Di.a.log




Aku menyukai penantian dan sebuah kesetiaan. Aku akan terus mencintaimu secara berlebihan. Selamanya, entah selama apa. Air mataku jatuh satu satu. Sementara kelopaknya mulai mengatup, rapat, perlahan.

Duduk di sini memang nyaman, jauh dari keramaian, hanya suara angin dan debur ombak perlahan. Menghampiriku.

Aku sangat mencintaimu. Tidak mengapa jika itu adalah kutukan seumur hidupku. Aku selalu berlebihan ketika mengungkapkan perasaan sayang.

Sayangnya, sesuatu yang berlebihan itu benar terlarang.

~

Januari 2014

“Dek?” suara pintu didorong dari luar, keras, kamu menyibak anak rambutku dan menatap cemas ketika aku bersusah payah menahan darah segar yang mengalir dari kedua lubang hidungku.
Kamu bergegas mengambil tisu dan mencoba menyumbat darah yang terus mengalir, sementara lenganmu yang lain merengkuh kepala lemahku.
“Kamu pegang ini, mas ambil air hangat”
“Maas” suaraku tertahan di tenggorokan, yang keluar justru air mata dan darah yang belum juga berhenti. Pandanganku kabur, tanganku berusaha menggapai pintu kamar mandi, tapi sia-sia.

~

Januari 2015

Suara detak elektrokardiograf di dekat kepala perlahan menyadarkanku, kepalaku berat, sedikit sedikit ku buka mata. Mencoba mengangkat jemari, tapi tertahan sesuatu yang menindih lenganku.
“Maas” suaraku terlalu pelan atau memang kamu tertidur pulas setelah menungguku sehari semalam. Aku mencoba mengangkat lengan kananku dan menyentuh rambut hitammu.
“Maass” kali ini agak lebih keras, namun tetap tidak terbangun. Aku haus

~

Januari 2005

“Kamu haus ga?”
Aku mengangguk, tersenyum malu
“Sebentar ya”
Kamu berlari ke arah kantin tak jauh dari lapangan basket tempat kita duduk selonjoran kaki. Seharusnya aku yang bilang begitu, aku cuma menonton, kamu yang main basket, kenapa aku yang ditawari minum. Tapi sudahlah, toh kamu sudah kembali membawa dua botol minuman dingin.
“Dingin” katamu membetulkan letak syalku lebih rapat, “Seharusnya kamu ga usah ke sini”
“Aku bukan orang sakit, aku sudah sembuh”
“Iyaa iyaa, tapi kalo ada apa-apa gimana?”
“Apa gunanya ada kamu?”
“Ah, iyaa, hahaha” kamu bisa tertawa serenyah itu, dan aku hanya menatap butiran keringat di dahimu.
Sesaat aku tertunduk malu, setelah menyeka peluh di dahi kirimu dengan cepat. Kamu tersenyum menatapku dan tertawa lagi.

~

Agustus 2003

“Kenapa kamu selalu tertawa?”
“Karena dekat kamu”
“Emang aku lucu?”
“Enggak sih, gak ada yang lucu. Tapi kadang berdekatan dengan seseorang yang paling disayang itu akan selalu memberi kebahagiaan tanpa sadar, bahkan tanpa kamu berbuat apa-apa”
“Kamu sayang aku?”
“enggak”
“Iiih gimana siih?”
“Hahahaa, andai ada kata yang lebih indah dari sekadar ‘aku menyayangimu’, aku akan memilih kata-kata itu buat kamu”
Aku tersipu, sedikit malu. Baru dua tahun memakai seragam putih biru apa pantas sudah berani bilang ‘aku menyayangimu’ tapi baru saja kau mengatakannya.

~

Januari 2002

“Aku tidak pernah ikut organisasi apa-apa”
“Tapi tulisan-tulisanmu bagus, boleh buat mading yaa? Atau kalau kamu mau, kamu kelola mading sekolah kita, pasti akan tampak sangat menarik. Kalo udah oke, hubungi aku aja”
Baru jadi ketua OSIS baru yaa? Pantes. Aku mendengus kesal.

~

Agustus 2002

“Harusnya kamu bawa payung”
“Ini bukan musim hujan”
“Kadang-kadang langit itu tidak terlalu ingat pelajaran geografi”
“Haah?” aku menatap minta kejelasan
“Hahaha, cepat naik, hujannya udah mulai reda. Jaketnya kancing sampe atas yaa, pegangan”

~

Aku benar-benar flu, sudah bersin lebih dari 10 kali dalam lima menit. Kira-kira sebanyak itulah jumlahnya. Tidak sekolah hari ini, tidak apa-apalah

~
“Ini jaketnya, terima kasih yaa”
“Kamu sudah sehat? Kemaren aku ke kelasmu, katanya kamu sakit. Gara-gara keujanan kemaren lusa kan? makanya lain kali jangan ngerjain artikel sampai sore di sekolah, sampai gelap. Di rumah kan bisa. Kamu gak apa-apa kan?”
Aku mengangguk ragu, perlahan-lahan dan heran. Melangkah keluar kelasmu pun dengan tatapan kecemasan. Aku merasanya begitu

~

November 2002

“Hhhmm gimana temanya kalo first love, cinta pertama. Bisa?”
“Kenapa harus cinta pertama? Basi kali”
“Temanya bisa basi, tapi kalo penulisannya keren, kan enak dibaca. Artikelmu kebanyakankan pergaulan remaja doang, sesekali cinta kenapa sih.”
“Hmm begitu yaa, vox pop dong?”
“Tanya aku aja”
“Pernah?”
“Sedang”
“Oyaa?”
“Tanya dong, sedang suka sama siapa?”
“Penting?”
“Hahaha” kamu berlalu meninggalkan ruangan penuh cerpen, puisi, news, undangan dan artikel yang menempel di dinding ruangan seukuran kamar di rumahku.

FIRST LOVE
Aku menulis dua kata itu besar-besar, setengah jam kemudian, kursorku masih berkedip, layar laptopku masih kosong, tidak tahu mau menulis apa. Cinta pertama?

~

Juli 2001


“Aku duduk di situ” 
“Tapi aku lebih dulu duduk di sini” 
“Aku mau duduk di situ” 
Huuhh” kamu mendengus kesal dan berpindah tempat satu meja ke belakang. 
“Selamat pagi anak-anaaak, selamat menjadi murid-murid kelas pertama SMP Tunas Bangsa” ibu guru itu rasanya akan lebih cantik tanpa pewarna bibir merah tua, tapi sampai tiga tahun warna lipstiknya tidak pernah diganti. Membosankan! 

~

Desember 2002

“Kereeennnnn. Kamu kalau nulis apa-apa itu emang keren banget yaa. Udah ku bilang kan, tulisan-tulisanmu itu ga membosankan.”
“Hmm” aku tersenyum, baru pertama kali tersenyum setulus ini
“Selamat yaa nona manis, artikelmu juara satu di lomba artikel remaja tahun ini”
“Mau ku traktir?”
“Beneran? Aahhh asiiikkk”
“Sepulang sekolah yaa, di cafĂ© buah depan gerbang sana. Aku tunggu di kelasku”
“Siap” dengan lucu tanganmu dinaik tegakkan di depan dahi, seolah hormat pada pimpinan

~

“Kamu kenapa?”
“Gak apa-apa” aku berusaha menutupi hidungku dengan tangan dan rambut
“Ah, berdarah. Kamu mimisan. Sebentar.”
Dengan sigap kamu menyeka darah yang mengucur menyentuh bibirku
“Mukamu pucat, ku antar pulang yaa”
“Ga usah. Ga apa-ap…”
“Aku ga mau ditraktir, ku antar pulang aja sekarang”.

~

Mei 2003

“Kamu mau masuk SMA mana?”
“Di kota ini juga”
“Kalo gitu, aku juga”
“Eh, kenapa? Niru-niru?”
“Kalo gak ada aku, siapa yang jagain kamu kalau sakit”
“Aku tidak sakit”
“Kan kalau”
“Jangan berandai yang buruk dong”
“Pokoknya aku mau satu sekolah dengan kamu”
“Terserah sih” -aku juga maunya begitu- (dalam hati)

~

Desember 2004

“Mukamu pucat”
“Aku ga pake make up sebelum ke sini”
“Pulang aja yuk, abisin aja minumnya”
“Kamu aja, kamu yang haus”
“Ya udah yuuk”
“Tunggu sebentar yaa” aku berlari ke arah kamar mandi perempuan dekat lab fisika kelas dua

~

Terdengar pintu diketuk kasar dari luar, kamu memanggil-manggil namaku
Aku kepayahan, kepalaku pusing, sementara genangan air washtafel sudah berubah menjadi warna merah.
“Aku gak apa-apa” aku keluar kamar mandi menyeka hidung dan bibirku yang basah
“Bohong” kamu mencekal lenganku dan menarikku pulang
“Sudah ku bilang ga apa-apa” aku menahan air mata yang hampir tumpah
“Sudah ku bilang jangan pernah menaha sakit di belakangku, bisa kan?”
“Aku ga sakit”
“Kamu sakit”
“Enggak”
“Kita pulang”

~

Agustus 2006

“Cantik banget kamu pake kebaya begitu”
“Risih”
“Tapi cantik kok, ini kan pesta perpisahan kita, seumur hidup sekali lho perpisahan SMA itu”
“Perpisahan SD, SMP juga sekali”
“Tapi cantik yang menjelang dewasa, ya cuma pas sekarang ini. SD, SMP kan masih belum cantik”
“Dulu aku ga cantik yaa pas perpisahan SMP?”
“Kamu kan selalu cantik, tapi yang hari ini, lebih cantik dari yang selalu itu”

~

“Kamu mau kuliah di mana?”
“Di kota ini aja”
“Aku juga”
“Eh, kok niru terus sih?”
“Biarin kenapa sih”
“Ga punya pendirian”
“Tapi aku punya cinta”
Aku mendelik, kamu tertawa
Tawamu berubah cemas
“Kenapa?” aku menatap heran
“Ada darah lagi”
“Ahh” aku menengadah menutup hidung, kamu merengkuh kepalaku dan membantu membersihkan darah yang sampai membasahi kebaya putih yang katamu cantik

~

Januari 2010

“Kenapa dok?”
“Kanker otak stadium awal”
“Apa?” pelan, suara ibuku lirih, ayahku sama, kedua kakakku tertunduk, kamu pura-pura tak melihatku. Tak ingin aku tau apa sebenarnya yang kalian bicarakan

~

“Kamu bisa sembuh, pasti”
“Kalo enggak?”
“Harus”
“Kan kalau”
“Jangan berandai yang tidak-tidak”
Angin laut semakin dingin senja ini, rasanya ada yang lebih dingin, hatiku, juga hatimu. Kecemasan yang teramat sangat.
Besok aku operasi, yang ke tiga kalinya.
Kamu menemaniku yang ketiga kalinya juga. tidak, bahkan kamu menemaniku di setiap harinya, sejak kita berseragam putih biru.

~

“Selepas wisuda aku langsung melamarmu”
“Kamu takut aku mati yaaa” selorohku
“Aku ga becanda”
“Hmm kita kan belum kerja”
“Emang ga bisa nyari?”
“Hmm” aku tersenyum di bawah pohon, di depan perpustakaan nasional kota
“Aku akan menjaga kamu sampai entah, sampai selamanya, entah selama apa”
“Kenapa kamu begitu mencintai aku?”
“Karena kamu juga mencintai aku”
“Aku tidak mencintai kamu, tapi sangat mencintai kamu”
“Jangan berlebihan, aku takut disengaja atau tidak akan menyakitimu”
“Aku tidak pernah sakit, selama ada kamu”
“Aahh” sekali lagi kau rengkuh kepalaku merebah di bahumu.
“Rambutku sudah mulai rontok”
“Besok juga tumbuh lagi”
“Kalau enggak”
“Aku juga akan habiskan rambutku”
“Botak?”
“Iyaa”
“Haha, jangan ah, jelek.”
“Yang penting pacarku cantik”
“Dih”

~

November 2011

Ibuku memeluk haru, ayahku juga, kakak-kakakku, kakak-kakakmu, ibu dan ayahmu pun sama terisak. Aku diserahkan sepenuhnya menjadi sebagian dari hidup kamu.
Sebulan setelah wisuda.

~

Kita lebih memilih tinggal di rumah mungil pinggir laut, katamu suka laut, padahal aku tidak. Tapi semenjak bersamamu, rasanya aku lebih memilih memaksa suka.

~

Desember 2014

“Dingin, masuk aja yuuk”
“Sebentar, mas. Sebentar lagiii aja”
“Dek”
“Aku takut setelah besok, kita tidak bisa duduk berdampingan berdua. Aku takut setelah besok, mas duduk berdua dengan wanita yang bukan aku, di sini”
“Dek”
“Ini tempat dudukku, di samping ini tempat dudukmu. Andai kalau setelah besok aku ga ada, dan ada wanita yang menggantikan aku. Mas cari tempat duduk lain, jangan di sini.”
“Dek”
“Andai besok operasiku gak berhas..”
“Cukup, kamu akan tetap ada dekat aku. Ini tempat dudukmu, tidak ada yang akan pernah menggantikan. Aku akan menjaganya sampai entah. Aku akan memastikan operasimu baik, kamu akan sembuh. Kita akan tua di bangku ini. Sampai mati, dek”
“Kalau tidak”
“Aku tidak suka kata-kata seandainya”
“Mas”
Sampai matahari dipaksa ditenggelamkan laut, kamu masih setia memeluk erat tubuh lemah berbalut kain lembut merah jambu warna kesukaanku. Air matamu jatuh satu satu, menimpa dahi dan bercampur dengan air mata di pipiku.

~

Januari 2015

“Mas”
“Dek, kamu bangun.”
“Aku haus”
“Sebentar, mas ambilkan”
Air sejuk perlahan masuk ke tenggorokanku, dingin.
Dua dokter berpakaian putih bersih masuk dan tersenyum
“Operasinya jam lima sore mas”
“Lakukan yang terbaik dok”
“Mungkin akan memakan waktu lama. Sampai besok pagi”
“Apapun, lakukan yang terbaik”
“akan kami usahakan” dokter yang berusia sekitar 40an tersenyum menguatkan, cantik.

~

“Kamu kuat ya, sayang”
“Kita akan berpisah lama, mas”
“Enggak, cuma sampai besok pagi. Mas pastikan menjadi orang pertama yang kamu lihat saat membuka mata.”
“Kalau aku gak pernah bangun lagi”
“Ssttt” kamu memelukku erat, sangat erat.

~

“Aku mencintaimu mas, sangat”
“Aku juga mencintaimu, dek. Sangat”

Perlahan pintu ruang operasi ditutup, sepasang matamu masih bisa kulihat, hangatnya masih bisa kurasakan. Bahkan sampai aku berada di ruang gelap tanpa cahaya apa-apa, bahkan suara beberapa dokter yang hendak merobek-robek isi kepalaku pun perlahan menghilang.

~

Januari 2020

“Aku mencintaimu, mas. Sangat”
“Jangan berlebihan, aku takut sengaja atau tidak akan menyakiti perasaanmu”
“Aku tidak akan pernah sakit, selama ada kamu”
“Kamu wanita kuat”
“Kamu, lelaki terhebat”

Mas?
Tidak ada jawaban.

Maas...
Suaraku semakin parau, pelan. Aku menutup mulutku, air mataku jatuh satu satu. Tak lagi bersatu dengan air matamu. Katamu tidak akan membiarkan aku sendirian, katamu akan menjagaku sampai entah.

~

Januari 2015

Samar, ku lihat ibuku menyeka air matanya.
“Jangan dulu bicara apa-apa, kondisinya masih sangat labil”
“Iya dokter” suara ibu pelan, sangat pelan
“Maass”
“Aahh, syukurlah. Anakku, ya Tuhaan”
“Ibu, mana suamiku?”
“Kamu sudah sadar, nak”
“Mana Mas Dio bu?”
“Sebentar lagi datang, Nak. Dia pergi sebentar, mau ngambil baju ganti buat kamu”

~

Sebentar lagi?

Kankerku berhasil diangkat Mas, Aku tidak sakit lagi. Tapi kamu memilih tidak tahu. Meninggalkanku lebih dulu.

Aku rindu. Dan aku akan selalu ingat bahwa kau suami terbaik.
Kau yang selalu menjaga, dari ketidakberdayaanku
Kau yang selalu menguatkan, dari ketakutanku
Kau yang selalu memberi, enggan menerima apapun.

Bahkan uang santunan orang kaya yang mobilnya menabrakmu di malam ku terbaring di ruang operasi, belum pernah ku sentuh.
Aku enggan menerima.
Nyawamu tidak bisa dibayar dengan angka ini.

~

Duduk di kursi ini memang nyaman, jauh dari keramaian. Aku menikmatinya, ini tempat dudukku. Seharusnya kamu ada di sisi sebelah kiri merengkuh bahuku, menatap laut yang awalnya aku takut. Menunggu matahari ditelan bumi, padahal ia masih ingin berlama-lama menyinari kebahagiaan aku mencintaimu.

Aku menyukai penantian dan sebuah kesetiaan. Aku akan terus mencintaimu secara berlebihan. Selamanya, entah selama apa. Air mataku jatuh satu satu. Sementara kelopaknya mulai mengatup, perlahan.

Samar, ku rasakan ada air mata lain yang menyatu dengan air mataku, hangat. Sehangat pelukanmu merebahkan kerinduanku.

"Ibuu... ayoo pulang"
Si kecil Meena merengkuh kesadaranku, kaki, rambut dan tangannya penuh pasir. Dia tertawa renyah, keceriannya yang membuat aku tetap hidup, meski ia tak pernah tahu sosok ayah, hanya aku yang dia kenal sebagai dunianya.

Matanya bulat, seperti kamu.

~end

7 Comments

  1. cerpennya bagus, mengalir rasanya ikut di dalam cerita sbg penonton he....he..

    BalasHapus
  2. gueh..taugueh...alus pisan!!

    BalasHapus
  3. Anggi: aakk makasih Nggie :*

    a Gun : tunggu ada yang lebih menarik, tentang 'kita' a, bhahakkkk

    BalasHapus
  4. Apa IYAH???..geuh tunggu..hahai

    BalasHapus
  5. Ayaaa... cerpen nya bagus banget.. w sampe ikut sedih..

    BalasHapus
  6. @kak Danie: hiks, aku juga sediih :'(

    @Irni: aaakkk muuchiehh Iiiirr :*

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: