Sepak bola sama dengan *PERSIB dan PERSIJA*

Menurutku sepak bola adalah dunia laki-laki, meski tak jarang wanita yang menyukainya. Tetap pakemnya, bahwa itu adalah dunia laki-laki. Dan pantang bagiku menyukai kesenangan yang lebih pada hobby laki-laki.
Aku terlahir sebagai anak emas, satu-satunya wanita yang paling cantik di keluargaku. Paling disayang dan diperhatikan. Apapun yang aku minta, selalu diberikan. Beruntungnya aku tidak pernah minta apa-apa yang berlebihan.
Terlahir sebagai wanita cantik tidak terlepas dari pembahasan hakikatku sebagai wanita anggun. Sejak kecil mereka (keluargaku) mendidik kedewasaanku menjadi pribadi yang lembut dan tenang. Tidak menyukai kekerasan dan bahasa maupun kata-kata yang kasar. Termasuk kesenangan-kesenangan dalam permainanku.

Berbicara mengenai sepak bola, aku pernah tersenyum ketika ada beberapa kawan yang bertanya. “Ay, kamu suka sepak bola?”
Sejak kecil fanatismeku tentang sepak bola yaitu bicara tentang Persib. Yang aku tau, sepak bola itu berarti Persib, belakangan baru aku tahu bahwa Persib adalah salah satu club sepak bola yang berasal dari Bandung. Aku juga tau bahwa Persib bermusuhan dengan club lain, khususnya club yang berasal dari kota tempatku tinggal, Jakarta (Persija). Aku juga tau dari cerita kakak laki-lakiku yang memang terlahir beratribut Persib. Aku tidak pernah bisa merasakan dendam yang bersarang diantara mereka (Pesib dan Persija), meski orang-orang disekitarku setiap saat mengobarkan kebencian mereka satu sama lain dengan sejuta alasan yang membuat mereka pantang berdamai, sementara aku tetap satu hati bahwa aku tidak peduli dan tidak mengerti. Pernah aku iseng mencoba menonon tayangan sepak bola, itupun di televisi. Tapi selama hampir 2 jam pertandingan aku tonton, selama itu aku tidak tau siapa lawan dan siapa kawan, bahkan gawang club yang aku jagokan ajah gak tau sebelah mana. Sejak itu aku memang mengukuhkan dalam hati bahwa aku memang tidak suka sepak bola.

Menurutku sepak bola adalah dunia laki-laki, meski tak jarang wanita yang menyukainya. Tetap pakemnya, bahwa itu adalah dunia laki-laki. Dan pantang bagiku menyukai kesenangan yang lebih pada hobby laki-laki. Rasanya aku merasa tidak lagi cantik, ketika harus berjingkrak bahagia ketika sang kiper lawan kebobolan gawangnya. Aku tetap lebih memilih menghiasi rambut barbieku dengan jepit berwarna warni daripada duduk sejajar dengan kakakku menyaksikan tayangan sepak bola.

Namun, beranjak dewasa. Ketika tuntutan karierku sebagai seorang reporter yang memaksa harus mengetahi dunia berita, apapun. Menjadikan aku mengerti dunia olahraga termasuk sepakbola. Tidak nyaman memang, karena tidak paham. Namun, mau tidak mau aku ikuti juga setiap beritanya. Sejak itu aku mulai jeli melihat apa-apa yang terjadi pada olahraga, sepak bola, dan pada Persibku dan Persijaku. Aku menyebut_ku karena berkeputusan untuk tetap tidak mau berpihak pada satu club. Aku memperhatikan apa yang mereka katakan dan slogankan. Salah satu yang kupetik adalah, ada satu nama hewan yang sangat terkenal di kalangan para suporter mereka, Viking (untuk Persib) dan The Jack (untuk Persija). Kata-kata itu tak asing kudengar dari bibir mereka. Ada banyak kata yang lebih kasar, yang kerap kujumpai dari tulisan, sticker, yang berbentuk cacian, hujatan dan saling menghujat dengan bahasa yang menurutku tidak pantas terlontar dari mulut orang-orang berpendidikan seperti mereka. Namun begitulah kenyataannya, begitu faktanya, yang membuat seakan-akan diskenariokan bahwa dua suporter club sepak bola terbesar di Indonesia itu terus bermusuhan hingga maut memisahkan.

Aku tidak bisa bicara meski hanya satu kata “damai” pada mereka, karena aku tau akibatnya. Jangankan aku berhadapan dengan jutaan manusia yang mendukung Persija, bicara pada kakakku saja, satu orang pendukung Persib aku tidak bisa.

Setiap hari aku ikuti berita mereka, dari blog, twitter, bahkan hingga updatean status facebook. Mengejutkan ketika salah satu tulisan ku baca, bahwa ‘permusuhan’ diantara mereka sebenarnya adalah ladang uang bagi para petinggi sepak bola, entah apa alasannya. Andai permusuhan itu didamaikan, mungkin mereka akan miskin. Aku juga pernah mendengar seloroh kakakku, “kalo Persib dan Persija akur, baju gak ada yang laku.” Agak sedikit berpikir, tapi aku mengangguk juga. Sulit memang

Aku yakin, sudah banyak individu atau instansi yang berpikiran untuk mencari jalan damai bagi dua suporter tersebut. Namun, entahlah mungkin memang naskah yang dituliskan untuk hubungan ‘mereka’ tidak akan diakhiri dengan jalan damai. Kecuali, sang penulis skenario takdir membelitkan jalan cerita menjadi sesuatu yang menarik dengan tetap tidak menghilangkan tokoh utama dari mereka, bisa saja, semua suporter club sepak bola pria menikah dengan suporter sepak bola wanita dari pihak musuhnya. Mau tidak mau, akan damai dengan sendirinya, minimal masing-masing bisa menghormati mertua mereka, kan?

Andai aku yang ditakdirkan sebagai penulis naskah untuk mereka mungkin aku punya cerita menarik untuk mengakhiri cerita (Persib dan Persija).

Hanya sekedar catatan tidak penting.

5 Comments

  1. ga bisa akur sampe kiamat kayanya..^-^

    BalasHapus
  2. qm hebat dalam menulis naskah, COBA menuliskan akhir dari cerita ini karena manusia diakhirnanti akan bersatu tanpa adanya perbedaan, mungkin saja naskah skenario qm bisa menghasilkan perbedaan...

    BalasHapus
  3. sayangnya,, mereka (persib dan persija) tak mau melirik naskahku :((

    BalasHapus
  4. susah ay...

    kalo damai ISL moal rame...

    akakakakakakakak

    BalasHapus
  5. Kalau hanya mngobarkan rivalitas antar team sih sah2 aja kayaknya,baru kalo rivalitas itu menggunakan kekerasan dan mnjatuhkan korban,,itu baru salah.masa' seru kalo liat sepakbola nggak ada teckling keras rada sengaja gitu,ehm kayaknya nggak seru deh..

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: