14 Juni 2012

Surat dari Medan

Beberapa saat yang lalu ada seseorang bertanya pada saya, "Apa menurutmu tentang pendapat bahwa -Kesetiaan itu menyakitkan-" dan lantang aku menyatakan bahwa saya tidak sependapat dengan kata-kata tersebut. Lantas saya bilang bahwa:
Setia itu ketulusan. Sepahit apapun. Ketika kita yakin dengan ketulusan kita menjaga kesetiaan. Tuhan punya sesuatu yang lebih indah, Tuhan akan membalas dengan sebuah ketulusan Dia, ketulusan yang lain. Tidak ada yang menyakitkan, selama adanya ketulusan dan keikhlasan. Pun dalam hal menjaga kesetiaan.Begitu pengalaman mengajarkan pada saya arti sebuah kesetiaan.
Di postingan beberapa saat lalu, saya pernah membahas pernah menyukai seseorang yang bahkan mengabaikan saya. Apa saya pernah merasa menyesal dan menganggap bahwa saya telah membuang waktu saya dengan sia-sia? "tidak"

Ketika saya menyukai seseorang, itu artinya saya juga telah menaruh sebuah ketulusan pada dirinya dan cinta saya. Meski tidak terlalu memiliki harapan tinggi untuk memiliki, bahkan dengan memiliki sebuah kesetiaan bersikukuh menyukainya-pun sudah menjadi kebahagiaan buat saya.

Lantas untuk apa alasan saya menyatakan bahwa 'kesetiaan saya hanya sia-sia, menyesal pernah menyukai dia?' di mana letak ketulusannya? rasanya tidak ada. karena ketulusan menyukai seseorang itu adalah murni tidak mengharapkan sesuatu yang dipaksakan. begitu bukan?

Beberapa hari belakangan, sahabat jauh saya yang sudah mengeluh tentang kesakitannya pada saya akhirnya menyerah. dia yang terlalu mencintai seseorang yang 'mengabaikannya' akhirnya merasa lelah. Lelah dengan penantiannya, lelah dengan kesia-sia-an menunggu kembalinya orang yang paling dicintainya. Bahkan dengan lantang, ia menyatakan "Andai aku  sudah bisa melupakan dia Ay, barangkali dia adalah satu-satunya orang yang paling aku benci karena telah membuat hatiku hancur seremuk ini"

Lantas saya dengan sedikit kesal berkata "Kamu egois, kamu tidak mencintainya, tapi kamu hanya bernafsu ingin memilikinya. Hanya karena kamu tidak bisa melupakannya, dan hanya karena dia tidak bisa kembali pada keadaan pernah menyayangi kamu, lantas kamu begitu saja berhak mengatakan bahwa dia jahat? Kamu yang sebenarnya lemah kak, kamu yang menyakiti diri kamu sendiri, bukan dia. Kamu payah, tidak mau bangkit. Kesia-siaan yang sesungguhnya adalah justru saat ini, saat kamu benar-benar terlihat lemah menyedihkan. berbulan-bulan menghabiskan waktu dengan mengeluh sakit, tidak bisa berhenti menangis. Siapa yang jahat? Kamu, kamu yang jahat pada diri kamu sendiri. Kamu tidak pernah merasa kasihan pada hati dan tubuh kamu sendiri."

Racauan saya rasanya tidak bisa habis sampai di sini,

"Aku tau rasanya diabaikan, aku tau rasanya tidak dicintai seseorang. Siapa dulu yang menamparku ketika aku dalam keadaan lemah? KAMU. Dan, apa lantas aku harus menderita dan menangisi keadaan bahwa dia mengacuhkanku? Pemikiran yang sangat egois. Dan, justru sekarang kamu yang tak bisa membenarkan setiap kalimat dari ucapanmu sendiri. Kamu gak bisa menyamaratakan perasaan semua orang kak, kalau kamu mau dimengerti, barangkali kamu juga harus pandai mengerti orang lain. Bukan siapa-siapa yang disusahkan dalam hal ini, hanya kamu. Terserah kalau kamu terus-terusan dalam keadaan seperti ini, aku capek denger semua keluhan kamu setiap hari. Tapi tidak berusaha mau bangkit. Karena kamu sudah jatuh 'cinta' sendiri, maka kamu juga harus mampu bangun sendiri. Jangan bawa-bawa aku dengan kepayahan kamu."

Jujur, saya sakit mengeluarkan kata-kata itu. Saya menangis, saya tau persis apa yang dia rasakan, tapi jika tidak begitu justru jauh lebih kasihan.

beberapa saat kami tidak saling berhubungan, namun akhirnya selang hampir seminggu kemudian, ia mengirim email pada saya dan isi emailnya bersedia saya masukan dalam blog saya.

Berikut lampiran Emailnya:

sedangkan, berikut ini adalah isi curahat hatinya yang menurut saya 'berdarah-darah'

KAU TAK SEDANG MENYAKITIKU,
KAU (HANYA) SEDANG MEMBUATKU MENYAKITI DIRIKU SENDIRI


Kau tahu sayangku,
Hari ini aku menangis lebih sakit dari biasanya,
Yah, sebenarnya tak ada tangis yang tak menyakitiku,
Namun kali ini,
Barusan saja kudengar perkataan yang sangat menyayat-nyayat hatiku
Mengguncangkan kesadaranku dengan sangat kuat,
Sehingga aku tak mampu berdiri dengan seimbang
Aku menangis dengan pilu,
Sepilu perasaanku saat tahu keadaan ini semakin tidak wajar,
Namun begitu lama kubiarkan..
Ada perasaan menyesal yang kusimpan dalam diam,
Perasaan di mana aku merasa telah terlalu banyak menyusahkan orang lain
Hanya karena perkara hatiku yang terlalu pengecut
Dan tak siap menerima keadaan,
Keadaan di mana apa yang aku minta tak bisa aku dapatkan
Aku hanya mampu menangis
Lalu diam..
Sediam-diamnya..

kau tahu sayangku,
masih kuingat dengan jelas perih yang pertama kali muncul saat kau mengiyakan permintaanku untuk berpisah
saat tiba-tiba saja semuanya kembali berputar menyakitiku,
aku yang begitu ngototnya merasa “tidak betah” akan keadaan kita
tiba-tiba aku dihantam kehilangan yang luar biasa sakit,
menyadari kebodohanku, melepaskan orang yang ternyata begitu kucintai terlalu dalam
dan saat aku menyadari aku tidak sanggup dengan keputusan yang kumulai sendiri,
aku menghibamu, menjatuhkan diriku, sejatuh-jatuhnya,
karena aku sangat takut, begitu takut aku kehilangan kamu yang sudah terbiasa dengan napasku, waktuku, hari-hariku dan seluruhnya aku.

Kau tahu sayangku,
Betapa terkejutnya aku dengan penolakanmu,
Dengan semua kata “tidak”mu,
Dengan semua penilaianmu bahwa aku terlalu berlebihan,
dengan semua diammu saat aku menumpahkan yang sebenar-benarnya
dengan semua larangan atau aturan yang kau buat saat aku mengirimkan sms untukmu
tahukah kau,
saat itu aku merasa sangat tidak mengenalmu,
atau memang benar ternyata selama ini aku tak benar-benar mengenalmu,
lalu aku mulai menjadi seperti anak kecil,
yang menangis karena tidak bisa mendapatkan mainan yang dia inginkan sewaktu di pasar,
dan dia masih terus merengek-rengek sampai tiba di rumah,
yang terjadi, kau malah semakin menjauh, dengan begitu jelas kau menggariskan jarak di antara kita,
Tahukah kau,
Bagaimana rupaku saat itu?
begitu mengerikan saat aku memandang cermin di kantorku
Bagaimana kepahitanku saat itu?
begitu mengerikan sampai aku tidak berselera lagi menghabiskan sarapan dan makan siangku
Lalu teman-teman kantorku mulai kesal melihat aku yang terus-terusan menangis,
Sampai aku mulai belajar menahan tangisku ketika aku bersama mereka,
Dan aku mulai berhenti menceritakan ‘pahit” itu,
Aku menelannya dengan susah payah,
Dan bila tiba saat aku tak tahan lagi,
Diam-diam aku menghentikan pekerjaanku,
pergi ke kamar mandi, lalu menangis tertahan di situ,
Aku terus menangis sampai aku merasa lega.
Dan kembali bekerja.

kau tahu sayangku,
berapa banyak orang yang harus kutemui,
hanya untuk menumpahkan semua yang menyesaki dadaku,
hanya untuk merasa sedikit lega
bila sesak ini kubagikan,
dan lagi-lagi ribuan “tamparan” yang harus kuterima
ketika aku menyadari semua yang mereka katakan itu benar
dan semua kebenaran itu baik untukku..
ini tidak mudah,
ketika “hanya aku” yang tahu benar apa yang dirasakan hatiku,
ketika ingin sekali aku membuat mereka merasakan apa yang sebenarnya kurasakan
kemudian aku sadar aku terlalu egois lalu memilih diam

kau tahu sayangku,
aku sering berpura-pura berkata “aku baik-baik saja”
untuk setiap orang yang menanyakan kabarku,
padahal mereka masih bisa melihat dengan jelas
sembab di mataku,
sisa tangisanku semalam
tahukah kau,
aku tak pernah pandai berpura-pura
dan ketika aku mencoba melakukannya,
ada sebagian dari diriku yang meronta-ronta
menanggung setiap kesakitan yang pelan-pelan
mengubah hatiku menjadi puing yang berserakan,
ini tidak mudah sayang,
ketika aku harus tertatih memunguti puing berserakan itu satu-persatu

Kau tahu sayangku,
Saat aku tidak menemukan jalan untuk melupakanmu,
Saat aku tidak menemukan cara untuk mengalihkan perhatianku,
Aku mulai menghubungi daftar kontak pria di ponselku,
Aku memulai obrolan dengan riang,
Aku belajar darimu,
Aku mulai belajar menggoda mereka,
Aku tertawa,
aku tersenyum,
Tetapi apa yang terjadi di detik setelahnya,
Hatiku datar..
Kosong..
Tak merasa apa-apa..
Aku tak bisa merasakan bahagia yang sebenar-benarnya..
Mungkin benar mereka telah menyenangkanku,
Namun  mereka tak mampu melekatkannya lebih lama sedetik saja dari kepedihanku
Kamu tetaplah kamu,
Orang yang tidak sama dengan mereka
Lalu aku mulai memikirkan kapan hari yang tepat untuk bolos kerja,
Di mana aku bisa pergi ke tempat yang jauh dan tenang,
Jauh dari rutinitas dan tekanan yang kuhadapi setiap hari,
Di mana aku bisa merenungkan kembali apa-apa yang membuatku
Menjadi ‘lumpuh’ seperti ini,
di mana aku bisa memandang danau yang tenang
Padang rumput yang begitu hijau,
gunung-gunung yang selalu bisa mempesonaku,
Hanya untuk melepaskan lelahku dari pahit yang menolak “pergi” ini
Tapi aku tak bisa,
lagi-lagi aku dihadapkan pada tanggung jawabku,
Terhadap deadline yang sudah ditetapkan dengan pasti pada setiap jadwalku
Bahkan  aku harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemui teman-temanku
Padahal hari sudah malam,
Hanya supaya aku tidak merasa sendiri,
Sendiri adalah waktu yang tepat bagi airmata untuk berjatuhan dan melukai
Kemudian aku menyerah pada keadaan yang mulai ikut-ikutan membunuhku perlahan-lahan
Aku menyerah begitu saja,
kalah begitu saja..

Kau tahu sayangku,
Betapa sulitnya aku mengembalikan diriku yang dulu,
Sebelum mengenalmu,
Sebelum jatuh cinta ‘terlalu dalam’ begitu saja kepadamu,
sebelum terlukai karena kehilanganmu,
aku yang dulu selalu sabar dan diam dalam airmata
ketika gelap ada di sekitarku,
aku selalu bisa merasa baik-baik saja,
lihatlah sekarang, betapa sulitnya aku menjalani hari,
sebab rindu tak berhenti singgah untuk melukai,
dan terus-menerus membisikkan perih
di sekujur tubuh ingatanku

kau tahu sayangku,
yang paling sulit adalah saat harus memejamkan mata,
dan terbangun di keesokan harinya..
aku selalu menangisi hal-hal yang membuatmu pergi,
kebiasaan-kebiasaan yang tak kumiliki lagi,
aku hanya mampu menenangkannya dengan berdoa,
menyebutkan namamu di situ
memohon kuatku berulang-ulang
lalu aku mulai menghidupkan ponselku,
mencarimu di timelineku,
membacamu selalu mampu mengubah hariku menjadi tidak lebih baik
namun selalu saja kuulangi,
sepertinya aku kebal dengan sendirinya,
tak peduli itu menyakitkan atau tidak
aku tidak peduli lagi

Kau tahu sayangku,
Pernah aku membayangkan bagaimana jika tiba-tiba saja jantungku berhenti berdetak
Mungkin semuanya akan tampak lebih mudah
Sebab detak ini yang selalu membangunkan semua kenangan tentangmu,
Menyesakkan napasku, meremukkan dadaku,
Lalu kemudian aku memikirkan hal-hal lain
Yang tak mungkin kutinggalkan begitu saja.
Dan akhirnya aku mulai menyadari kekeliruanku
Aku merasa bersyukur aku masih hidup
Dan memastikan jantungku masih berdetak

Kau tahu sayangku,
Setiap mendengar kabar teman atau pun seseorang yang aku kenal sedang sakit,
ingin rasanya aku yang menggantikan posisi mereka,
Sebab aku tak memiliki harapan (lagi) untuk merasa bahagia
Seperti yang selalu mereka harapkan dan inginkan
Ingin kugantikan setiap perih atau kesakitan yang sedang mereka alami
Sebab mereka tidak layak untuk merasa sakit di saat mereka seharusnya merasa bahagia

Kau tahu sayangku,
Dalam berkendara pun aku pernah menangis saat mengingatmu
Aku menangis dengan begitu hebatnya
Sampai airmata mengaburkan pandanganku,
Lalu kemudian aku sadar,
Aku hampir menabrak sesuatu di depanku,
Dan perlahan-lahan aku mulai menyeka airmataku
Lalu berkendara dengan benar

Kau tahu sayangku,
Sampai saat ini aku tak bisa memahami dengan benar,
Mengapa aku harus mengalami semua ini,
Namun aku tak menyalahkanmu,
Aku tak membencimu,
Aku hanya tidak mampu memaafkan diriku sendiri

Kau tahu sayangku,
Kau tentu tidak tahu apa-apa tentang semua ini
Sebab sejak perpisahan itu,
Kau menutup matamu,
Kau menutup telingamu,
Kau menutup segalamu,
Demi menggarisi jarakmu denganku

Sayangku,
Kau tak sedang menyakitiku
Kau (hanya) sedang membuatku menyakiti diriku sendiri..

Share this

10 Responses to "Surat dari Medan"

  1. aaaaaakkkk
    T_T
    kak ay, ecciii...

    BalasHapus
  2. terenyuh ns bacanya,entah kenapa,,
    susah emang punya perasaan kok sensitif kyak gini..
    yg kuat kak,
    yg kuat cii,,
    :'(

    BalasHapus
  3. aku sih enggak na, kak eci tuh yang perlu dipukpuk-in ahahahaa :p

    BalasHapus
  4. adakalanya orang berkata :
    "setia itu membawa luka"
    tapi menurut saya sich
    "Setia itu tanda ketulusan dari sebuah Cinta"

    saya juga pernah meerasakannya jg sich, ketika 3 Tahun terpisah Jarak dan waktu....!!! yang menemani hanya BBM,Telp,SMS..

    terakhir kali yang aq terima adalah surat yang paling berharga yang di tulis oleh tangannya sendiri, yang membuat tersentuh....!!! cukup dengan kesetiaan aku dan dia menjalani hari hari....

    dengan 1 kata aku sampaikan "Jaga selalu Hatiku"

    BalasHapus
  5. Sangat menyukai postingan Aya yang inii..
    aghh.. benarbenar menyentuuh...
    Belajar darii inii.. setelah sempat dan masih terpuruk karena sang kekasih yang pergii..
    terima kasiih sudah memposting ini AYaa.. :))

    BalasHapus
  6. Wow,,,cinta memang rumit dan selalu tragis .waduh.salam kenal

    BalasHapus
  7. @Ary: "jaga selalu hatimuu" hehe

    @Nino: aih, terima kasih kak Nino sudah mampiir. Belajar saja mencintai dengan benar kak, kelak akan ada cinta yang hadir lebih baik.

    @when: cinta sebenarnya tidak rumit, kita yang mempersulit, hehe salam kenal kak When :*

    BalasHapus
  8. Aya sang dokter cinta. ... hehehee

    BalasHapus
  9. Irni: Iya dokter cinta 'jomblo' ahahaha

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: