28 Februari 2012

Ah, Kau imam yang menyebalkan

“Dindaa…! sstt, dindaa…!”
Aku menggeliat, membuka mata dan melihat sesosok pria tampan tersenyum tepat di depan wajah kantukku. Ku betulkan selimut dan berbalik membelakangi sosok pria tampan itu. Terdengar tawa lucu dan tepukan halus di bahuku.
“hey, dindaa. Sholat dulu yuuk”.
“ya ampun mas, jam berapa sih ini belum subuh, mana ujan lagi, dingin tauuuu”. Ku tutup wajahku dengan selimut tebal, berharap mas Yudha menyerah dan berhenti membangunkanku. Ternyata tidak berhasil, dia terus membujukku dengan halus.
“Looh, kok malah selimutan sih. Katanya mau makin disayang Allah, ini kan saatnya bercakap dengan_Nya. Kamu mau minta apaaa aja pasti Dia dengar, sayang.”
“mas, dingiin, masih ngantuk akuu”.
“Kalo abis ambil wudhu pasti gak ngantuk deh, apalagi selimutan pake mukena. Ayo Dindaa”
Bersungut, ku sibak selimut tebalku, masih manyun turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi. Mas Yudha tersenyum sambil merapikan sajadahnya.
Aku mengikuti gerakannya dengan masih terkantuk-kantuk, sesekali menguap dan sedikit menutupkan mata. Walau begitu aku masih sadar dengan gerakan sholat mengikuti mas Yudha hingga salam terakhir, aku mencium tangannya, seperti biasa dia lembut mengecup ubun-ubunku, menghangatkan dinginnya dini hari yang berasal dari ac kamar tidur kami. Mas Yudha masih berdoa lama lantas diteruskan dengan melantunkan ayat-ayat suci dengan suara merdunya seperti biasa, saat aku kembali tidur dan menutupi wajahku dengan selimut. Ku pandangi wajahnya yang bersih, halus dan tampan itu dari balik selimutku. Dia memandangku dan tersenyum manis sekali, suamiku. Aku membalas senyumnya malu-malu, sebelum akhirnya terlelap kembali. Sebelum alarm subuhku berbunyi.

Selepas subuh, mas Yudha seperti biasa berlari-lari kecil di sekitar komplek rumah, sementara aku mulai memotong-motong sayuran, dan membumbui ayam goreng tepung  kesukaannya. Sebelum semuanya siap, dia sudah kembali dan duduk di ruang tv sambil melemaskan kaki-kakinya.
“Ini kan libur mas” aku mengerlingkan mata sambil tersenyum penuh makna
“Iya, teruuus?” senyum suami tercintaku tak kalah manis, sambil mengambil segelas susu yang ku sodorkan.
“Mmm kita jalan-jalan yuuk, ke mana aja deh. Kalau mas kerja kan kita gak pernah punya waktu banyak buat jalan-jalan berdua”.  Suaraku mulai membujuk malu-malu
“Haha, kamu mau jalan-jalan kemana?” suamiku tanggap, tersenyum menatap wajahku.
Satu lagi yang aku suka pada sosoknya, setiap kali kita berdiskusi, sesepele apapun masalahnya mas Yudha selalu menanggapi serius, menatap wajahku tak pernah acuh. Sesibuk apapun mengurus pekerjaan ia selalu berhenti dan mendengarkan setiap permintaanku dengan senyum mempesonanya, ah imamku kau sungguh selalu membuatku jatuh cinta.

Akhirnya minggu ini kami sepakat jalan-jalan ke taman bacaan Depok, setelah aku dengan semangat mendaftar tempat-tempat jalan yang asik, dari taman hiburan yang ada di daerah Jakarta selatan dekat rumah kami, Jakarta Utara hingga kebun raya Bogor ku sebut. Tapi mas Yudha malah mengajakku ke taman bacaan Depok. Memperkenalkanku dengan beberapa rekannya yang merupakan pengurus taman bacaan milik mahasiswa-mahasiswa itu. Awalnya aku sempat gondok juga, niatku mau jalan-jalan ke tempat hiburan ke taman yang indah malah di ajak ke sini.
“Yang penting kan taman juga, dindaa” Ah, sial, senyumnya tidak bisa ditolak. Aku manut saja sambil cemberut seperti biasa sepanjang perjalanan.
“Tau gak, apa yang membuatku selalu jatuh cinta?”
Aku meliriknya setengah kesal
“Kalau kamu udah ngambek cemberut gitu, gak ada yang ngalahin cantiknya”.
“iiih maaasss…” ku cubiti dan ku pukul-pukul sampai dia minta ampun, mengusap-usapku gemas, dan marahku berubah tertawa puas, kekanak-kanakan. Dia selalu begitu, menyebalkan.

Ku betulkan jilbab merah jambuku sebelum turun dari mobil dan mulai mengikuti langkah mas Yudha menyusuri jalan kecil agak becek. Sesekali ku angkat rok panjangku ketika menginjak genangan air kecoklatan, sementara tanganku yang lain erat dituntun mas Yudha. Suamiku tampak ramah menyapa ibu-ibu dan anak-anak yang berlalu lalang di sepanjang jalan sempit ini. Aku ikut tersenyum seramah mungkin dan menegur mereka sebelum akhirnya sampai ke taman baca yang mas Yudha ceritakan.

Duh, aku terdiam mematung di depan rumah petak berbentuk kotak persegi bercat biru muda. Jauh dari layak untuk disebut taman bacaan. Hanya sebuah ruangan 4x4 meter yang dipenuhi rak-rak buku, tiga buah meja kecil dan bangku-bangku yang mengelilinginya. Ada beberapa anak yang sedang memilih-milih buku di dalam, sementara yang lain, ada yang tekun membaca tanpa menyadari kehadiran kami.
“Assalammualaikum”
“Waalaikumsalam Warahmatullah, ya Allah Yudha” seru seorang pria berbaju kemeja putih kotak-kotak menyambut kedatangan kami. Memeluk dan menepuk-nepuk punggung suamiku kencang tampak sangat akrab.
“Kemana aja kaaauuu? Sejak kabar terakhir menikah tak pernah sekalipun tampak lagi ke sini, ah kaauu.” Kali ini memukul bahu suamiku keras sekali
Mas Yudha meringis sambil tersenyum
“Oh, Assalamualaikum kak  eeemmm” dia terdiam
“Haura” Aku tersenyum
“Ahh ya kak Haura, duuuh maaf yaa ketika kalian menikah pas kebetulan aku pulang ke Medan, jadi gak sempat ketemu kita. Lagian mas Yudha gak pernah kemari lagi sejak menikah, sibuk kali rupanya haha”

Aku melihat-lihat isi taman bacaan, aku sesekali berbincang dengan anak-anak pembaca buku di sana. Semua buku disini gratis, siapa saja boleh baca. Bahkan, bang Amir yang barusan menyambut kami sering juga mengajarkan anak-anak sepanjang rel yang tak sekolah ini membaca, tidak hanya belajar tentang pendidikan umum, mereka juga mengajar mengaji dan membaca Al quran. Menurut ceritanya, taman bacaan ini dibangun berdasarkan keprihatinan mahasiswa-mahasiswa sekitar kampus. Prihatin karena banyak anak-anak dan remaja buta huruf juga tak paham agama. Salah satunya, adalah Yudha suamiku yang menjadi salah satu perintis pembangunan rumah baca ini. Aku mengangguk-angguk kagum, banyak yang tak ku ketahui dari suamiku sendiri rupanya. Entah memang pertemuanku yang singkat atau aku kurang perhatian, ah lain kali aku lebih banyak bertanya tentang imamku.
“Kok senyum-senyum sendiri?” mas Yudha sesekali menoleh ke arahku yang sedari tadi diam.
“Ah, hehe gak apa-apa kok”. Aku tertunduk malu dan sesekali mencuri pandang pada suamiku yang menyetir.

bersambung... :)

Share this

0 Comment to "Ah, Kau imam yang menyebalkan"

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan di sini: