Cerpen: GW BENCI SEPAK BOLA

Aku benci sepak bola, kata-kata ini sudah mengakar di lubuk hatiku yang paling dalam. Apapun namanya, dari club manapun, dari kota manapun, seganteng apapun pemainnya aku tak peduli.
“Gw benci sepak bolaaaaaaaaaa............!” teriakku kencang, menerbangkan kantuk Kori, salah satu temanku yang bertubuh kurus itu.


“Apa-apaan sich Tha, gak tau gw ngantuk apa. Iseng banget sich.” Dengan muka masam, Kori bersungut-sungut pindah tempat duduk dan melanjutkan kembali kantuknya  di bawah pohon. Aku masih kesal, ku dekati Kori dan menepak bahunya hingga ia gelagapan.
“Ray, GUEEEE BENCI SEPAK BOLAAAA....!” nadaku menjerit di kupingnya dan berlari masuk ke dalam kelas.
“Methaaaaaaaaaaaaa,,,”
Aku tergelak.
Hi, namaku Metha Salsabilla. Siswa SMA yang biasa-biasa aja di kota besar ini, Jakarta. Bukan sekolah favorit, juga bukan sekolah unggulan, tiap lomba kebersihan antar provinsi juga tidak pernah menang. Yaa sekolah yang biasa-biasa aja. Siswanya pun biasa, tidak semua naik mobil dan memakai sepatu bermerk. Satpam sekolah juga gak galak, tapi baik juga enggak, pokoknya biasa aja. Intinya, tidak ada yang special, tidak ada yang perlu diceritakan apalagi dibanggakan. Mmm, mungkin pendidikan agamanya saja yang menurutku agak lebih (lebih dari pelajaran yang lain). Semua siswa perempuan wajib mengenakan rok panjang dan jilbab, kalo keliatan bajunya agak ketat langsung pak Sam, guru BP sekolahku sibuk mencari gunting dan menyobeknya. Aku siswa kelas 2 (kelas XI untuk zaman sekarang). Tidak termasuk siswa yang cerdas, tapi juga tidak bodoh. Tapi untuk soal debat apalagi agama dan sastra memang aku tidak ada duanya (di sekolah ini doang).

Asalku dari Malang, tapi sekolah di Jakarta, aku kost dan bekerja sebagai kuli tinta alias wartawan kontrak di salah satu majalah islam. Lumayan, untuk biaya kost dan makan. Sementara untuk biaya sekolah, aku mengandalkan dari penjualan kue-kue kering buatanku yang tiap hari ku titip di warung. Orang tuaku di kampung, punya ladang yang luas, sebenarnya cukup untuk membiayaiku sekolah, tapi ku pikir uangnya ditabung saja, takut uangku tidak cukup buat kuliah nanti. Orang tuaku meng’iya’kan saja. Aku termasuk gadis mandiri dan bertanggung jawab, meski kadang teman-temanku mengajak nongkrong-nongkrong, mejeng di mall seperti remaja pada umumnya, aku selalu menolak, alasanku sibuk, mereka tau. Kadang aku benci mereka, yang seenaknya saja menanggalkan kerudungnya di luar sekolah. Berarti pakai jilbab hanya untuk sekolah, kalau di luar mah terserah. Lho, apa maksudnya? Tapi untuk hal ini aku tak bisa protes, toh itu sudah jadi pilihan hidup mereka. Mereka sudah dewasa, masa iya aku yang harus menceramahi. Yang penting, aku tidak melakukannya, kemana-mana aku mengenakan busana islam kebangganku ini. Walau rokku sudah agak lusuh dengan kaos kaki yang sudah tipis dibagian tumit, ah sudah saatnya kuganti.

Aku benci sepak bola. Sejak kecil, sejak dilahirkan. Entah apa sebabnya, padahal kakak laki-lakiku yang di kampung, bapakku, tetanggaku, semua suka sepak bola. Bahkan tak jarang kawan sekolahku perempuan juga ikut-ikutan gandrung pada olahraga itu. Aku tak habis pikir, apa yang mereka sukai. Aku benci pemainnya, aku benci pendukungnya, bahkan aku juga benci pada bolanya.

Teriakan-teriakan kecewa dan bahagia memecahkan gendang telingaku. Aku benar-benar tak konsentrasi menulis naskah hasil wawancara siang tadi dengan salah satu artis yang belakangan mengenakan jilbab cantiknya. Padahal naskah itu harus selesai setengah jam lagi, karena jam 12 aku harus tidur, sebelum jam 4 aku terbangun membuat kue-kue yang ku titipkan di warung bu Darsem. Aku mengencangkan alunan musik yang kudengar di earphone, berharap bisa meredam nada riuh penonton sepak bola yang sedang nobar di depan kost-kostan ku.
*
Terik mentari siang ini seolah menghanguskan ubun-ubunku, sudah hampir satu jam aku duduk di bawah pohon di tepi jalan ini menunggu salah satu kawanku. Kori, sahabat setiaku asyik membaca komik dengan kacamata menempel di kedua matanya seolah tak mempedulikan garangnya mentari, sesekali ia tersenyum jika yang ia baca menurutnya lucu.
“Ray, iwan jadi dateng gak sich?” dengan nada bimbang aku bangkit berdiri.
“Hmmm...!” Kori mengangguk sambil matanya tak berpaling dari komik yang ia baca.
“Kita udah hampir satu jam nunggu Raayy.” Aku mulai kesal “Bisa kesorean nanti, kita jalan aja yuuuk.”
“Tha, yang tau temptnya tuch Iwan, kita mau jalan kemana? Tenang dech, namanya juga Jakarta, nunggu satu dua jam mah biasa.”
“Lo yakin, udah sms dia?”
“Udah. Tapi... belum terkirim” ia tersenyum bersalah setelah memeriksa berita terkirimnya
“Hah? Maksudnyaaa...? jangan gila dech Ray, jangan-jangan Iwan lupa, atau...”
“Iya, iya gw telphon.” Kori mulai kesal juga
Setengah jam kemudian
Tiiiiinnn,, tiinnn.. bunyi klakson mobil Iwan.
“Maaf, tadi abis nonton sepak bola dulu, jadi gak denger lu telpon.” Nyengir.
*
Itu hanya sebagian cerita kecil tentang kegiatan-kegiatanku terhalang karena sepak bola. Aku semakin membencinya. Bagaimana bisa, dia lebih mementingkan pertandingan daripada tugas sekolahnya, aaahhh aku kesal.
Aku muak melihat remaja-remaja pria dan wanita yang mungkin baru berumur 6 hingga 13 tahun berdiri joged joged di atas atap metromini dengan pakaian yang Masya Allah tak layak dikenakan oleh makhluk yang bernama manusia beragama. Rambut acak-acakan, rok dan celana bayi, baju sengaja dibuka kerahnya memamerkan dada dan bahu, sepatu dekil, topi-topi kebanggaan berbalut syal dilehernya, ada yang berpelukan di atas-atas motor bernyanyi mars club kesayangan di sepanjang jalan. Belum lagi pulang dengan lemparan batu dan ucapan-ucapan kotor yang terlontar dari mulut-mulut kecil itu. Belum cukup umur bahkan. Naudzubillah ingin muntah rasanya. Awalnya aku tidak peduli, bahkan sempat juga sesekali menonton tayangan yang menurutku bisa merubah tingkah laku peminatnya. Tapi lama-lama setelah melihat kelakuan suporter dengan kelakuannya, tak dapat dibendung lagi rasa benciku pada olahraga ini.

Bagaimana bisa seorang wanita berjingkrak diantara ribuan pria yang tak dikenalnya, menyentuh dan menyenggolnya. Bagaimana bisa mulut-mulut para pelajar itu mengeluarkan kata-kata kotor berbau sampah dari bibir mulianya. Wajah cantik kelihatan liar, yang tampan keliatan sangar, yang berpendidikan seperti tak punya otak, wanita anggun mana yang kelihatan santun jika sudah berteriak-teriak. Tak ada simpatik sama sekali pada mereka, aku menghujat, benar-benar menghujat. Seperti mereka yang juga tak mempedulikan suaraku. Tak peduli, aku juga tak ingin di dengar. Tiap kali mendengar terompet-terompet pertandingan di mulai, darahku mendidih benci, ingin rasanya membanting televisi warga yang selalu menayangkannya di lapangan depan kost-kostan. Kalau sudah begitu, maka aku menghidupkan musik keras-keras atau tidur.
*
Aku sudah tak peduli, saking seringnya. Biarkanlah, toh mereka tak menggangguku. Akupun tak mengganggu mereka. Aku hanya benci sepak bola, dan itu prinsipku, kita tidak boleh saling mengganggu, bukan begitu? Baru separuh aku menulis artikel untuk diterbitkan, ketika tiba-tiba...

“Praaangggg........!”
Aku tersentak, bangkit dari kursi keluar kamar dan melihat kaca rumah kostku pecah, dan ada bola menggelinding ke arah kakiku. Beberapa anak di luar berdiri mematung di tengah lapangan. Aku tersenyum, bibirku bergetar, air mataku hampir tumpah, namun mengingat kesantunanku sebagai wanita muslimah hanya hatiku yang menjerit “GW BENCI SEPAK BOLAAAAAAAAAAAAAAAAAA.....!”.

3 Comments

  1. Why ?? because soccer makes you remember me ?? please, don't make a judge for something that you can not understand. Please, love soccer and give your vote to our national team because they need you so much

    BalasHapus
  2. Setuju Non,sangat sangat benci Bola,tidak perlu alasan untuk membenci sesuatu,yg jelas gk suka titik alias teu beuki ,mun sia beuki eta urusan sia .....tong loba bacot deleh we ku sia...hanya orang tolol yg mengatas namakan nasiaonalisme untuk sebuah hobi iseng ..fuck for soccer shit...

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan pesan di sini: