1 Juli 2016

Alangkah Lucunya Negeri Ini


Mirip judul film yang dibintangi si ganteng Reza Rahadian, tapi bukan, ini bukan promo film. Karena film itu sudah dirilis dari tahun 2010 lalu. 

Tapi kurang lebih keherannya sama persis dengan makna film itu. Betapa kita lagi-lagi sangat keseringan mengernyitkan dahi karena tidak habis pikir dengan segala yang baru-baru terjadi di Negeri ini.

Saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang harus selalu update portal berita. Dan setiap hari, ada banyak kasus yang rasa-rasanya membuat syok, miris, heran, terkesima, tercengang, marah, kesal setengah mati, dan tragis.

Entah atau ini hanya perasaan saya, mungkin sekitar lima belas tahun lalu, berarti usia-usia saya berada di sekolah menengah pertama. Berita di televisi yang saya lihat seputar penculikan anak, kecelakaan, maling motor, kebakaran, banjir dan macet Jakarta. Sesadis-sadisnya kasus adalah pembunuhan yang meninggalkan korban meninggal dicekik, atau KDRT.

Dan beberapa bulan ke belakang ini, kasus yang terjadi berubah, benar-benar berubah.

Pembunuhan sadis dengan korban pemerkosaan anak usia sekolah menengah pertama, dilakukan lebih dari 10 orang.

Pemerkosaan dan pembunuhan anak umur 2 tahun, lantas mayatnya disekap di lemari semalaman, oleh lelaki yang saya tidak tahu ketika dia diciptakan lengkap beserta otak dan naluri kemanusiaannya atau tidak. Membayangkan melototi anak yang sedang lucu-lucunya itu saja rasanya tidak tega, dan dia melakukan hal yang membuat semua manusia berakal marah.

Tiga pemuda yang ‘gara-gara asmara’ akhirnya tega melakukan pemerkosaan dan pembunuhan sadis terhadap seorang gadis. Saya tidak paham, apa yang ada dalam pikiran mereka ketika memasukkan gagang cangkul ke dalam kemaluan korban sampai masuk rongga dada, hingga meninggal. Bahkan ketiganya dilahirkan oleh seorang ibu, seorang perempuan.

Di balik semua kisah sadis itu, hal yang membuat miris adalah, beriringan dengan beredarnya video-video dan photo anak sekolah dasar saling berpeluk cium dengan lawan jenis dan meng-update status “Aku tidak ingin kehilanganmu, Sayang…”.

Usia saya yang (pada saat itu) bahkan marah dan menangis ketika diolok-olok suka dengan si Anu di kelas. Malu, merasa bahwa suka-sukaan dengan lawan jenis rasanya aib.

Beredar lagi video anak sekolah menengah yang menari striptis dengan teman-teman sebaya. Kasus siswi yang menunjuk-nunjuk dan membentak seorang polisi wanita (yang mungkin sebaya ibunya) di tengah jalan dengan coretan baju tanda kelulusan. Tragisnya, orang tua anak itu juga akhirnya meninggal dikabarkan tidak tahan dengan semua komentar pedas masyarakat, yang dilemparkan ke anak dan keluargnya.

Usia saya yang (pada saat itu) pulang sekolah tidak tepat waktu dan lupa minta izin saja rasanya sudah membuat kesalahan besar pada orang tua.

Lebih miris lagi kasus yang baru saja terjadi adalah, anak sekolah yang melaporkan gurunya sendiri dalam jalur hukum, karena alasan ia dicubit dan dipukul di kelas.

Usia saya (yang pada saat itu) bahkan berpapasan dengan guru di jalan saja rasanya ingin pura-pura tidak melihat karena sungkan. Sebegitu besar perasaan respect saya dan teman-teman kepada guru di kelas. Semakin galak dan tegas guru, semakin kita nurut dan segan. Semakin lembut guru, semakin sayang dan bahkan jadi teman.

Berikut headline berita 'geger' yang terjadi sampai pertengahan tahun 2016

Saya tertegun dan berpikir keras, apa yang salah dengan negeri ini, bahkan dalam kurun waktu belum sampai 20 tahun dari kedamaian yang sempat saya rasakan di masa kecil. Saat ini semuanya asing, berubah dengan cepat. System yang dulu sangat kuat, sekarang bisa menjadi selonggar-longgarnya peraturan dan norma yang berlaku seolah ditiadakan dengan keadaan.

Saya dan suami yang seorang wartawan, kadang diskusi di waktu senggang. Membahas kasus itu dan ini, yang sedang terjadi. Saya yang setiap hari bekerja online, semakin dituntut untuk banyak membaca dan memahami apa sebenernya yang sudah dilakukan anak-anak usia remaja tersebut. Apa yang ada dalam pikiran mereka.
Dan pertanyaannya siapa yang paling bertanggungjawab atas tindakan ‘penyimpangan’ remaja-remaja itu?
Orang tua?
System teknologi maju?
Kemudahan peraturan dan norma yang rasanya sudah tidak lagi ada?
Guru-guru di sekolah?
Lingkungan?




Dan jawabannya adalah, ternyata semua ikut terlibat. Siapa yang paling diantara yang paling bertanggungjawab pada semuanya adalah diri sendiri.

Saya tidak akan membahas bagaimana cara membentuk karakater yang benar. Justru saya sedang mencari cara apa yang harus saya lakukan kepada anak saya kelak.

Apa sikap yang salah, yang pada akhirnya membentuk karakter anak yang salah. Apa sikap yang benar, yang pada akhirnya akan membentuk diri anak sebenar-benarnya.



Sampai tulisan ini diposting, saat ini ada kasus:
* Suami istri yang dengan tega menggunakan vaksin palsu
* Surat permintaan fasilitas ‘mewah’ wakil ketua DPR untuk anaknya yang ada di luar Negeri.
* Dan lagu “Lelaki Kerdus” yang dinyanyikan anak usia 10 tahun dengan lyric yang sangat tidak pantas. Menghujat ayahnya karena menduakan ibunya, bahkan dengan kata-kata lelaki b*ngs*t


Sengaja saya tidak membahas kasus yang berkaitan dengan agama, karena makin banyak yang tidak saya paham, akan lucunya isi kepala semua manusia yang ada di Negeri ini.

Share this

0 Comment to "Alangkah Lucunya Negeri Ini"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan di sini: