Meningkatkan Self Esteem dan Belajar Seni Hidup Merasa Cukup



Selangkah, dua langkah, tiga, empat dan seterusnya. Seberat apapun beban di bahu, faktanya kita tetap bertahan dan masih bisa melanjutkan hidup sampai detik ini.

Bukan hanya sebuah pembenaran, bahkan dalam Alquran sudah dikatakan bahwa manusia diciptakan dengan salah satu sifat 'suka mengeluh' [QS: Al-Ma'arij 19].

So, sesekali merasa lelah dan rasanya hampir putus asa tidak apa-apa. Ketika itu terjadi, yakin bahwa iman selalu ditempatkan di posisi tertinggi dan akan selalu ada jalan untuk keluar dari masalah.

Jika semesta memiliki loker raksasa dengan label 'masalah' hidup manusia yang bisa diisi berdasarkan kategori, pada kenyataannya hampir semua cerita para pengisinya sama. Hanya 'tingkat kesanggupan dan rasa yakin individu tersebut dalam menyelesaikan masalah'-lah yang membedakannya.

Lucunya, dari sekian banyak perkara yang terjadi dalam hidup, terkadang ada hal yang penyebabnya justru datang dari diri sendiri. 

Merasa insecure, gak PD-an, negative thinking, kurang yakin, bahkan sering mengecilkan nyali sendiri, dan segala hal yang akarnya berasal bukan dari luar tapi kita yang menciptakan.

Dan, ketika permasalahan itu besar datangnya dari dalam justru lebih sulit untuk mencari penyembuhan. Itu sebabnya diperlukan metode penting yakni seni menghargai diri sendiri.

Beberapa waktu lalu, di tengah jeda hiatus saya yang tidak menuangkan tulisan apa-apa di blog ini. Saya banyak menerima banyak hal, salah satunya terkait self esteem dan belajar seni merasa cukup.

Memahami, menerima, dan meningkatkan self esteem

Self Esteem, adalah sebuah seni untuk lebih mengenal, menerima, dan menghargai diri sendiri. Mencintai diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak sering membandingkan diri dengan orang lain.

Salah satu pondasi yang memperkuat pertahanan diri untuk tetap berpikir positif ketika menghadapi segala permasalahan hidup.

Lantas bagaimana langkah awal kita untuk lebih bisa mengenal 'siapa kita?, 'apa kelebihan yang harus kita kembangkan dan kekurangan yang mungkin bisa kita jadikan potensi?', 'apa hal yang paling ingin dilakukan?', 'bagaimana mengatur manajemen risiko perasaan ketika dalam kondisi tidak baik-baik saja?', dan segala macam pertanyaan untuk lebih memahami diri sendiri dengan baik.

Dan langkah selanjutnya adalah berusaha untuk menerima dengan utuh, untuk kemudian memperbanyak menghargai diri sendiri dengan tulus.

Jujur. Hal utama yang terkadang sulit kita lakukan bahkan pada diri sendiri adalah untuk selalu merasa jujur. Melakukan tindakan yang sejalan dengan perasaan, jangan kerap membohongi diri sendiri apalagi hanya untuk sebuah pengakuan dari orang lain. Bahkan ketika kita tidak menerima kenyataan, bagaimana semesta akan berada pada keberpihakan.

Self-talk. Bukan hanya pasangan atau rekan kerja yang harus banyak diajak bicara, diri sendiri juga. Di waktu-waktu sendiri, ajak diri berdamai dengan keadaan, bicara dari hati untuk pribadi. Tanya dengan jujur apa yang kita inginkan, bagaimana cara kebahagiaan ini dirayakan. Katakan 'kita akan baik-baik saja' dan 'kita bisa melewatinya, sekali lagi' ketika sedang krisis percaya diri.

Bangun relasi positif. Bukan hanya sekadar imbauan, kita disarankan untuk memilih circle pertemanan yang merujuk kepada hal kebaikan. Ketika di hati sudah tidak nyaman, berada di suatu lingkungan yang berangkat dari memaksakan diri, maka selamanya akan terasa beban, dan pelan-pelan kita menyakiti diri sendiri setiap hari. 

"Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang dari kalian memerhatikan siapa yang dia jadikan teman dekatnya." ~ H.R. Abu Dawud

Dewasa ini, kita  semakin menyadari bahwa yang ada di sekitar kita adalah mereka yang benar-benar peduli. Jangan resah ketika lingkungan terasa tidak berpihak, karena dukungan dari mereka yang menyayangi akan tetap ada. Kita yang akhirnya mengakui itu, fokus, beri mereka rasa sayang lebih banyak untuk perasaan semakin bertumbuh dan hangat.

Pilih rekan, relasi yang benar-benar memberi pengaruh positif. Positif untuk keberlangsungan hidup, percakapan dua arah yang tidak bersinggungan, sejalan dengan apa yang kita yakini, dan الله عز وجل ridhoi.

Belajar Menerima. Konsep penerimaan diri tidak hanya mengakui kelebihan dan mengapresiasi keberhasilan. Apa-apa yang selama ini terasa sebagai kelemahan, kekurangan, hal yang selama ini dianggap 'buruk' dan sulit untuk diubah, jadikan semuanya sebagai sesuatu yang penting.

Memahami kekurangan diri justru membuat kita menjadi paham apa hal yang bisa diperbaiki dan apa yang sebaiknya tidak dilakukan.

Berproses, kuasai emosi, manajemen risiko untuk mengendalikan diri saat merasa semuanya kacau. Sebesar apapun kesalahan yang dilakukan, kita adalah kita yang tahu kualitas, usaha, kekuatan dan apa yang seharusnya tidak diulangi. Tidak selalu menyalahkan.

Bersyukur. Di atas semuanya ada rasa syukur yang harus selalu diucapkan berulang-ulang, tanpa cukup. Mensyukuri kondisi adalah salah satu cara menjaga kadar keyakinan kita bahwa apa yang kita miliki saat ini, adalah versi terbaik dari pengendali semesta, الله عز وجل.

Lebih ringan ketika kita berjalan tanpa seringkali membandingkan. Adu kondisi dengan orang lain yang bahkan kita tidak pernah tahu bagaimana mereka menjalani proses. Tujuan kita jelas berbeda dengan masing-masing individu lain.

Karena katanya 'comparison is the thief of happiness', membandingkan itu mencuri kebahagiaan.

Sesekali melihat kiri kanan untuk berhati-hati, mengadaptasi kebaikan, mengabaikan segala yang dirasa akan menghambat perjalanan. Sesederhana itu.

Meski, iya betul, praktiknya tidak segampang itu. Itu sebab kita harus selalu melatih pemahaman tentang seni  merasa cukup.


Seni Hidup Merasa Cukup

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang kurang lebih isinya tentang 'sebaiknya kita melakukan pengurangan untuk membuat perubahan yang lebih baik'.

Maksudnya seperti apa? Bukannya proses bertumbuh itu artinya menambah? Menambah rasa percaya diri, menambah keyakinan, menambah lebih banyak tabungan.

Lakukan 'penambahan' pada sebuah proses yang menuju arah kebahagiaan atau definisi sukses. Sementara di lain hal, ada beberapa perkara yang juga harus dikurangi untuk mencapai nilai seimbang.

Misalnya, kurangi begadang yang tidak perlu, kurangi hubungan atau lingkungan yang terlalu toxic, kurangi kebiasaan rebahan berlebih, atau scrolling media sosial tanpa tahu tujuan atau bukan perkara mengkaji ilmu.

Menguasai seni merasa cukup perlu banyak latihan, diaplikasikan dengan banyak ucapan syukur dan mengurangi untuk bertambah.

Kurangi harta dengan sedekah, untuk menambah keimanan, keyakinan bahwa akan terganti dengan rezeki dalam bentuk lain.

Kurangi hasad atau iri atas kebahagiaan orang lain untuk menambah nikmat hidup yang kita miliki saat ini.

Kurangi buruk sangka atas segala takdir, yang pada akhirnya itu adalah versi terbaik untuk kita jalani.

Cukupkan keinginan dengan tujuan yang lebih terukur, terarah, dan mengikuti aturan yang sudah الله beri petunjuk.

Qanaah (قَنَاعَةٌ ), puas menerima apa yang diperoleh dan dimiliki. Pertebal sifat ini untuk menghalau karakter rakus, serakah, tidak pernah merasa cukup, yang berujung pada lupa nikmat bersyukur.

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah mengaruniakannya sifat qana’ah (merasa puas) dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

0 Comments

Silahkan tinggalkan pesan di sini: