27 Februari 2012

Pria Dini hari

23 February 2012
Selamat dini hari :) *tersenyum simpul semanis mungkin*
Tulisan Ini ku buat pukul tiga lebih tiga puluh tujuh pagi

Ketika sayup terdengar suara pria merdu patah-patah membaca ayat suci. Aku lirik jam, dan mengerutkan dahi “sepagi ini?” gumamku.

Aku terbangun dan penasaran, tak bisa tidur lagi dan tak melakukan apa-apa. Jam sahur belum lewat (kebetulan itu kamis) dan ada nasi serta sepotong ayam sisa tadi malam, ku makan saja. Sesaat setelahnya ku reguk susu hangat segelas sambil tetap menajamkan pendengaran akan suara merdu namun jauh. Lapat-lapat seperti dinaik turunkan oleh hembus angin, yang entah dari mana asalnya. Pelan.

Selesai membereskan bekas makanku, aku terduduk di tepian sisi kanan ranjang, terdiam sambil mengunyah beberapa batang coklat kiriman dari sahabat di Negara sakura, sana. Suara syahdu dan samar itu masih ada, pelan. Walau aku tak mengetahui entah milik siapa. Aku mengenal baik beberapa pria di lingkungan rumahku, ku eja satu persatu di otakku “ si A, bang B, mas C, pak D, om E, kang F, atau mungkin bung G…”  atau yang lain-lain, yang memiliki suara semerdu ini, di jam segini. Ku lirik jam weker imut merah jambuku, pukul 3:49. Ah, masih belum terlambat. Aku bergegas

Setelah salam terakhir, aku lupa, benar-benar lupa. Kapan suara itu menghilang, suara pria yang lirih membaca ayat suci Al Quran yang telah membangunkan lelapku itu lenyap. Ku coba mempertajam pendengaran seperti tadi, tidak ada. Hanya desir angin yang perlahan menyusup ringan memasuki jendela kamarku tanpa membawa suara merdu. Aku mendengus lembut, sambil berpikir keras siapa gerangan pemilik suara itu.

Berulang, di empat hari berikutnya setelah itu. Aku terbangun di jam yang sama, melakukan aktivitas yang sama dan mendengar suara yang sama. Entah, aku kurang paham atau memang pria itu bangun setiap malam. Karena aku hanya terbangun jam segini setiap dua kali dalam seminggu, dan seakan dituntun oleh suara merdu tersebut.

Itu dulu, saat aku masih duduk di sekolah menengah pertama. Hingga delapan tahun kemudian, di dini hari ke sekian aku terbangun di jam segini dalam seminggu dua kali seperti biasa. Suara itu masih tetap ada, walau kali ini hanya muncul dalam kenangan, tanpa terkuak misteri siapa sebenarnya pemilik suara syahdu yang setiap dini hari di dua hari dalam seminggu 
membangunkanku.

Atau memang dia tak pernah ada.

Share this

0 Comment to "Pria Dini hari"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan di sini: