari rindu, tak terungkap. Perasaan timbul ingin berada di dekatmu, aku ingin desir darahku bisa kau rasakan, detak jantungku bisa kau dengar perlahan. Lebih dari rindu, tak terlukiskan. Mulutku bungkam tak bersuara, aku ingin menatap kejujuran yang terpancar di matamu, membaca isyarat tiap gerakmu. Lebih dari rindu, malam ini aku memujamu.

Tersenyum perlahan, hingga rambut beruban aku tetap bertahan memandangi rembulan di malam ini. Seperti malam-malam kemarin, ketika kau masih duduk di sampingku. Perpisahan kita, bukan karena kesalahan yang bisa dimaafkan.

Cinta ku pastikan tak kan pernah hilang meski jasad tlah terkubur berkalang tanah,, ia akan tetap abadi dan setia menjaga rindu sang empunya. itu yang membuatku kuat dan bertahan dalam kesendirian. dengan langkah pasti ku balas salam sapa dengan senyum ketabahan seraya menutup pintu pengharapan agar tak ada seorangpun yang bisa menggantikan. selamat tidur cinta,, aku akan menjagamu dalam kegetiran.

Susah payah menata hati kembali pada kekosongan, setelah 4 atau 5 tahun yang lalu cintamu menggelitik jiwaku. Memberi kesejukan ditiap hariku, menghangatkan senyum pagiku, membuat air mata yang jatuh memiliki makna tiap butirannya. Hadirmu tak tergantikan... Malam ini, Ingatkah kau padaku, cinta?

Share this

1 Response to "NYANYIAN KEHENINGAN MALAM"

  1. dan juga penikmat dari keheningan malam yang membuat ketenangan hati...

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: