Menjaga Diri Tetap Waras

 


Welcome (penghujung) 2023!

Dua tahun gak pernah update blog dan hari ini kambek di kuartal ke-3 tahun 2023. Comeback dengan curhatan berdarah-darah yang sekitar 2 tahunan ini fiuhhh ternyata cukup berat yaa hehe

Dua tahun vakum, dateng-dateng ngeluh.

Ada banyak hal yang membuat saya menjadi seorang yang sangat aktif menulis di blog. Ada beberapa alasan yang memaksa saya untuk berhenti sejenak. Kemudian memutuskan kembali ke 'rumah' ini karena memang selalu menjadi sebuah keharusan.

Dua tahun yang cukup berat untuk...

Membagi waktu antara sibuk dengan dunia pekerjaan, keluarga, lingkungan, dan semakin mengenal diri saya sendiri. Membagi banyak peran dalam satu waktu ternyata tidak semudah itu.

Terlebih ketika status ibu beranak satu saya berubah menjadi mom of two, alias ibu beranak dua. Amanah memiliki rezeki berupa dua anak itu kami sambut dengan sebenar-benarnya. Menyiapkan segala untuk meminimalisir segala kesalahan pada akhirnya.

Tidak hanya berbicara tentang finansial, tetapi juga kesiapan mental. Tidak hanya mental sebagai orangtua, tetapi juga psikologi anak pertama. Saya perlu membuat kesepakatan besar dengan pasangan untuk menyambut kebahagiaan utuh dengan tanpa banyak mengeluh.

Sampai saya benar-benar siap, saya bersembunyi di balik kata istirahat untuk memaknai secara benar. Bagaimana kesiapan saya untuk menjadi seorang istri, ibu dari dua anak, karyawan aktif, dan menghadapi setiap waktu yang berjalan dengan tetap waras.

Kerawasan perasaan seorang perempuan yang memiliki tanggungjawab tidak hanya satu, butuh dealing serius.

Di luar, terkadang saya kerap melewatkan banyak hal, banyak skip, tapi di rumah anak-anak saya tidak boleh tahu berapa banyak masalah di kepala yang saya pikirkan.

Di rumah, ada sekian masalah tumpang tindih datang silih berganti. Ketika berhadapan dengan klien, mereka hanya mengenal wajah saya dengan keprofesionalitasannya. Tidak peduli dengan urusan pribadi.

Baca juga ini dong Manajemen Waktu Ibu Bekerja yang Seimbang

Selama hiatus, saya sering meluangkan waktu untuk berselancar di media sosial. Memilih informasi apa-apa yang harus saya konsumsi dan mana yang tidak terlalu penting untuk saya ketahui.

Mencari dukungan untuk tetap bahagia menjadi seorang wanita dengan berbagai peran. Peran yang sudah dipilih tanpa paksaan, tahu konsekuensi, dan saya siap untuk ini.

Di luar, ada banyak sekali wanita super hebat dengan segala macam peran aktif mereka saat berjalan di atas bumi Allah .

Ibu bekerja sambil mengurus 5 anak (bahkan lebih) sekaligus, menjadi business woman dengan karir yang gemilang, menjadi content creator yang berhasil menggali dan mengembangkan potensinya sendiri, menjadi wanita rumahan utuh dengan memperbanyak ilmu agama dan tidak lelah mengurus kedua/ketiga/ke-empat putra putrinya, sambil menantikan suami pulang ke rumah di jam yang sudah ditentukan, bahkan single mother yang berjuang dengan selalu tersenyum menatap semesta dan 'mengatakan saya baik-baik saja.'

Semuanya memiliki peran masing-masing, semuanya jelas tidak mudah. Kita hanya berusaha untuk tidak pernah menampakkan keluh kesah kepada siapa-siapa.

Ibu bekerja sambil urus anak di rumah, gimana cara atur waktunya? baca di sini

Dan saya, dari itu semua belajar banyak hal.

Bahwa sejatinya, kita hanya butuh fokus pada peran kita. Terlalu banyak melihat kehidupan orang lain hanya akan menambah beban pikiran. Melihat kehidupan yang lebih tinggi, memunculkan rasa iri. Melihat kehidupan yang (seolah) tidak lebih baik dari kita, kerap membuat kita gampang berbangga dan tinggi hati.

Memilih untuk fokus berjalan sesuai track yang dipilih sedari awal. Saya adalah seorang istri, memiliki dua putra yang harus saya pastikan masa depan mereka berada di jalur yang sesuai. Jalan yang Allah  ridhai.

Memastikan kebutuhan suami dan anak-anak di rumah tidak ada yang kurang, berusaha menjadi karyawan yang baik di perusahaan, komunikasi dengan keluarga, saudara, teman, tetangga dan lingkungan sekitar tetap nyaman.

Sesekali healingme timehangout dengan rekan sefrekuensi, jajan pinggir jalan dengan anak dan suami, adalah sebuah peralihan.

Peralihan dari rasa lelah, kecewa, putus asa, rasa tidak percaya diri, pusing menghadapi rekan kerja, harus tetap sabar melihat tingkah polah anak yang kadang tak terkendali. Dan lain-lain, dan sebagainya.

Dan hanya ada satu cara untuk menjadikan diri tetap waras dengan berbagai peran yang saya jalani di atas. Yaitu semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha membuat saya hidup.

Berbagai masalah di dunia ini, berbagai peran manusia yang berpijak di atas bumi, level kekuatan menanggung semuanya harus sejajar dengan iman. Maka semuanya akan terasa baik-baik saja.

Semua perempuan di atas hebat. Karena mereka diberi kekuatan lebih oleh Sang Pencipta untuk sanggup menerima setiap permasalahan hidup yang ditanggungnya. 

Ketika saya memilih peran ini, saya hanya perlu berpegang pada kekuasanNya untuk bisa tetap hidup dengan baik. Mencerna segala masalah dengan keyakinan semua pasti ada jalan penyelesaiannya. Sebab 'Jika itu baik, mustahil Allah tidak beri jalan'

Inilah salah satu penguat terbaik untuk menjaga kewarasan. Dua tahun yang terlewati kemarin, adalah momentum introspeksi terbanyak yang pernah saya lakukan dalam hidup.

Ketika semua disandarkan sama Allah , ternyata kita bisa lho :)

0 Comments

Silahkan tinggalkan pesan di sini: